Tidak semua org pandai membahasakan apa yg ada di pikiran menjadi sebuah tulisan berarti.
Musisi mengungkapkan perasaanya, menuangkan cerita hidupnya menjadi lirik lagu dengan nada yg indah...
Penulis menyatakan perasaannya, menceritakan setiap penggalan kisahnya melalui cerita narasi dan bait puisi yg di ungkapkan dengan penuh makna di dibalik setiap kata...
Mereka bisa menciptakan kisah skalipun itu tak ada dalam kenyataan..
Mereka merasa hidup oleh cerita yg ia ciptakan sendiri...
Setiap kata yg mereka tuliskan adalah apa yg hati ingin ungkapkan namun mulut terlalu kaku untuk mengutarakannya..
Mereka... meskipun tak punya teman untuk bercerita tetapi selalu ada pena yg seakan menunggu untuk di gerakkan.. selalu ada buku yg seakan setia menampung setiap cerita...
Jumat, 11 Desember 2015
Coretan Bermakna
Kamis, 10 Desember 2015
Pada Cinta
Pada Cinta yang hadirnya tak ku sangka
Yang entah bagaimana ia merasuk ke jiwa
Akankah ia terus abadi
Meski yang dijalani tak pasti
Pada sang Maha Cinta yang menciptakan Cinta
Pada yang Berkuasa yang telah menghadirkan Cinta
Akankah ia Cinta yang selama ini ku tunggu
Akankah ia Cinta yang tercipta memang untukku
Pada Cinta yang telah membuatku Gila
Merasakan sesuatu yang tak pernah ku mengerti
Pada Cinta yang wujudnya tak nyata
Hanya mampu kurasa ketika ia hinggap di hati
Pada Cinta yang meyebabkan rasa cemburu
Jika ia terlalu menyiksaku
Hilanglah ke tempat yang tak ku tau
Jangan memaksaku mengusik masa lalu
Pada cemburu yang hakikatnya menyakitkan
Jika itu bukan masa yang harus ku permasalahkan
Jangan biarkan aku terganggu
Oleh sesuatu yang bukan hak ku
Pada Cinta yang menumbuhkan rasa Rindu
Yang keberadaannya terkadang menusuk
Jika ia sudah terlalu mendalam
Berikan sedikit ruang untukku menggenggam
Pada Rindu yang bagaikan daun jatuh
Semakin lama semakin menumpuk
Jika perasaan hanya terus tersimpan
Tersiksa terdiam sendirian
Pada Cinta yang kadang menyisahkan luka
Jika ia tinggal hanya membuat air mata
Lepaskan ia mencari hati yang terbuka
Tapi jika hadirnya memberi banyak tawa
Biarkan ia tinggal mengukir pelangi di jiwa
Pada Cinta yang terbawa oleh angin
Datang padanya terpa ia dengan kesejukan
Sampaikan bahwa aku mencintainya
Sampaikan bahwa aku ingin bersamanya
Pada Cinta yang kumiliki saat ini
Lukis hariku dengan tinta warna warni
Jaga Kepercayaan yang ku beri
Hargai kesetiaan yang kumiliki
Yang entah bagaimana ia merasuk ke jiwa
Akankah ia terus abadi
Meski yang dijalani tak pasti
Pada sang Maha Cinta yang menciptakan Cinta
Pada yang Berkuasa yang telah menghadirkan Cinta
Akankah ia Cinta yang selama ini ku tunggu
Akankah ia Cinta yang tercipta memang untukku
Pada Cinta yang telah membuatku Gila
Merasakan sesuatu yang tak pernah ku mengerti
Pada Cinta yang wujudnya tak nyata
Hanya mampu kurasa ketika ia hinggap di hati
Pada Cinta yang meyebabkan rasa cemburu
Jika ia terlalu menyiksaku
Hilanglah ke tempat yang tak ku tau
Jangan memaksaku mengusik masa lalu
Pada cemburu yang hakikatnya menyakitkan
Jika itu bukan masa yang harus ku permasalahkan
Jangan biarkan aku terganggu
Oleh sesuatu yang bukan hak ku
Pada Cinta yang menumbuhkan rasa Rindu
Yang keberadaannya terkadang menusuk
Jika ia sudah terlalu mendalam
Berikan sedikit ruang untukku menggenggam
Pada Rindu yang bagaikan daun jatuh
Semakin lama semakin menumpuk
Jika perasaan hanya terus tersimpan
Tersiksa terdiam sendirian
Pada Cinta yang kadang menyisahkan luka
Jika ia tinggal hanya membuat air mata
Lepaskan ia mencari hati yang terbuka
Tapi jika hadirnya memberi banyak tawa
Biarkan ia tinggal mengukir pelangi di jiwa
Pada Cinta yang terbawa oleh angin
Datang padanya terpa ia dengan kesejukan
Sampaikan bahwa aku mencintainya
Sampaikan bahwa aku ingin bersamanya
Pada Cinta yang kumiliki saat ini
Lukis hariku dengan tinta warna warni
Jaga Kepercayaan yang ku beri
Hargai kesetiaan yang kumiliki
Rabu, 02 Desember 2015
Dear Alayku
Dear Alayku...
Maaf kalau aku udah buat kamu sedih
Maaf udah buat kamu merasa bersalah
Maaf udah buat kamu bilang "maaf" berkali kali untuk satu hal yang bukan kesalahan kamu
Dear Alayku...
Aku mungkin bukan orang yang bisa ngungkapin perasaan secara langsung
Tapi satu hal yang kamu harus tau,
Aku sayang sama kamu lebih dari yang kamu tau..
Kalau kamu mikirnya aku cuek.. Salah, aku emang orangnya kayak gini
Bukan seseorang yang pandai memperlihatkan kepeduliannya
Bukan orang yang pandai memperlihatkan perhatiannya
Tapi satu hal yang kamu harus tau
Aku peduli, aku perhatian, lebih dari yang bisa aku tunjukkan
Dear Alayku...
Kalau kamu sempat berfikir aku bakal ninggalin atau aku selungkuh dari kamu,
kamu buang jauh-jauh pikiran itu
Selingkuh dari kamu ajah aku gak pernah punya niat apalagi ninggalin kamu.
Maaf kalau aku udah buat kamu sedih
Maaf udah buat kamu merasa bersalah
Maaf udah buat kamu bilang "maaf" berkali kali untuk satu hal yang bukan kesalahan kamu
Dear Alayku...
Aku mungkin bukan orang yang bisa ngungkapin perasaan secara langsung
Tapi satu hal yang kamu harus tau,
Aku sayang sama kamu lebih dari yang kamu tau..
Kalau kamu mikirnya aku cuek.. Salah, aku emang orangnya kayak gini
Bukan seseorang yang pandai memperlihatkan kepeduliannya
Bukan orang yang pandai memperlihatkan perhatiannya
Tapi satu hal yang kamu harus tau
Aku peduli, aku perhatian, lebih dari yang bisa aku tunjukkan
Dear Alayku...
Kalau kamu sempat berfikir aku bakal ninggalin atau aku selungkuh dari kamu,
kamu buang jauh-jauh pikiran itu
Selingkuh dari kamu ajah aku gak pernah punya niat apalagi ninggalin kamu.
aku bukan tipe orang yang kayak gitu...
aku kalau udah suka sama satu org,
gak akan ngelirik org lain lagi.
Aku gak mungkin sebodoh itu
Menyia-nyiakan Anugrah Terindah yang pernah kumiliki
Hadiah terbaik yang Tuhan kasih ke aku.
Aku gak mungkin sebodoh itu
Menyia-nyiakan Anugrah Terindah yang pernah kumiliki
Hadiah terbaik yang Tuhan kasih ke aku.
Aku mungkin bukan org yg se serius kamu...
Tapi aku gak pernah main2 sama perasaan..
Aku juga serius walau kelihatannya aku bukan tipe org yg serius...
Kalau kamu mikir aku gak sayang sama kamu
Aku gak bahagia sama kamu..
Kamu salah...
Kalau aku gak sayang gak mungkin aku tiap hari bilang syg terus ke kamu..
Kalau aku gak bahagia gak mungkin aku masih sama kamu sampai sekarang
Dear Alayku...
Kalau aku gak ngabarin kamu
Bukan berarti aku gak nyariin kamu...
Aku cuman gak pengen ganggu kegiatan kamu
Dan cuman nunggu sampai kamu yang ngabarin aku duluan
Kamu pasti gak tau kan betapa khawatirnya aku pas kamu lama banget ngasih kabarnya??
Yaiyalah kamu gak tau, kan aku gak pernah bilang :p
Aku yg sebenernya khawatir.. dan baru legah pas aku udah liat incoming call dari kamu.
Walaupun lagi2 kamu nganggep itu cuek.
Dear Alayku...
Setiap goresan huruf yang tangan aku ciptain,
Ungkapan ini bukan sekedar gombalan..
