Dalam
hidup pilihan itu ada 3. Memilih yang benar, memilih yang salah, atau tidak
memilih sama sekali juga adalah pilihan. Semua orang pasti ingin memilih yang
benar, tapi karena suatu keadaan tertentu, seseorang kadang memilih pilihan
yang salah. Tapi setidaknya orang yang memilih kemudian salah tidak lebih
pengecut dari pada orang yang tidak memilih sama sekali.
Claudia,
remaja yang akrab dipanggil dengan nama “Dia” adalah siswi kelas 1 di salah
satu SMA Negeri. Siswi yang baik, selalu
ceria, cerdas dan penuh tanggung jawab ini memiliki teman dekat yang bernama
Rachel. Meskipun Dia dan Rachel bersahabat tapi di sekolah mereka juga adalah
rival yang selalu bersaing untuk jadi yang terbaik. Tapi bersaingnya secara
sehat tentunya karena Dia punya prinsip “untuk apa menang kalo ngejatuhin teman
sendiri”. Walaupun Dia lebih sering unggul dari pada Rachel, tapi Rachel tidak
pernah iri, malah itu di jadikannya motivasi untuk lebih baik meskipun terkadang
Rachel terkendala oleh penyakit gagal ginjalnya, hal itu tidak pernah
mengurangi semangat Rachel dan juga Dia selalu menyemangati dan mendukung
Rachel. Sifat Dia yang ramah membuat ia dikagumi oleh para siswa di sekolahnya,
termasuk Niko sepupu Rachel. Terlihat jelas kalau Niko menyukai Dia dari
caranya memandang dan memperhatikan Dia, tapi Niko tidak pernah berani
mengungkapkan perasaannya pada Dia, dan sepertinya Dia juga gak pernah peka
sama perlakuan Niko. Atau sengaja gak peduli. Soalnya pas Rachel nanya kenapa
Dia gak pernah kepikiran untuk pacaran, si Dia cuma jawab “gue udah sibuk
mikirin sekolah, belum lagi ortu gue yang sakit-sakitan, dan gue harus kerja
paruh waktu untuk biayain 2 adik gue yang masih SD. Mana mungkin punya waktu
mikirin pacar”. Terus Rachel nanya lagi “tapi lo gak belok kan??”. Dia menjawab sambil tertawa “ya enggak laaah...”. Rachel
ikut tertawa. Emang sih di balik keceriaan Dia ternyata ia memikul beban yang
sangat berat. Bisa di bilang ia berperan sabagai tulang punggung keluarganya.
Sementara Rachel, gadis cantik yang berasal dari keluarga yang baik dan juga
serba berkecukupan itu hidupnya nyaris sempurna jika saja ia tak punya
penyakit, tapi begitulah hidup, semua orang punya masalahnya masing-masing dan
karena itu jarang ada siswa yang melirik Rachel, kalau pun ada itu sebelum ia
tau kalau Rachel punya penyakit, soalnya gak jarang Rachel pingsan di sekolah
karena kecapean dan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi setelah tau,
kebanyakan dari mereka yang pernah mendekati Rachel memilih mundur dan bahkan
sama sekali tidak berhubungan dengan Rachel lagi. Kasian sih, tapi Rachel tidak
pernah sedih dengan hal itu karena baginya Dia saja sudah cukup untuk
menemaninya. Di tambah lagi Dia yang begitu pengertian dan cenderung melindungi.
Orang tua Rachel juga sangat baik pada keluarga Dia, dan sering membantu
kebutuhan keluarga Dia, hanya saja Dia sering menolak pemberian dari Rachel
karena merasa tidak enak dengan keluarga Rahel yang sudah terlalu sering
membantu keluarga Dia. Pas lagi free Niko sering ngajak Dia jalan, pas malam
minggu, Rachel sering ngajak Dia nginep di rumahnya, lebih tepatnya sih ngajak
Dia ngalong bareng sambil nonton DVD sampe pagi, walaupun setelah itu Rachel
kadang Drop tapi ia gak pernah kapok, malah Rachel bakal ngambek kalau Dia gak
nurutin kemauannya. Sebenarnya Rachel itu orang yang kuat karena masih bisa
bertahan hidup dengan penyakitnya, berulang kali orang tua nya meminta Rachel
untuk operasi tapi Rachel tidak mau dan selalu menganggap dirinya baik-baik
saja. Rachel sering cerita ke Dia kalau mimpinya itu jadi pemain biola yang
hebat, dan mungkin karena mimpinya itu yang ngasih kekuatan padanya. Terus Dia
sering bercanda dengan mengatakan kalau tidurnya gak pernah nyenyak jadi gak
pernah bermimpi. Tapi Dia punya keinginan, kalau Dia pengen mimpi Rachel
terwujud dan menonton pertunjukan pertama Rachel kemudian jadi penonton yang
bersorak paling keras atas penampilan Rachel. Dan karena kata-kata itu, Rachel
jadi lebih semangat.