Tapi ini apa yang hatiku mau ungkapin ke kamu
Tapi mulut aku terlalu kaku untuk mengatakannya.
Always Keep The Faith
Alayku...
Cinta Gilaku...
Oktober ku ({})
Minggu, 29 November 2015
Kangen Masa SMA
Masih belum bisa move on dari masa SMA.. Mungkin krn terlalu banyak kenangan.. atau terlalu banyak kesalahan yg harus di perbaiki.. Entahlah, tp skrg rasanya itu cuman lagi libur dan suatu saat bakal balik skolah... Ingatan aku yg memakai seragam, berlari di koridor sekolah.. Jalan sama temen2.. Terlambat,, di hukum, kena marah, tugas gak selesai, ulangan nilainya jelek, kejar2an di lapangan skolah.. Foto2, seru2an bareng, becanda, gila2an bareng, ngerusuh.. Trus bertengkar, marahan, nangis.. Semuanya masih terasa banget... Gak pengen jadiin smw itu kenangan... Masih pengen ngelakuin kegilaan2 yg dilakuin anak SMA.. Msh pengen bolos.. Masih pengen duduk di kelas, masih pengen tiduran di kelas, masih pengen semuanyaaaa _
kangen sama ruang kelas, kangen sama ocehan guru2, kangen sama sekolah, kangen sama temen2... Kangen make seragam... kangen semuaaaanyaaaa :'(
kangen sama ruang kelas, kangen sama ocehan guru2, kangen sama sekolah, kangen sama temen2... Kangen make seragam... kangen semuaaaanyaaaa :'(
Dulu pas masih sekolah, aku sering denger, sering baca kalau masa paling Indah dalam hidup itu masa-masa SMA, putih abu-abu yang gak akan pernah bisa terlupakan, dan emang bener, aku udah ngerasain sendiri hal itu. Saat itu, kita ngelakuin banyak kesalahan-kesalahan dan baru akan sadar setelah kita flashback ke masa itu. Saat itu kita ngelakuin banyak kebodohan-kebodohan dan akan sangat merindukannya ketika kita tidak bisa mengulang moment itu lagi. karena moment yang telah berlalu, meskipun diulang tidak akan pernah sama lagi. saat itu kita gak sadar kalau kita udah buat kenangan yang indah banget, kita taunya dulu tuh cuman having fun. Rasanya pen nangis pas inget semuanya, canda tawa di kelas, kita yang kadang berantem, dihukum bareng-bareng, buat guru marah, paling seneng pas guru gak masuk, tapi paling males kalau gurunya dateng on time tapi keluarnya over time. Kekompakan pas ulangan, bahkan kesannya ulangan itu bukan uji kemampuan tapi uji solidaritas. aku ingin kembali kemasa itu, memperbaiki semua kesalahan yang membuat kita saling melupakan, aku ingin mengulang semua kegilaan yang pernah kita lakukan.
Sabtu, 21 November 2015
[Fiction Story] "Stasiun Kereta"
Libur
panjang telah tiba, beberapa anak sekolah pasti sudah mempersiapkan rencana
liburan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Iren, murid di salah satu SMA
yang kini duduk di bangku kelas 2 sudah merencanakan liburannya di jauh-jauh
hari. Ia akan berlibur ke Bandung sendirian tanpa orang tua nya. Liburan ini
telah lama di idam-idamkan oleh Iren tapi orang tuanya tidak pernah memberi
izin, namun tahun ini Iren bersikeras agar orang tuanya memberi izin.
"Ma.. Pa.. aku udah 17 Tahun.. masa Mama sama Papa belum bisa percaya sih
kalau Iren bisa mandiri" itulah kata yang di ucapkan Iren kepada orang
tuanya. Karena Iren terus merengek, orang tuanya pun kasihan hingga akhirnya
memberi izin kepada Iren tapi dengan catatan, HP Iren harus selalu aktif. Iren
pun mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa nantinya. Esok hari
pun tiba, Iren sudah siap-siap untuk berangkat, tapi tiba-tiba saja Ibunya
minta di antar ke pasar karena sebentar siang akan ada arisan di rumahnya.
Tentu saja Iren menolak karena sebentar lagi kereta yang akan di tumpanginya
akan berangkat. Tapi Ibunya mengancam jika Iren tidak mau, maka Ibunya akan melarang
Iren pergi berlibur, dengan wajah yang cemberut ia pun menemani Ibunya ke
pasar. Iren hampir kehilangan kesabaran menunggu Ibunya yang belanja terlalu
lama. Beberapa saat kemudian Ibunya pun muncul, begitu Ibunya naik ke mobil
Iren langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat hingga Ibunya protes tapi
Iren tidak peduli dengan ocehan Ibunya dan akhirnya ia pun sampai di rumahnya.
Dengan sangat terburu-buru ia mengambil barang-barangnya dan tak sadar ia lupa
mengambil ponsel miliknya. Ia lalu ke stasiun mengendarai Taksi. Ketika sampai
di stasiun, ia berlari dengan kencang, namun sialnya ia menabrak seseorang
hingga barang bawaannya berhamburan. Sebelum ia selesai membereskan
barang-barangnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang akan menuju Bandung
telah berangkat. Iren pun hendak berlari mengejar kereta itu, namun sialnya
lagi seorang pemuda menabraknya dari belakang dan membuat barang-barangnya
kembali berjatuhan.
"aduh
maaf mbak.. saya buru-buru.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi.
Tapi Iren menarik baju pemuda itu menahannya untuk tidak pergi. "Mas
bantuin saya dulu dong ! barang-barang saya jatuh gara-gara Mas nabrak
saya!" kata Iren sedikit kesal.
"tapi
saya lagi buru-buru mbak. Itu keretanya udah berangkat.." kata pemuda itu
lalu hendak berlari lagi, namun lagi-lagi Iren menahannya. "emang Mas
doang yang ketinggalan kereta! Saya juga!" kata Iren. Akhirnya pemuda itu
mau membantu Iren walaupun sedikit protes. Setelah itu Iren menuju tempat
penjualan tiket, pemuda itu ikut di belakang Iren. Iren lalu bertanya kepada
pemuda itu kenapa ia mengikutinya. Pemuda itu kemudian menertawakan Iren karena
pemuda itu bukan mengikuti Iren melainkan ia juga ingin membeli tiket. Iren pun
tampak malu dan berjalan lebih cepat mendahului pemuda itu. Masih ada satu
kereta yang akan ke Bandung tapi kereta itu akan berangkat pukul 2 siang
sementara sekarang masih pukul 10 pagi tapi keduanya tetap mengambil tiket itu
dan memutuskan untuk menunggu di stasiun itu. "mau ke Bandung juga?"
tanya pemuda itu. Iren hanya mengangguk. "sama dong.. tapi ini pertama
kali saya ke Bandung loh..." ucap pemuda itu yang tak di respon oleh Iren.
Pemuda itu lalu tertawa garing. "gak penting ya?" tanya pemuda itu
yang lagi-lagi tak di respon oleh Iren. Pemuda itu pun beranjak pergi tapi
beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa makanan. Ia menawarkan makanannya
untuk Iren tapi Iren menolaknya. "kamu gak lapar? Atau kamu takut saya
racuni? Saya bukan orang jahat kok..
atau jangan-jangan kamu Cuma gengsi lagi.. gengsi itu sering
menghancurkan segalanya loh.." kata pemuda itu yang terus mengoceh
sendiri. "Mas gak capek ngomong sendiri?" tanya Iren tiba-tiba.
"nggak..." jawab pemuda itu. "kalau saya sih capek.. capek
denger Mas ngoceh terus.." kata Iren yang membuat pemuda itu terdiam. Setelah
beberapa lama menunggu kereta yang mereka pun datang, mereka naik bersamaan
hingga sempat saling berdesakan di pintu, lalu mereka duduk bersebelahan. Iren
tampak tak suka duduk disebelah pemuda itu, sementara pemuda itu terlihat
biasa-biasa saja. Selama perjalanan Iren tertidur, bahkan ia tak sadar
bersandar di bahu pemuda itu. Untung saja pemuda itu mau menahannya. Tapi
ketika Iren terbangun, ia malah marah kepada pemuda tersebut dan menganggap
pemuda itu tidak sopan padanya. Pemuda itu menjelaskan kalau ia sama sekali
tidak meneyentuhnya, ia hanya kasihan melihat Iren yang terlihat lelah.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, semua penumpang
berdesakan turun dari kereta, ketika telah turun dari kereta, seseorang dengan
sengaja menubruk pemuda itu dari belakang hingga pemuda itu juga menubruk Iren
yang ada di depannya. Pemuda itu langsung memeluk Iren agar Iren tidak jatuh.
Iren yang kaget langsung mendorong
pemuda itu dan memarahinya. Pemuda itu ingin menjelaskan tapi Iren tidak
memberinya kesempatan dan langsung pergi. Tidak lama setelah itu, Iren
menyadari kalau ponsel nya tidak ada, ia langsung mengira kalau pemuda itu yang
mengambilnya karena sejak tadi ia hanya bersama pemuda itu. Iren langsung berlari
mencari pemuda itu, tentu saja dengan susah payah karena ia berlari dengan
membawa koper. Pemuda itu hendak naik ke taksi, namun tiba-tiba Iren datang dan
menahannya pergi. "Mas... Mas tunggu Mas.. aduh namanya siapa lagi.. Mas
jangan pergi dulu" teriak Iren sambil berlari menghampiri pemuda
itu."aduh.. nama kamu siapa sih?" tanya Iren ngos-ngosan. Pemuda itu
malah tertawa. "Mbak ngejar saya cuma pengen nanya nama saya siapa? Hahaha nama
saya Irul mbak.. nggak sekalian minta nomer HP?" kata pemuda itu sedikit
bercanda. "nomer HP kamu gak penting, yang penting itu balikin HP saya
sekarang!" kata Iren. "wah.. mbak ini lucu, kapan saya ngambil HP
mbak?" kata pemuda itu masih dengan nada bercanda. "kamu fikir saya
bodoh.. kamu udah 2 kali nabrak saya, pasti kamu pake kesempatan itukan untuk
ngambil HP saya.." tuduh Iren. "wah.. kebanyakan nonton sinetron ni
pasti.. saya ini orang baik-baik.. mbak gak bisa bedain mana tampan copet, mana
tampan perampok.. eh maksudnya tampan anak soleh.." ucap pemuda yang bernama
Irul itu. "mana ada maling mau ngaku.." kata Iren yang terus mendesak
Irul. "ya emang gak ada.. kalau maling mau ngaku, semua koruptor udah
ketangkep mbak.. sejahtera deh negeri kita.. koruptor kan maling duit rakyat".
"kenapa jadi bahas koruptor sih.. HP saya mana..." mereka terus
berdebat hingga Irul menyadari kalau dompetnya tidak ada dalam sakunya. Irul
lalu mengingat sesuatu dengan panik ia berlari kembali masuk ke stasiun, Iren
menyusul Irul. Irul mengarahkan pandangannya ke segalah arah seakan mencari
seseorang, ia sempat merasa legah ketika ia melihat dompetnya di dekat tempat
sampah, namun ketika ia melihat isi dompetnya sudah tidak ada wajahnya berubah
menjadi kesal. Saat ia menoleh ke arah Iren yang berjalan hendak menemuinya, ia
melihat orang yang tadi menubruknya hendak merampok tas Iren, Irul berlari ke
arah Iren tapi perampok itu lebih dulu mengambil tas Iren. Iren yang kaget
tidak bisa berbuat apa-apa sementara Irul mengejar perampok itu. Irul mencoba
merebut tas itu bahkan sampai saling memukul, namun sialnya teman-teman
perampok itu datang dan mengeroyok Irul hingga Irul tidak bisa melawan, ia
terkapar di tanah namun masih sempat melihat Iren yang hendak mendekatinya,
tapi Irul memberi isyarat dengan tangannya agar Iren menjauh dan bersebunyi
jangan sampai perampok itu melihatnya. Iren pun bersembunyi di balik tembok dan
hanya bisa menangis melihat Irul terus di pukuli. Ia ingin membantu tapi ia tak
bisa berbuat apa-apa. Perampok itu mengambil semua uang yang ada di tas Iren
lalu melemparkan tas itu di wajah Irul yang berlumuran darah lalu pergi
meninggalkan Irul sambil tertawa. Setelah peampok itu jauh, Iren yang masih
terus menangis langsung menghampiri Irul yang terluka parah namun masih
sadarkan diri bahkan ia masih bisa tersenyum kepada Iren. Mereka kembali ke
stasiun. Iren membantu Irul mengobati
lukanya sambil terus menangis ia meminta maaf pada Irul, gara-gara dialah Irul
terluka apalagi sebelumnya ia sempat menuduh Irul mencuri ponselnya. "udah
mbak.. jangan nangis lagi.. kalau nangis mirip anak kecil yang belum makan.. eh
tapi emang belum makan kan? Abis ini kita makan yuk.." ajak Irul.
"mau makan pake apa? Emang kamu masih punya uang?" tanya Iren yang
masih terisak tangis. "oiya dong.. tapi gak banyak sih.. tapi cukup kok
untuk kita makan malam ini" kata Irul lalu tersenyum lebar di depan Iren,
hal itu membuat Iren tertawa kecil. "kenapa? Aku lucu ya mbak?" tanya
Irul. "namaku Iren.. jangan panggil mbak lagi yah.. kayak tukang jamu
ajah.." ungkap Iren. "Iren? Wah.. ini kebetulan atau takdir.."
kata Irul yang membuat Iren tak mengerti. "aku Irul, kamu Iren.. nama kita
hampir mirip, jangan-jangan kita jodoh..". Iren mengerutkan dahi mendengar
ucapan Irul. Irul lalu tertawa dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Irul
menyuruh Iren menunggunya sementara ia pergi membeli makanan untuk mereka
berdua. Irul membeli 2 nasi bungkus yang ia bayar dengan jam tangan yang ia
gunakan karena sebenarnya ia sudah tidak punya uang. Mereka pun makan bersama.
Malam sudah sangat larut, Iren pun terlihat sangat lelah dan mengantuk. Ia
berbaring di pangkuan Irul sementara Irul tertidur dengan posisi duduk hingga
pagi.
Esok
harinya mereka kemudian sama-sama berfikir cara agar mereka bisa mendapatkan
uang. Irul kemudian mengatakan kalau mereka bisa mengamen, tapi Iren tampaknya
enggan melakukan itu. Setelah berfikir lama namun tak menemukan solusi lain,
Iren akhirnya ikut menemani Irul mengamen. Mereka tampak kelelahan, Iren tak
berhenti mengeluh kepanasan namun Irul hanya terus tersenyum mendengarnya.
Siang hari mereka kemudian istrahat sambil
menghitung uang yang mereka dapatkan, walaupun tidak banyak tapi Iren tampak
senang. Kemudian Irul tak sengaja melihat perampok itu, ia kemudian
mengikutinya diam-diam hingga ke markas para perampok, tentu saja Iren ikut di
belakang Irul. Irul memutuskan untuk menyusup ke dalam markas tapi Iren
melarangnya, Irul tetap bersikeras hingga Iren memaksa untuk ikut dengannya.
"Ren.. kamu tunggu disini aja yah.. aku
takut gak bisa lindungin kamu nanti.." kata Irul yang membuat Iren
tersentuh. "tapi aku takut..." ucap Iren pelan. "kamu gak usah
takut.. disini kan banyak orang.." kata Irul. "aku takut.. kamu di
pukulin lagi sama mereka" kata Iren sambil menunduk. Irul terus meyakinkan
Iren kalau ia akan baik-baik saja hingga Iren membiarkan Irul menyusup masuk.
Irul kemudian melakukan aksinya, ia memakai topinya rapat-rapat lalu bergaya
seakan ia juga seorang perampok. Ia menyusuri tiap ruangan hingga ia menemukan
sebuah tas yang berisi uang. Irul hendak berjalan mengambil tas itu tapi
sesoang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan menyapanya. Untung saja
orang itu tak mengenali Irul. Irul kemudian beralasan bahwa ia di perintahkan
untuk mengambil tas. Irul lalu mengambil tas itu dengan tenang dan berjalan
keluar. Tapi semuanya tidak berjalan mulus ketika ia di halangi oleh beberapa
orang di pintu depan yang mengenalnya bahwa Irul bukan bagian dari mereka. Irul
lalu berbalik arah dan berlari. Orang-orang itu mengejar Irul. Irul berlari
sambil melempar kursi dan sesuatu yang bisa ia lempar untuk mnghalangi
orang-orang yang mengejarnya. Tapi ia terjebak dan tidak bisa menemukan pintu
keluar, Irul kebingungan, kemudian ia memecahkan jendela dan melompat tapi
tasnya tersangkut sementara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Dengan
susah payah ia melepaskan tas itu, hingga tangannya tergores serpihan kaca.
Untung saja ia bisa lolos tepat waktu dan bisa melarikan diri, tapi para
perampok itu masih terus mengejarnya hingga ke lorong-lorong kecil, Irul tampak
kebingungan menentukan arah jalan keluar, tiba-tiba seseorang menariknya hingga
para perampok itu tidak menemukannya. Ternyata yang menarik Irul adalah Iren,
tapi karena tempat itu sempit, posisi mereka sangat dekat dan keduanya merasa
canggung. Setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian lalu melihat
isi tas itu. Keduanya sama-sama kaget melihat uang itu yang sangat banyak.
Mereka jadi pusing untuk menghabiskan uang itu, lalu Iren bercerita kalau
tujuannya ke Bandung untuk liburan tapi semuanya kacau gara-gara perampok itu.