Memasuki
tahun dimana Dia dan Rachel sebentar lagi menghadapi ujian. Banyak yang berubah
dari hidup mereka. Masa-masa tersulit dimana mereka harus fokus menghadapi
ujian dan juga harus menyelesaikan masalah pribadi masing-masing. Dia yang
sekarang tak lagi ceria seperti dulu, bahkan terkesan pemurung, prestasinya di
sekolah menurung, wajahnya yang selalu terlihat lelah dan pucat, matanya yang
berkantung dan berwarna hitam, menandakan kalau dia kurang tidur karena
bekerja, apalagi penyakit ortunya yang semakin parah. Waktu nya untuk Rachel
juga sudah tidak ada, padahal kondisi Rachel semakin memburuk, setiap kali
Rachel mengajak Dia menginap di rumahnya, Dia selalu menolak, saat Rachel
ngambek Dia malah membentak Rachel dan mengatainya keras kepala. Padahal
dulunya setiap kali ngambek, Dia selalu menuruti keinginan Rachel. Rachel
merasa aneh dengan sikap Dia. Sore hari sepulang sekolah rachel pergi ke rumah
Dia tapi kata ibunya Dia belum pulang. Rachel bingung karena tadi di sekolah
Dia pulang lebih awal. Malam harinnya sekitar jam 8 malam Rachel ke rumah Dia
lagi dan kali ini Dia lagi tidur di kamarnya. Rachel kasian melihat Dia yang
kayaknya capek banget sampe Rachel gak tega bangunin Dia. Tapi tiba-tiba aja
Dia terbangun sama suara pecahan gelas di dapur. Rachel langsung menuju ke dapur
di susul oleh Dia serta ibunya yang jalan tergopoh-gopoh, dan betapa kagetnya
mereka saat melihat Ayah Dia jatuh tak sadarkan diri, mereka buru-buru
membawanya ke rumah sakit. Rachel ingin menemani Dia menunggu ayahnya hingga
sadar tapi Dia menyuruh Rachel pulang, Rachel bersikeras ingin menemani Dia hingga Dia membentak Rachel. “kenapa sih
lo gak pernah nurut sama kata-kata gue!! trus kalo penyakit lo kambuh disini
gimana? Gue gak bisa ngurusin lo dengan kondisi ayah gue yang kayak gitu!!”
kata-kata itu cukup membuat hati Rachel sakit, matanya berkaca-kaca. Dia yang
menyadari hal itu langsung meminta maaf pada Rachel dan menyesali kata-katanya.