Irul kemudian mengajak Iren untuk liburan bersama. Dan liburan mereka pun di
mulai. Mereka pergi ke beberapa tempat wisata, dan bersenang-senang bersama
selama tiga hari. Mereka tampak akrab dan menikmati kebersamaan mereka. Setelah
itu mereka ke stasiun untuk segera pulang ke Jakarta. Namun sayangnya, tiket
yang tersisa untuk hari ini hanya satu. Irul memberikan tiket itu untuk Iren
agar Iren bisa pulang secepatnya. "terus kamu gimana?" tanya Iren
khawatir. "aku kan bisa pulang besok, atau bisa pulang beberapa hari
lagi.. kamu gak usah khawatir tentang aku, aku bukan anak manja yang gak bisa
apa-apa kayak kamu" kata Irul meledek Iren. Iren ingin marah tapi ia sadar
yang dikatakan Irul itu benar. "tapi karena anak manja ini aku bisa lolos
dari kejaran para perampok" kata Irul sambil mengacak-acak rambut Iren.
Iren hanya menunduk seakan tak rela berpisah dengan Irul. Kereta pun datang,
Irul menyuruh Iren untuk segera naik agar tidak ketinggalan lagi seperti dulu.
Iren lalu tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Irul yang sangat tidak di
sengaja. Tapi Irul malah mengingat Iren yang cuek dan tidak mau mengajaknya
bicara. Lalu mereka tertawa bersama. Setelah itu Iren naik ke kereta dan hanya
melihat Irul yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Selama perjalanan Iren
terlihat murung. Beberapa jam kemudian Iren akhirnya tiba di Jakarta. Setelah
sampai Rumah ia di sambut orang tuanya dengan khawatir karena Iren lupa membawa
ponsel sehingga ia tidak bisa di hubungi. Iren pun terkejut ternyata ponselnya
tidak hilang tapi hanya ketinggalan di rumah. Iren menenangkan orang tuanya
kalau ia tidak apa-apa dan bercerita bahwa liburannya sangat menyenangkan. Iren
kemudian beristirahat di kamarnya, ia termenung sambil teringat kenangannya
dengan Irul, dari pertama mereka bertemu, hingga semua kesusahan yang mereka
lewati bersama dan liburannya bersama Irul yang sangat menyenangkan, ia juga
teringat dengan ocehan Irul dan ketika Irul tidak sengaja memeluknya, yang
terakhir ketika ia menarik Irul bersembunyi hingga posisi mereka sangat dekat, Iren
senyum-senyum sendiri mengingatnya. "kok aku gak minta nomer HP nya yah..
bahkan aku belum sempat bilang terimah kasih ke dia" kata Iren penuh
sesal.
Hari-hari
pun berlalu, hingga tibalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Terlihat Iren yang sudah siap-siap di antar
oleh ayahnya untuk ke Sekolah, namun sialnya di tengah jalan ban mobil Iren
bocor, terpaksa Iren harus naik Bis agar tidak terlambat ke Sekolah. Bis yang
di naiki Iren sudah penuh bahkan banyak yang berdiri sambil berdesak-desakan
termasuk Iren. Ketika menoleh, tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal
duduk di bangku paling belakang. Iren mencoba mendekat dan ternyata itu adalah
Irul. Iren tak bisa menyembunyikan kebahagiannya bisa melihat Irul lagi, namun
Irul sempat terbelalak melihat Iren yang memakai seragam sekolahnya. "kamu
masih anak SMA?" tanya Irul tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"emang kenapa?" tanya Iren. "gak papa sih.. cuman kamu kelihatan
lebih tua dari umur kamu.. aku fikir kita seumuran" kata Irul lalu
tertawa. Iren cemberut mendengarnya. "emang sekarang kamu umur
berapa?" tanya Iren. "23.." jawab Irul. Iren mengerutkan dahi
menatap Irul. "kenapa? Aku masih kayak anak SMA yah? Gak heran sih..
banyak kok yang bilang kayak gitu.. tau gak kenapa? Itu karena aku selalu
senyum sama orang.. gak kayak kamu.. judes!!" kata Irul yang semakin
membuat Iren cemberut, tapi setelah itu ia tersenyum karena ia baru saja
mendengar ocehan Irul yang sudah lama tidak ia dengar. "aku kangen... sama
anak manja yang gak bisa apa-apa.. sama anak yang katanya capek denger aku
ngoceh terus... gak nyangka aku bisa ketemu dia disini.." ungkap Irul
sambil tersenyum. "kenapa? Kamu ngarep kita ketemunya di stasiun lagi?"
tanya Iren. "gak juga sih.. malah aku ngarepnya kita ketemu di
pelaminan.." jawab Irul dengan bercanda. "apaansih.." seru Iren
yang hendak memukul Irul dengan tasnya tapi Irul dengan cepat menahan tangan
Iren lalu menggenggamnya. Iren sedikit terkejut. Iren kemudian menatap Irul
yang juga sedang menatapnya penuh arti. Hingga beberapa detik mereka saling
bertatapan. Kemudian seluruh penumpang menyoraki mereka berdua membuat Iren
tersipu malu sementara Irul hanya terus menatap Iren sambil tersenyum.
***SELESAI***
"Cinta
itu gak kenal tempat, gak kenal waktu. Datang dimana saja dan kapan saja. Yang
pasti cinta itu datang dengan sendirinya, gak perlu di minta dan gak bisa di
paksa."
[Fiction Story] "Gara-Gara LDR"
Long Distance Relationship...
Mungkin, gak banyak orang yang pengen ngejalanin hubungan kayak gitu, termasuk
gue!! Tapi karena keadaan tertentu, orang-orang harus menjalani yang namanya
LDR. Keadaan dimana pacar gue memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya diluar
propinsi sementara gue tetep di kota sendiri membuat gue harus LDR-an sama
pacar gue. Awalnya gue gak setuju, tapi gue berusaha ngilangin ego gue demi
masa depan Dia dan akhirnya rela gak rela gue tetep biarin Dia pergi. Pasti berat
ngejalaninnya, belum lagi rasa curiga gue ke Dia yang terus-terusan datang pas
Dia nggak bisa dihubungi. Tapi gue tetap ngasih kepercayaan gue walaupun
kepercayaan itu berakhir dengan penghianatan. Disitu kadang saya merasa jenuh
dan mulai nyari kesenangan sendiri. Pas gue duduk sendirian, melamun mikirin
Dia, gue kadang teringat dan ngerasa kangen di tahun 2012, awal kisah gue sama
Dia dimulai.
Nama gue Dian, yang pada tahun 2012
gue masih berstatus sebagai siswi kelas 1 disalah satu SMA Negeri. Ken...
seorang cowok dari kelas lain yang saat itu berhasil nyuri hati gue. Walaupun
pada saat itu bukan cuma Ken yang deketin gue, dan saat itu gue juga punya
pacar walaupun komunikasi sama Dia lagi gak begitu lancar, tapi entah kenapa
setelah Ken nyatain perasaannya berkali-kali ke gue, walaupun gue pernah nolak
berkali-kali juga tapi pada akhirnya gue jadian juga sama Ken tepatnya pada
tanggal 23 Maret. Entah dimana dan sejak kapan Ken mulai naksir gue, tapi yang
gue rasa saat itu Ken bener-bener tulus deketin gue, ngasih perhatian ke gue,
belum jadian aja Dia udah sering banget ngajakin gue jalan dan beliin gue ini
itu. Apalagi pas udah jadian, sikapnya romantis banget sampe buat gue
terhanyut-hanyut dan merasa jadi cewek yang paling istimewa di dunia. Alay sih
kedengarannya, tapi emang gitu lah yang gue rasain. Bahkan gara-gara
romantisnya Dia, orang-orang banyak yang ngerasa iri karena pacar mereka gak
seromantis itu. Apalagi si kakak kelas yang kayaknya dendam banget sama gue
karena ngira gue yang ngerusak hubungannya sama Ken. Bahkan Dia sempet nyebarin
gosip kalo gue ngerebut Ken dari Dia. Emang sih sebelumnya Dia emang pacaran
sama Ken, tapi pas ngedeketin gue, Ken ngakunya udah putus sama Dia, jadi gue
gak peduli omongan orang-orang dan tetep lanjut sama Ken. Ken yang orangnya
rada jayus tapi tetep bisa buat gue senyum-senyum sendiri dan buat gue bahagia
ternyata mampu buat gue lupa kalau ternyata gue masih punya pacar yang lain.
Saat itu gue takut banget ketahuan sama Ken, hingga akhirnya beberapa hari
setelah gue jadian sama Ken, pacar gue yang satunya nelpon, di momen itu gue
minta putus secara baik-baik tanpa tau kalo gue udah punya pacar baru. Awalnya
Dia gak terima gue minta putus gitu ajah, tapi gue buat banyak alasan sampe
akhirnya dia mau putus sama gue “kita kan pacarannya secara baik-baik, jadi
putusnya juga harus baik-baik” kata gue waktu itu yang langsung ia jawab “kalo
gitu, kita tetep bisa jadi temen kan?” gue iyain aja dan kita pun resmi putus.
Ketakutan yang selama ini gue rasain akhirnya hilang karena pacar gue sekarang
cuma satu yaitu Ken.
Diawal hubungan gue sama Ken gak
begitu mulus sih, bukan karena gue, bukan juga karena Ken, tapi karena
gosip-gosip yang disebarin oleh orang-orang iri, tapi gue udah terlanjur nyaman
sama Ken dan gue gak punya alasan untuk ninggalin Ken cuman karena gosip-gosip
kayak gitu. Hari-hari pun berlalu, gak ada yang berubah dari Ken, dia tetep
cowok yang romantis, so sweet, penuh perhatian walaupun kadang over protectif
tapi gue percaya dia kayak gitu karena dia sayang sama gue.
Pertengkaran-pertengkaran kecil kadang menghiasi hubungan kita sampai akhirnya
kita ngerayaain anniversary yang pertama. Excited banget nyambutnya, walaupun
perayannya biasa aja sih, kita cuma ke taman wiasata tempat kita jadian setahun
yang lalu. Gue gak bisa lupa gimana dia berlutut depan gue sambil memohon
supaya gue terima cinta Dia. Dia gak malu ngungkapinnya padahal saat itu
orang-orang lagi liatin Dia, dan karena itu gue jadi terpesona.
Kemudian menuju Anniversary yang ke
dua, disini hubungan gue sama Ken bener-bener di uji. Banyak masalah yang
datang yang gak jarang buat gue bertengkar sama Ken, hingga masalah terberat
adalah ketika mantan gue pas SMP masuk dihidup gue lagi setelah sekian lama
menghilang. Gue sempet bertengkar hebat sama Ken karena kecemburuannya sama
mantan gue, padahal gue gak ngasih harapan apapun sama mantan gue untuk balikan
lagi. Sementara mantan gue, Dia malah nyalahin Ken atas berakhirnya hubungan
gue sama Dia dulu, padahal gue putus sama Dia jauh sebelum gue kenal sama Ken.
Disaat yang sama juga, gue mergokin Ken lagi SMS-an sama cewek lain. Pas gue
baca, emang sih bukan Ken yang godain cewek itu, malah cewek itu yang ganjen
banget sama Ken tapi tetep aja gue marah karena Ken udah bales pesan cewek
lain, akhirnya gue balik marah sama Ken. Gak lama kemudian gue denger kabar
kalo mantan gue di jodohin dan gak lama lagi dia bakal nikah sama cewek pilihan
Ayahnya. Mantan gue itu sempet ngajak gue kabur bareng ama Dia, dan janji bakal
bahagiain gue, tapi gue gak terpengaruh karena gue udah cukup bahagia sama Ken.
Akhirnya mantan gue nerima perjodohan itu. Hubungan gue sama Ken kembali
normal, meskipun setelah menikah mantan gue kadang masih hubungin gue sekedar
nanya kabar tapi itu tanpa sepengatahuan Ken. Gak lama kemudian gue kembali
bertengkar hebat dengan Ken. Waktu itu sepulang sekolah dia bilang pengen
langsung pulang ke rumah tapi gue malah mergokin dia lagi mabuk-mabukan sama
temen-temennya padahal gue udah ngelarang dia berkali-kali untuk gak ngelakuin
hal itu. Gue marah banget sama Ken, saking marahnya gue mutusin Ken di tempat
itu juga lalu pergi tanpa peduli Ken yang ngejar gue untuk jelasin yang
sebenarnya terjadi. Sampe rumah Ken terus-terusan nelpon gue, tapi gak pernah
gue angkat sampe Ken capek sendiri. Esok harinya di Sekolah gue diem-diem
nyariin Ken di kelasnya, tapi Dia gak keliatan. Gue nanya sama temennnya
katanya Ken sakit. Gue khawatir sih tapi gue masih ngambek dan gak pengen
hubungin Dia dulu. 3 hari Ken gak ke sekolah, kayaknya dia bener-bener sakit.
Kemudian esoknya akhirnya Dia ke Sekolah, berulang kali Dia lewat depan kelas
gue tapi dia gak nyapa gue bahkan gak noleh sama sekali padahal gue pengennya
dia ngebujuk gue biar gak ngambek lagi. Akhirnya gue nurutin saran temen dekat
gue. Gue ke kelas Ken dengan alasan nyari temen gue yang kebetulan sekelas sama
ken, padahal sebenarnya gue kangen berat sama Ken, tapi selama berada di kelas
itu tetep aja Ken gak nyapa gue bahkan dia bersikap seolah-olah dia gak kenal
gue, padahal gue udah heboh sendiri biar dapat perhatian darinya. Gue muak dan
akhirnya balik ke kelas gue. Di kelas gue lampiasin kekesalan gue ke
temen-temen, untung aja mereka pengertian dan cuma senyum pas gue ngedumel
sendiri. Pulang sekolah pas sampe rumah gue gak tahan lagi dan langsung nelpon
Ken berkali-kali, tapi telpon gue gak diangkat. Gue sebel banget!! Abis itu gue
ketiduran dan pas bangun, ngecek HP ada puluhan panggilan tak terjawab dari
Ken. Greget banget!! Gue nyalahin diri gue sendiri, kenapa juga gue harus
tidur. Malem nya gue nelpon Ken lagi dan kali ini di angkat, gue ngatur nafas
dulu sebelum ngobrol sama Ken. Ken minta maaf karena tadi siang dia gak angkat
telpon gue karena gak denger ada panggilan masuk. Gue juga minta maaf karena
gak angkat telpon dia karena gue lagi tidur. Awkward banget ngobrolnya. Gue
ngejelasin ke Ken kalo gue nelpon Dia karena gue mau balikin semua
barang-barang yang udah Ken kasih ke Gue. “buang ajah!!” jawab Ken singkat yang
membuat gue nyessek, padahal itu Cuma pancingan biar Ken bujuk gue biar mau
balikan. “kok dibuang sih??” gue nanya ke Ken. Tapi Ken malah jawab “kalo gak
mau dibuang, kasih aja ke orang lain”. Gue kesel karena bukan jawaban itu yang
gue pangen. Gue matiin telponnya tapi Ken balik nelpon gue. Dia nanya kenapa
telponnya di matiin, gue diem gak jawab apa-apa. Akhirnya Ken ngucapin
kata-kata yang gue pengen “kenapa barangnya mau dibalikin sih, kenapa nggak
kamu simpen ajah. Kalo pun kita gak bisa balikan, seenggaknya dengan barang itu
kamu bisa ngenang aku, kalo aku juga pernah hadir di hidup kamu, aku juga
pernah buat kamu bahagia. Seenggaknya barang itu bisa jadi saksi kalo kita
pernah bersama dan punya cerita”. Kata-kata Ken buat aku terharu dan gak sempet
ngomong apa-apa karena terisak tangis. Di telpon gue juga denger nafas Ken yang
gak beraturan karena nangis. Ken nanya ke Gue “kenapa sih kamu gampang banget
bilang putus, padahal aku gak pernah ngomong kayak gitu walopun aku lagi emosi
banget”. Masih dengan suara yang bergetar gue jawab “karena kamu gak mau dengerin
kata-kata aku. Padahal itu semua demi kebaiakan kamu”. Kita sama-sama minta
maaf dan janji gak bakal ngulang kejadiaan beberapa hari ini. Gue sama Ken
baikan lagi. Esoknya temen-temen nyorakin gue karena mesra lagi kayak dulu.
Akhirnya anniversary yang ke dua pun tiba, tapi gak se excited yang pertama sih
soalnya kita sama-sama sibuk mempersiapkan diri menghadapi UN. Kita pun bisa
menyelesaikan UN tanpa hambatan. Pas UN udah selesai, rasanya beban di pundak
yang selama ini di pikul tiba-tiba hilang dan rasanya legah banget. Tapi hari
itu Ken ngasih tau aku kalo Dia bakal lanjutin kuliah di luar propinsi. Awalnya
pas denger Ken ngomong gitu gue biasa aja, tapi pas hari itu tiba, baru terasa
beratnya. beberapa hari setelah pengumuman kelulusan dia pun berangkat. Gue
pengen nahan dia, tapi menurut gue itu terlalu egois. Mau gak mau gue LDR-an
sama Ken. Diawal LDR-an gak ada masalah sampe akhirnya gue berada dititik jenuh
hubungan Gue sama Ken. Ken mulai berubah, perhatiannya mulai berkurang, dia
udah jarang nelpon gue, nomernya juga kadang gak aktif dan selalu ganti-ganti.