Tanpa mengatakan apapun Rachel langsung berlari keluar rumah sakit. Dia
mengejar Rachel. Di tempat parkir tiba-tiba saja Rachel merintih kesakitan
sambil memegang perutnya. Rachel lalu jatuh berlutut, Dia segera menghampirinya
dan hendak membantunya berdiri. Tapi Rachel menepis tangan Dia. “mulai sekarang
lo gak usah peduli apapun yang terjadi sama gue!!” kata Rachel sambil terus
menahan sakit. “lo kok ngomong gitu sih?” tanya Dia. “bukannya lo sendiri yang
bilang, gue Cuma ngerepotin lo. Gue sekarang tau kenapa sikap lo akhir-akhir
ini berubah ke gue! mungkin selama ini gue Cuma jadi beban. Dan lo udah bosen
temenan sama orang yang bisanya Cuma nyusahin kayak gue kan!!!” kata Rachel
diiringi isak tangis. “nggak Chel... nggak kayak gitu...” kata Dia yang juga
menangis. Dengan susah payah Rachel berjalan menuju mobil dan nekat mengendarai
mobilnya meskipun dengan kondisi yang tidak baik. Sementara Dia hanya bisa
terdiam dan terus menangis. Selama beberapa hari Dia dan Rachel tidak saling
bicara, hingga Niko merasa aneh dengan itu. Ketika ditanya, Dia dan Rachel
mengaku tidak terjadi apa-apa. Ayah Dia masih berada di rumah sakit, dan
sepertinya Dia sedang berjuang keras mengumpulkan uang. Setiap sepulang sekolah
Dia mengajar sebagai guru Les dan setiap jam 9 malam Dia selalu keluar dengan
pakaian yang minim karena Dia bekerja di sebuah Bar. Tapi tak ada yang tau
tentang Dia yang ternyata beberapa bulan terakhir ini bekerja di Bar karena
upahnya yang cukup besar. Setelah merasa uang yang dikumpulkannya sudah cukup,
Dia segera membayar biaya rumah sakit, tapi kata petugas sudah ada yang
membayarnya bahkan untuk beberapa hari kedepan. Bukannya bahagia tapi Dia
tampak kecewa. Esok harinya di sekolah, Dia menghampiri Rachel lalu berkata
dengan marah “maksud lo apa ngebayarin biaya rumah sakit ayah gue?? lo pikir
gue gak mampu bayar?? Lo gak tau kan perjuangan gue untuk ngumpulin uang itu,
tapi gue ngerasa perjuangan gue sia-sia karena uang itu gak ke pake!! Itu
karena lo yang sok jadi pahlawan!!!”. Rachel yang syok tidak bisa mengatakan
apapun. Air mata Rachel menetes dan tak menyangka Dia memperlakukannya seperti
itu. Bahkan Niko yang melihatnya pun tak merasa tak percaya dengan apa yang
baru dilihatnya. Niko segera menghampiri Rachel dan minta maaf karena ternyata
ialah yang membayar biaya rumah sakit. Dia terkejut mendengarnya dan menatap
Rachel yang masih terdiam. Hari- haripun berlalu, Dia dan Rachel masih tak
saling bicara hingga Dia tak tau kalau ternyata Rachel akan ikut audisi. Rachel
berlatih dengan keras hingga membuat kondisinya memburuk tapi Rachel tak peduli
karena ini adalah kesempatannya untuk mewujudkan mimpinya. Namun usaha kerasnya
masih belum terbayarkan karena ketika hari audisi itu tiba, Rachel pingsan di
atas panggung ketika ia baru saja akan memainkan biolanya. Rachel dibawa ke
rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Sekitar jam 3 dini
hari, Rachel akhirnya siuman dan melihat ibunya yang tertidur di sampingnya.
Rachel membangunkan ibunya dan menyuruhnya pulang untuk istrahat di rumah saja
karena ia sudah membaik dan sudah terbiasa seperti ini. Tapi sebelum ibunya pulang
ia sempat bertanya apakah tadi Dia datang menjenguknya. Ibunya mengatakan bahwa
tadi Dia datang bersama Niko dan baru pulang pada jam 9 malam tadi. Setelah
ibunya pulang, Rachel memejamkan matanya tapi tidak tertidur karena saat
mendengar suara pintu terbuka ia langsung membuka mata dan mengira ibunya yang
kembali tapi ternyata itu adalah Dia. Dia kaget karena ternyata Rachel sedang
tidak tidur, Dia bermaksud untuk pergi tapi Rachel menahannya “Dia!! jangan
pergi..” ucap Rachel dengan suara yang lemah. Dia pun menghampiri Rachel dan
menanyakan keadaannya meskipun sedikit canggung. Sedangkan Rachel sebenarnya
memiliki banyak pertanyaan ketika ia melihat cara berpakaian Dia yang berbeda
dan kenapa Dia bisa menemuinya di jam saat orang-orang masih tidur, tapi Rachel
memilih untuk diam. Esok harinya dokter mengatakan kepada orang tua Rachel
bahwa mereka harus segera mencari donor ginjal untuk Rachel, jika tidak
akibatnya akan sangat fatal. Meskipun Rachel sudah di perbolehkan pulang tapi
ia tetap tidak boleh banyak beraktivitas. Tapi ternyata Rachel memang orang
yang keras kepala karena malam harinya ia pergi mencari tau apa yang dilakukan
Dia. Rachel melihat Dia keluar dari rumah tepat jam 9 malam, ia mulai mengikuti
Dia namun sayangnya ia terjebak lampu merah dan kehilangan jejak Dia. Namun
Rachel tidak menyerah dan terus mencari dan ia pun curiga pada salah satu Bar
di tempat itu mengingat ia pernah melihat Dia berpakaian minim, dan ternyata feeling Rachel memang benar, ia melihat
Dia yang sedang melayani para pengunjung. “Dia...” ucap Rachel yang terkesiap
melihat Dia. Dia kaget dan bertanya kenapa Rachel ada di sini, tapi Rachel
bertanya balik mengapa Dia ada di tempat seperti ini. “gue kerja disini..”
jawab Dia. “pulang sekarang!!” perintah Rachel tapi Dia menolak karena ia harus
bekerja tapi Rachel memaksa Dia dan menyeretnya ke mobil. Esok harinya di
sekolah Dia mencoba bicara pada rachel. “Chel.. gue tau yang gue lakuin salah,
tapi gue gak punya pilihan lain” kata Dia. “lo gak punya pilihan lain? Emang lo
gak bisa minta tolong ke gue? trus lo nganggep gue apa? ha?!” kata Rachel
dengan nada emosi. “gue Cuma gak pengen bergantung terus sama lo, gue tau yang
gue lakuin salah.. asal lo tau, gue kerja disitu Cuma sebagai pelayan, gue gak
pernah punya niat buat jual diri Chel.. pekerjaan gue gak sehina itu walaupun
gue kerja di tempat yang menurut lo sangat hina” kata Dia yang mulai menangis.
“tapi apa lo bisa mencegah kalo suatu hari ada orang yang kurang ajar dan
ngancurin hidup lo?” pertanyaan itu membuat Dia terdiam menunduk seakan
menyadari sesuatu. “gue kayak gini karena gue peduli sama lo, gue gak pengen lo
kenapa-kenapa, jadi gue mohon berhenti kerja di tempat itu” kata Rachel yang
kemudian memeluk Dia. Sore hari Niko mengajak Dia jalan-jalan dan baru pulang
ketika malam hari. Tapi karena hujan turung sangat lebat Niko pun akhirnya
mengajak Dia untuk mampir ke rumahnya. Belum sempat Dia masuk ke rumah,
langkahnya terhenti ketika ia melihat laki-laki paruh baya yang ada di dalam
rumah Niko, Dia bertanya siapa laki-laki itu, dan betapa terkejutnya Dia
mendengar jawaban Niko bahwa itu adalah ayahnya. Air mata Dia mengalir dan
ketakutan menatap ayah Niko lalu berlari menerobos hujan yang sangat lebat.