Gue bukannya gak percaya sama Ken, tapi mau gak mau gue pasti curiga kalo sikap
Ken kayak gitu. Setiap kali gue nanya kenapa sikapnya kayak gitu, pasti
jawabannya selalu “aku sibuk sayang”. Gue berusaha ngerti itu. Terus kalo gue
nanya kenapa nomernya selalu ganti, kalo gak kartunya yang hilang pasti HP nya
yang hilang. Kan gak masuk akal. Selalu kayak gitu, hingga seminggu sebelum gue
ultah gue dia gak pernah ngasih kabar, gue kira itu surprise nya dia tapi
ternyata sampe ultah gue udah lewat beberapa hari, dia gak ngasih ucapan
apapun. Yang ngasih surprise cuma temen-temen gue. Gue kecewa sama Ken karena
udah lupa sama ultah gue, padahal pas dia ultah gue bela-belain beli kue untuk
dia yang jauh disana, meskipun gue tau dia gak bakal dateng tapi gue tetep
ngerayain dari sini sebagai bukti kalo gue gak pernah lupa apapun tentangnya
dan meskipun dia jauh gue tetep peduli sama dia. Setelah beberapa hari berlalu
barulah Ken nelpon gue dan minta maaf dan janji pada saat anniversary kita yang
ke tiga dia bakal nemuin gue dan ngasih surprise.
Dua bulan kemudian, gue udah sempet
pesimis sama janji Ken tapi seminggu sebelum Anniversary, tiba-tiba Ken dateng
ke rumah gue tanpa ngasih tau terlebih dulu. Berasa seperi mimpi Ken tiba-tiba
muncul depan gue. Ken senyum sambil ngomong “kali ini aku nepatin janji kan”.
Gue gak bisa ngomong apa-apa saking surprise nya! Pas lagi gak ada jadwal
kuliah, dia ngajakin gue jalan. Kita datangin semua tempat yang pernah kita
datangi pas masih SMA dulu. Pokoknya saat itu gue ngerasa “hari ini Cuma milik
gue sama Ken”. Kebahagiaan gue sampe gak bisa di ungkapin dengan kata-kata.
Tapi kebahagiaan gue seakan terhapus ketika melihat seorang cewek yang ngaku
pacar Ken mengunggah foto mesranya bareng Ken, dan pose mereka cukup buat gue
marah, cemburu, kecewa, malu, pokoknya campur aduk deh. Gue minta penjelasan
sama Ken tentang apa yang baru aja gue liat. Tapi Ken mengelak dan ngaku kalo
cewek itu Cuma temennya. Gue gak percaya tapi Ken bersikeras kalo Cuma gue
pacarnya, Ken bahkan dateng ke rumah gue, nangis berlutut depan gue dan memohon
supaya gue percaya. “kalo emang bener kamu gak ada hubungan apa-apa, jangan
balik lagi ke sana!!” kataku pada Ken. “trus kuliah aku gimana??” Ken nanya.
“pokoknya aku gak mau tau!!” kataku setengah berteriak pada Ken. “oke oke...
aku bakal ninggalin kuliah aku disana dan mulai semuanya disini bareng kamu,
kerja apapun aku mau, jadi tukang batu sekali pun aku mau!! Yang penting aku
terus sama kamu”. Kata Ken sambil nangis terseduh-seduh. Gue akhirnya luluh dan
maafin Ken. Gue cerita dan minta saran ke temen gue tapi temen gue Cuma bilang
“kalo lo masih sayang ya lanjut aja. Sekalipun Ken punya pacar banyak kalo
hatinya Cuma buat lo, yang lain pasti Cuma di anggap mainan”. Gue berusaha
ngelupain semuanya dan ngerayain Anniversary yang ke tiga, gak Cuma sama Ken
tapi sama temen-temen deket gue juga. Hari itu kita happy-happy seakan gak
pernah ada masalah, tapi itu buat gue mikir, mempertahankan hubungan selama
tiga tahun itu gak muda, bukan Cuma tawa yang terukir, bukan Cuma bahagia yang
tercipta, bukan Cuma canda yang menghiasi tapi air matanya juga ada sedihnya
juga ada, apalagi pertengkaran. Meskipun selama tiga tahun itu banyak duka nya,
tapi sukanya lebih banyak. Itu yang membuat gue bertahan. Tapi beberapa hari
kemudian gue seakan punya penyesalan mempertahankan hubungan itu, gimana nggak,
malam terakhir sebelum Ken berangkat lagi dia datang ke rumah gue untuk
pamitan. Gue ingetin Ken kalo dia udah janji gak bakal kesana lagi tapi
lagi-lagi dia nangis dan ngomong “kalo aku gak kesana, kuliah aku gimana?? Aku
gak mau kecewain ortu yang udah biayain mahal-mahal”. Karena alasan itu gue
biarin Ken pergi lagi dan ngingkarin janji nya sendiri. Gue jadi mikir kalo
waktu itu Ken gak serius sama janjinya, dan bener aja pas udah sampe disana
nomer Ken udah gak bisa dihubungi. Gue udah punya feeling buruk tentang Ken,
dan beberapa hari kemudian cewek itu nelpon gue pake nomernya Ken dan ngasih
tau kalo mereka pacaran parahnya lagi cewek itu memperlihatkan fotonya dengan
Ken yang jauh lebih mesra dari yang sebelumnya. Dan rasanya sakit banget terima
kenyataan kalo orang yang selalu gue percaya ternyata hianatin gue, orang yang
selalu gue pertahankan udah selingkuhin gue. Gue malu banget sama temen gue.
Ken nelpon gue pake nomer yang berbeda, gue Cuma ngomong ke Dia “udah puas
boongin gue!!” abis itu gue matiin telponnya. Setelah itu gue gak pernah peduli
lagi dengan Ken yang terus-terusan nelpon gue dan nganggep gue sama Ken udah
berakhir. meskipun Gue masih belum bisa percaya kalo ternyata GARA-GARA LDR
hubungan yang udah gue pertahankan selama 3 tahun harus berakhir tanpa
kejelasan karena sebuah penghianatan. Hubungan yang pernah buat orang iri
ternyata gak ada apa-apanya ketika ‘jarak’ sudah ikut campur di dalamnya.
“Hubungan akan
tetap terjaga
apabila
kepercayaan dan kesetiaan
juga tetap
terjaga”
~THE
END~
[Fiction Story] "Tentang Dia"
Dalam
hidup pilihan itu ada 3. Memilih yang benar, memilih yang salah, atau tidak
memilih sama sekali juga adalah pilihan. Semua orang pasti ingin memilih yang
benar, tapi karena suatu keadaan tertentu, seseorang kadang memilih pilihan
yang salah. Tapi setidaknya orang yang memilih kemudian salah tidak lebih
pengecut dari pada orang yang tidak memilih sama sekali.
Claudia,
remaja yang akrab dipanggil dengan nama “Dia” adalah siswi kelas 1 di salah
satu SMA Negeri. Siswi yang baik, selalu
ceria, cerdas dan penuh tanggung jawab ini memiliki teman dekat yang bernama
Rachel. Meskipun Dia dan Rachel bersahabat tapi di sekolah mereka juga adalah
rival yang selalu bersaing untuk jadi yang terbaik. Tapi bersaingnya secara
sehat tentunya karena Dia punya prinsip “untuk apa menang kalo ngejatuhin teman
sendiri”. Walaupun Dia lebih sering unggul dari pada Rachel, tapi Rachel tidak
pernah iri, malah itu di jadikannya motivasi untuk lebih baik meskipun terkadang
Rachel terkendala oleh penyakit gagal ginjalnya, hal itu tidak pernah
mengurangi semangat Rachel dan juga Dia selalu menyemangati dan mendukung
Rachel. Sifat Dia yang ramah membuat ia dikagumi oleh para siswa di sekolahnya,
termasuk Niko sepupu Rachel. Terlihat jelas kalau Niko menyukai Dia dari
caranya memandang dan memperhatikan Dia, tapi Niko tidak pernah berani
mengungkapkan perasaannya pada Dia, dan sepertinya Dia juga gak pernah peka
sama perlakuan Niko. Atau sengaja gak peduli. Soalnya pas Rachel nanya kenapa
Dia gak pernah kepikiran untuk pacaran, si Dia cuma jawab “gue udah sibuk
mikirin sekolah, belum lagi ortu gue yang sakit-sakitan, dan gue harus kerja
paruh waktu untuk biayain 2 adik gue yang masih SD. Mana mungkin punya waktu
mikirin pacar”. Terus Rachel nanya lagi “tapi lo gak belok kan??”. Dia menjawab sambil tertawa “ya enggak laaah...”. Rachel
ikut tertawa. Emang sih di balik keceriaan Dia ternyata ia memikul beban yang
sangat berat. Bisa di bilang ia berperan sabagai tulang punggung keluarganya.
Sementara Rachel, gadis cantik yang berasal dari keluarga yang baik dan juga
serba berkecukupan itu hidupnya nyaris sempurna jika saja ia tak punya
penyakit, tapi begitulah hidup, semua orang punya masalahnya masing-masing dan
karena itu jarang ada siswa yang melirik Rachel, kalau pun ada itu sebelum ia
tau kalau Rachel punya penyakit, soalnya gak jarang Rachel pingsan di sekolah
karena kecapean dan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi setelah tau,
kebanyakan dari mereka yang pernah mendekati Rachel memilih mundur dan bahkan
sama sekali tidak berhubungan dengan Rachel lagi. Kasian sih, tapi Rachel tidak
pernah sedih dengan hal itu karena baginya Dia saja sudah cukup untuk
menemaninya. Di tambah lagi Dia yang begitu pengertian dan cenderung melindungi.
Orang tua Rachel juga sangat baik pada keluarga Dia, dan sering membantu
kebutuhan keluarga Dia, hanya saja Dia sering menolak pemberian dari Rachel
karena merasa tidak enak dengan keluarga Rahel yang sudah terlalu sering
membantu keluarga Dia. Pas lagi free Niko sering ngajak Dia jalan, pas malam
minggu, Rachel sering ngajak Dia nginep di rumahnya, lebih tepatnya sih ngajak
Dia ngalong bareng sambil nonton DVD sampe pagi, walaupun setelah itu Rachel
kadang Drop tapi ia gak pernah kapok, malah Rachel bakal ngambek kalau Dia gak
nurutin kemauannya. Sebenarnya Rachel itu orang yang kuat karena masih bisa
bertahan hidup dengan penyakitnya, berulang kali orang tua nya meminta Rachel
untuk operasi tapi Rachel tidak mau dan selalu menganggap dirinya baik-baik
saja. Rachel sering cerita ke Dia kalau mimpinya itu jadi pemain biola yang
hebat, dan mungkin karena mimpinya itu yang ngasih kekuatan padanya. Terus Dia
sering bercanda dengan mengatakan kalau tidurnya gak pernah nyenyak jadi gak
pernah bermimpi. Tapi Dia punya keinginan, kalau Dia pengen mimpi Rachel
terwujud dan menonton pertunjukan pertama Rachel kemudian jadi penonton yang
bersorak paling keras atas penampilan Rachel. Dan karena kata-kata itu, Rachel
jadi lebih semangat.
Memasuki
tahun dimana Dia dan Rachel sebentar lagi menghadapi ujian. Banyak yang berubah
dari hidup mereka. Masa-masa tersulit dimana mereka harus fokus menghadapi
ujian dan juga harus menyelesaikan masalah pribadi masing-masing. Dia yang
sekarang tak lagi ceria seperti dulu, bahkan terkesan pemurung, prestasinya di
sekolah menurung, wajahnya yang selalu terlihat lelah dan pucat, matanya yang
berkantung dan berwarna hitam, menandakan kalau dia kurang tidur karena
bekerja, apalagi penyakit ortunya yang semakin parah. Waktu nya untuk Rachel
juga sudah tidak ada, padahal kondisi Rachel semakin memburuk, setiap kali
Rachel mengajak Dia menginap di rumahnya, Dia selalu menolak, saat Rachel
ngambek Dia malah membentak Rachel dan mengatainya keras kepala. Padahal
dulunya setiap kali ngambek, Dia selalu menuruti keinginan Rachel. Rachel
merasa aneh dengan sikap Dia. Sore hari sepulang sekolah rachel pergi ke rumah
Dia tapi kata ibunya Dia belum pulang. Rachel bingung karena tadi di sekolah
Dia pulang lebih awal. Malam harinnya sekitar jam 8 malam Rachel ke rumah Dia
lagi dan kali ini Dia lagi tidur di kamarnya. Rachel kasian melihat Dia yang
kayaknya capek banget sampe Rachel gak tega bangunin Dia. Tapi tiba-tiba aja
Dia terbangun sama suara pecahan gelas di dapur. Rachel langsung menuju ke dapur
di susul oleh Dia serta ibunya yang jalan tergopoh-gopoh, dan betapa kagetnya
mereka saat melihat Ayah Dia jatuh tak sadarkan diri, mereka buru-buru
membawanya ke rumah sakit. Rachel ingin menemani Dia menunggu ayahnya hingga
sadar tapi Dia menyuruh Rachel pulang, Rachel bersikeras ingin menemani Dia hingga Dia membentak Rachel. “kenapa sih
lo gak pernah nurut sama kata-kata gue!! trus kalo penyakit lo kambuh disini
gimana? Gue gak bisa ngurusin lo dengan kondisi ayah gue yang kayak gitu!!”
kata-kata itu cukup membuat hati Rachel sakit, matanya berkaca-kaca. Dia yang
menyadari hal itu langsung meminta maaf pada Rachel dan menyesali kata-katanya.
Tanpa mengatakan apapun Rachel langsung berlari keluar rumah sakit. Dia
mengejar Rachel. Di tempat parkir tiba-tiba saja Rachel merintih kesakitan
sambil memegang perutnya. Rachel lalu jatuh berlutut, Dia segera menghampirinya
dan hendak membantunya berdiri. Tapi Rachel menepis tangan Dia. “mulai sekarang
lo gak usah peduli apapun yang terjadi sama gue!!” kata Rachel sambil terus
menahan sakit. “lo kok ngomong gitu sih?” tanya Dia. “bukannya lo sendiri yang
bilang, gue Cuma ngerepotin lo. Gue sekarang tau kenapa sikap lo akhir-akhir
ini berubah ke gue! mungkin selama ini gue Cuma jadi beban. Dan lo udah bosen
temenan sama orang yang bisanya Cuma nyusahin kayak gue kan!!!” kata Rachel
diiringi isak tangis. “nggak Chel... nggak kayak gitu...” kata Dia yang juga
menangis. Dengan susah payah Rachel berjalan menuju mobil dan nekat mengendarai
mobilnya meskipun dengan kondisi yang tidak baik. Sementara Dia hanya bisa
terdiam dan terus menangis. Selama beberapa hari Dia dan Rachel tidak saling
bicara, hingga Niko merasa aneh dengan itu. Ketika ditanya, Dia dan Rachel
mengaku tidak terjadi apa-apa. Ayah Dia masih berada di rumah sakit, dan
sepertinya Dia sedang berjuang keras mengumpulkan uang. Setiap sepulang sekolah
Dia mengajar sebagai guru Les dan setiap jam 9 malam Dia selalu keluar dengan
pakaian yang minim karena Dia bekerja di sebuah Bar. Tapi tak ada yang tau
tentang Dia yang ternyata beberapa bulan terakhir ini bekerja di Bar karena
upahnya yang cukup besar. Setelah merasa uang yang dikumpulkannya sudah cukup,
Dia segera membayar biaya rumah sakit, tapi kata petugas sudah ada yang
membayarnya bahkan untuk beberapa hari kedepan. Bukannya bahagia tapi Dia
tampak kecewa. Esok harinya di sekolah, Dia menghampiri Rachel lalu berkata
dengan marah “maksud lo apa ngebayarin biaya rumah sakit ayah gue?? lo pikir
gue gak mampu bayar?? Lo gak tau kan perjuangan gue untuk ngumpulin uang itu,
tapi gue ngerasa perjuangan gue sia-sia karena uang itu gak ke pake!! Itu
karena lo yang sok jadi pahlawan!!!”. Rachel yang syok tidak bisa mengatakan
apapun. Air mata Rachel menetes dan tak menyangka Dia memperlakukannya seperti
itu. Bahkan Niko yang melihatnya pun tak merasa tak percaya dengan apa yang
baru dilihatnya. Niko segera menghampiri Rachel dan minta maaf karena ternyata
ialah yang membayar biaya rumah sakit. Dia terkejut mendengarnya dan menatap
Rachel yang masih terdiam. Hari- haripun berlalu, Dia dan Rachel masih tak
saling bicara hingga Dia tak tau kalau ternyata Rachel akan ikut audisi. Rachel
berlatih dengan keras hingga membuat kondisinya memburuk tapi Rachel tak peduli
karena ini adalah kesempatannya untuk mewujudkan mimpinya. Namun usaha kerasnya
masih belum terbayarkan karena ketika hari audisi itu tiba, Rachel pingsan di
atas panggung ketika ia baru saja akan memainkan biolanya. Rachel dibawa ke
rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Sekitar jam 3 dini
hari, Rachel akhirnya siuman dan melihat ibunya yang tertidur di sampingnya.