Niko mengejarnya dan mencoba menghentikan Dia yang terus memberontak. Niko
memeluk Dia untuk menenangkannya. Sambil terus menangis Dia berkata “lepasin
gue.. lo gak seharusnya temenan sama orang kayak gue”. “lo kenapa sih Di.. gue
emang gak pengen temenan sama lo, karena gue ngarep lebih.. gue pengen jadi
pacar lo..” kata Niko dengan sungguh-sungguh. “nggak Nik.. gue gak pantes buat
lo, lo pantes dapat yang lebih baik”. “lo yang terbaik buat gue Di..!!”. “tapi
lo gak tau.. kalo gue...” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya. “gue tau.. gue
tau semua.. gue denger pembicaraan lo sama Rachel” kata Niko yang membuat Dia
sedikit kaget. Kemudian Dia berkata “tapi lo gak tau kan.. kalo gue udah
hancur.. masa depan gue udah gak ada dan itu karena bokap lo yang udah
ngelakuin....” lagi-lagi Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan terus
menangis. Niko mengerti maksud Dia dan sangat terkejut mendengarnya. “gue gak
peduli... bagaimanpun keadaan lo, gue tetep sayang sama lo Di.. gue gak mau
kehilangan lo..”. mereka berpelukan dibawah derasnya hujan. Tidak lama kemudian
mereka terlihat menuju rumah sakit karena mendapat telpon bahwa Rachel kritis. Rachel
harus secepatnya melakukan donor ginjal tapi ayah Rachel belum dapat pendonor,
akhirnya Dia yang ingin mendonorkan ginjalnya. Awalnya semua menolak karena itu
akan berbahaya bagi Dia, tapi Dia meyakinkan kalau ia bisa hidup dengan satu
ginjal. Operasi pun dilaksanakan tapi sebelumnya Dia berpesan bahwa Rachel
tidak boleh tau. Orang tua Rachel berjanji akan menanggung biaya hidup Rachel
dan keluarganya sebagai balasan atas kebaikan Dia. Beberapa hari kemudian
setelah operasi Rachel pun siuman dan melihat semua orang terdekatnya ada
disampingnya kecuali Dia. Rachel bertanya mengapa Dia tidak ada, kemudian Niko
berbohong kalau sekarang Dia sedang mengajar. Rachel bilang bahwa ia ingin
bertemu dengan orang yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya, semuanya
hanya diam saling menatap. Setelah kondisi Dia baikan, ia pun menemui Rachel
dan hal yang pertama ditanyakan Rachel adalah “lo gak kerja disitu lagi kan”.
Dia mengiyakan dan melanjutkan percakapan mereka dengan sedikit canda tawa,
tapi diluar ruangan Niko malah menangis melihatnya. Ternyata operasinya tidak
berjalan lancar karena setelah operasi Dia sering mengeluh kesakitan dan
sebulan kemudian Dia kritis dan dilarikan ke Rumah sakit, disitulah Rachel
mengetaui bahwa Dia yang mendonorkan ginjal untuknya, Rachel sempat marah tapi
Niko mengatakan semuanya sudah terjadi dan yang harus dilakukan sekarang hanya
berusaha dan berdoa. Dia sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari dan
tepat sebelum Rachel memulai debutnya sebagai pemain biola, Dia siuman, rachel
sangat senang dan bercerita pada Dia bahwa ia akan melakukan debut, tapi
kemudian Rachel memarahi Dia yang mendonorkan ginjalnya tanpa memberi taunya
terlebih dulu. Dengan suara yang lemah Dia berkata “chel.. gue seneng banget
mimpi lo akhirnya terwujud, tapi sorry gue gak bisa nyaksiin lo secara
langsung, tapi gue bakal nonton kok”. Kata-kata itu membuat Rachel meneteskan
air mata. “Jangan nangis dong Chel..
make up kamu luntur tau!”. “gue gak bisa gak nangis, gue udah ngorbanin hidup sahabat gue demi hidup gue
sendiri.. egois banget kan..” kata Rachel terus menangis. Rachel sebenarnya
masih ingin di dekat Dia tapi beberapa menit lagi ia akan perform, Rachel pun
harus pergi, tapi sebelum itu Dia memberi semangat pada Rachel bahwa Rachel
pasti bisa melakukannya dengan baik. Rachel lalu mencium kening Dia dan berkata
“lo juga pasti bisa lewatin ini, gue tau lo orang yang kuat”. Dia meneteskan
air mata. Perform Rachel akhirnya dimulai, semua orang berkumpul di kamar Dia
tempat ia di rawat untuk sama-sama menonton Rachel yang memainkan Biolanya
dengan sangat bagus. Semua orang terpukau melihat penampilan rachel. Setelah
tampil, Rachel buru-buru ke rumah sakit, tapi saat sampai disana ia mendapati
semua orang menangis, suasana yang mengharu biru itu spontan membuat air mata
Rachel menetes dan tangisannya langsung pecah ketika ia melihat Dia yang sudah
tidak bernyawa lagi. Rachel menghambur ke arah Dia dan memeluknya sambil terus
menangis histeris. Niko yang ada di tempat itu menenangkan Rachel. Air mata
Rachel terus mengalir mengantarkan Dia ke peristirahatan terakhirnya.
```THE END```
Tidak ada komentar:
Posting Komentar