Rachel membangunkan ibunya dan menyuruhnya pulang untuk istrahat di rumah saja
karena ia sudah membaik dan sudah terbiasa seperti ini. Tapi sebelum ibunya pulang
ia sempat bertanya apakah tadi Dia datang menjenguknya. Ibunya mengatakan bahwa
tadi Dia datang bersama Niko dan baru pulang pada jam 9 malam tadi. Setelah
ibunya pulang, Rachel memejamkan matanya tapi tidak tertidur karena saat
mendengar suara pintu terbuka ia langsung membuka mata dan mengira ibunya yang
kembali tapi ternyata itu adalah Dia. Dia kaget karena ternyata Rachel sedang
tidak tidur, Dia bermaksud untuk pergi tapi Rachel menahannya “Dia!! jangan
pergi..” ucap Rachel dengan suara yang lemah. Dia pun menghampiri Rachel dan
menanyakan keadaannya meskipun sedikit canggung. Sedangkan Rachel sebenarnya
memiliki banyak pertanyaan ketika ia melihat cara berpakaian Dia yang berbeda
dan kenapa Dia bisa menemuinya di jam saat orang-orang masih tidur, tapi Rachel
memilih untuk diam. Esok harinya dokter mengatakan kepada orang tua Rachel
bahwa mereka harus segera mencari donor ginjal untuk Rachel, jika tidak
akibatnya akan sangat fatal. Meskipun Rachel sudah di perbolehkan pulang tapi
ia tetap tidak boleh banyak beraktivitas. Tapi ternyata Rachel memang orang
yang keras kepala karena malam harinya ia pergi mencari tau apa yang dilakukan
Dia. Rachel melihat Dia keluar dari rumah tepat jam 9 malam, ia mulai mengikuti
Dia namun sayangnya ia terjebak lampu merah dan kehilangan jejak Dia. Namun
Rachel tidak menyerah dan terus mencari dan ia pun curiga pada salah satu Bar
di tempat itu mengingat ia pernah melihat Dia berpakaian minim, dan ternyata feeling Rachel memang benar, ia melihat
Dia yang sedang melayani para pengunjung. “Dia...” ucap Rachel yang terkesiap
melihat Dia. Dia kaget dan bertanya kenapa Rachel ada di sini, tapi Rachel
bertanya balik mengapa Dia ada di tempat seperti ini. “gue kerja disini..”
jawab Dia. “pulang sekarang!!” perintah Rachel tapi Dia menolak karena ia harus
bekerja tapi Rachel memaksa Dia dan menyeretnya ke mobil. Esok harinya di
sekolah Dia mencoba bicara pada rachel. “Chel.. gue tau yang gue lakuin salah,
tapi gue gak punya pilihan lain” kata Dia. “lo gak punya pilihan lain? Emang lo
gak bisa minta tolong ke gue? trus lo nganggep gue apa? ha?!” kata Rachel
dengan nada emosi. “gue Cuma gak pengen bergantung terus sama lo, gue tau yang
gue lakuin salah.. asal lo tau, gue kerja disitu Cuma sebagai pelayan, gue gak
pernah punya niat buat jual diri Chel.. pekerjaan gue gak sehina itu walaupun
gue kerja di tempat yang menurut lo sangat hina” kata Dia yang mulai menangis.
“tapi apa lo bisa mencegah kalo suatu hari ada orang yang kurang ajar dan
ngancurin hidup lo?” pertanyaan itu membuat Dia terdiam menunduk seakan
menyadari sesuatu. “gue kayak gini karena gue peduli sama lo, gue gak pengen lo
kenapa-kenapa, jadi gue mohon berhenti kerja di tempat itu” kata Rachel yang
kemudian memeluk Dia. Sore hari Niko mengajak Dia jalan-jalan dan baru pulang
ketika malam hari. Tapi karena hujan turung sangat lebat Niko pun akhirnya
mengajak Dia untuk mampir ke rumahnya. Belum sempat Dia masuk ke rumah,
langkahnya terhenti ketika ia melihat laki-laki paruh baya yang ada di dalam
rumah Niko, Dia bertanya siapa laki-laki itu, dan betapa terkejutnya Dia
mendengar jawaban Niko bahwa itu adalah ayahnya. Air mata Dia mengalir dan
ketakutan menatap ayah Niko lalu berlari menerobos hujan yang sangat lebat.
Niko mengejarnya dan mencoba menghentikan Dia yang terus memberontak. Niko
memeluk Dia untuk menenangkannya. Sambil terus menangis Dia berkata “lepasin
gue.. lo gak seharusnya temenan sama orang kayak gue”. “lo kenapa sih Di.. gue
emang gak pengen temenan sama lo, karena gue ngarep lebih.. gue pengen jadi
pacar lo..” kata Niko dengan sungguh-sungguh. “nggak Nik.. gue gak pantes buat
lo, lo pantes dapat yang lebih baik”. “lo yang terbaik buat gue Di..!!”. “tapi
lo gak tau.. kalo gue...” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya. “gue tau.. gue
tau semua.. gue denger pembicaraan lo sama Rachel” kata Niko yang membuat Dia
sedikit kaget. Kemudian Dia berkata “tapi lo gak tau kan.. kalo gue udah
hancur.. masa depan gue udah gak ada dan itu karena bokap lo yang udah
ngelakuin....” lagi-lagi Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan terus
menangis. Niko mengerti maksud Dia dan sangat terkejut mendengarnya. “gue gak
peduli... bagaimanpun keadaan lo, gue tetep sayang sama lo Di.. gue gak mau
kehilangan lo..”. mereka berpelukan dibawah derasnya hujan. Tidak lama kemudian
mereka terlihat menuju rumah sakit karena mendapat telpon bahwa Rachel kritis. Rachel
harus secepatnya melakukan donor ginjal tapi ayah Rachel belum dapat pendonor,
akhirnya Dia yang ingin mendonorkan ginjalnya. Awalnya semua menolak karena itu
akan berbahaya bagi Dia, tapi Dia meyakinkan kalau ia bisa hidup dengan satu
ginjal. Operasi pun dilaksanakan tapi sebelumnya Dia berpesan bahwa Rachel
tidak boleh tau. Orang tua Rachel berjanji akan menanggung biaya hidup Rachel
dan keluarganya sebagai balasan atas kebaikan Dia. Beberapa hari kemudian
setelah operasi Rachel pun siuman dan melihat semua orang terdekatnya ada
disampingnya kecuali Dia. Rachel bertanya mengapa Dia tidak ada, kemudian Niko
berbohong kalau sekarang Dia sedang mengajar. Rachel bilang bahwa ia ingin
bertemu dengan orang yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya, semuanya
hanya diam saling menatap. Setelah kondisi Dia baikan, ia pun menemui Rachel
dan hal yang pertama ditanyakan Rachel adalah “lo gak kerja disitu lagi kan”.
Dia mengiyakan dan melanjutkan percakapan mereka dengan sedikit canda tawa,
tapi diluar ruangan Niko malah menangis melihatnya. Ternyata operasinya tidak
berjalan lancar karena setelah operasi Dia sering mengeluh kesakitan dan
sebulan kemudian Dia kritis dan dilarikan ke Rumah sakit, disitulah Rachel
mengetaui bahwa Dia yang mendonorkan ginjal untuknya, Rachel sempat marah tapi
Niko mengatakan semuanya sudah terjadi dan yang harus dilakukan sekarang hanya
berusaha dan berdoa. Dia sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari dan
tepat sebelum Rachel memulai debutnya sebagai pemain biola, Dia siuman, rachel
sangat senang dan bercerita pada Dia bahwa ia akan melakukan debut, tapi
kemudian Rachel memarahi Dia yang mendonorkan ginjalnya tanpa memberi taunya
terlebih dulu. Dengan suara yang lemah Dia berkata “chel.. gue seneng banget
mimpi lo akhirnya terwujud, tapi sorry gue gak bisa nyaksiin lo secara
langsung, tapi gue bakal nonton kok”. Kata-kata itu membuat Rachel meneteskan
air mata. “Jangan nangis dong Chel..
make up kamu luntur tau!”. “gue gak bisa gak nangis, gue udah ngorbanin hidup sahabat gue demi hidup gue
sendiri.. egois banget kan..” kata Rachel terus menangis. Rachel sebenarnya
masih ingin di dekat Dia tapi beberapa menit lagi ia akan perform, Rachel pun
harus pergi, tapi sebelum itu Dia memberi semangat pada Rachel bahwa Rachel
pasti bisa melakukannya dengan baik. Rachel lalu mencium kening Dia dan berkata
“lo juga pasti bisa lewatin ini, gue tau lo orang yang kuat”. Dia meneteskan
air mata. Perform Rachel akhirnya dimulai, semua orang berkumpul di kamar Dia
tempat ia di rawat untuk sama-sama menonton Rachel yang memainkan Biolanya
dengan sangat bagus. Semua orang terpukau melihat penampilan rachel. Setelah
tampil, Rachel buru-buru ke rumah sakit, tapi saat sampai disana ia mendapati
semua orang menangis, suasana yang mengharu biru itu spontan membuat air mata
Rachel menetes dan tangisannya langsung pecah ketika ia melihat Dia yang sudah
tidak bernyawa lagi. Rachel menghambur ke arah Dia dan memeluknya sambil terus
menangis histeris. Niko yang ada di tempat itu menenangkan Rachel. Air mata
Rachel terus mengalir mengantarkan Dia ke peristirahatan terakhirnya.
```THE END```
Langganan:
Postingan (Atom)