Sabtu, 21 November 2015

[Fiction Story] "Tentang Dia"



Dalam hidup pilihan itu ada 3. Memilih yang benar, memilih yang salah, atau tidak memilih sama sekali juga adalah pilihan. Semua orang pasti ingin memilih yang benar, tapi karena suatu keadaan tertentu, seseorang kadang memilih pilihan yang salah. Tapi setidaknya orang yang memilih kemudian salah tidak lebih pengecut dari pada orang yang tidak memilih sama sekali.
Claudia, remaja yang akrab dipanggil dengan nama “Dia” adalah siswi kelas 1 di salah satu  SMA Negeri. Siswi yang baik, selalu ceria, cerdas dan penuh tanggung jawab ini memiliki teman dekat yang bernama Rachel. Meskipun Dia dan Rachel bersahabat tapi di sekolah mereka juga adalah rival yang selalu bersaing untuk jadi yang terbaik. Tapi bersaingnya secara sehat tentunya karena Dia punya prinsip “untuk apa menang kalo ngejatuhin teman sendiri”. Walaupun Dia lebih sering unggul dari pada Rachel, tapi Rachel tidak pernah iri, malah itu di jadikannya motivasi untuk lebih baik meskipun terkadang Rachel terkendala oleh penyakit gagal ginjalnya, hal itu tidak pernah mengurangi semangat Rachel dan juga Dia selalu menyemangati dan mendukung Rachel. Sifat Dia yang ramah membuat ia dikagumi oleh para siswa di sekolahnya, termasuk Niko sepupu Rachel. Terlihat jelas kalau Niko menyukai Dia dari caranya memandang dan memperhatikan Dia, tapi Niko tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Dia, dan sepertinya Dia juga gak pernah peka sama perlakuan Niko. Atau sengaja gak peduli. Soalnya pas Rachel nanya kenapa Dia gak pernah kepikiran untuk pacaran, si Dia cuma jawab “gue udah sibuk mikirin sekolah, belum lagi ortu gue yang sakit-sakitan, dan gue harus kerja paruh waktu untuk biayain 2 adik gue yang masih SD. Mana mungkin punya waktu mikirin pacar”. Terus Rachel nanya lagi “tapi lo gak belok kan??”. Dia menjawab sambil tertawa “ya enggak laaah...”. Rachel ikut tertawa. Emang sih di balik keceriaan Dia ternyata ia memikul beban yang sangat berat. Bisa di bilang ia berperan sabagai tulang punggung keluarganya. Sementara Rachel, gadis cantik yang berasal dari keluarga yang baik dan juga serba berkecukupan itu hidupnya nyaris sempurna jika saja ia tak punya penyakit, tapi begitulah hidup, semua orang punya masalahnya masing-masing dan karena itu jarang ada siswa yang melirik Rachel, kalau pun ada itu sebelum ia tau kalau Rachel punya penyakit, soalnya gak jarang Rachel pingsan di sekolah karena kecapean dan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi setelah tau, kebanyakan dari mereka yang pernah mendekati Rachel memilih mundur dan bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan Rachel lagi. Kasian sih, tapi Rachel tidak pernah sedih dengan hal itu karena baginya Dia saja sudah cukup untuk menemaninya. Di tambah lagi Dia yang begitu pengertian dan cenderung melindungi. Orang tua Rachel juga sangat baik pada keluarga Dia, dan sering membantu kebutuhan keluarga Dia, hanya saja Dia sering menolak pemberian dari Rachel karena merasa tidak enak dengan keluarga Rahel yang sudah terlalu sering membantu keluarga Dia. Pas lagi free Niko sering ngajak Dia jalan, pas malam minggu, Rachel sering ngajak Dia nginep di rumahnya, lebih tepatnya sih ngajak Dia ngalong bareng sambil nonton DVD sampe pagi, walaupun setelah itu Rachel kadang Drop tapi ia gak pernah kapok, malah Rachel bakal ngambek kalau Dia gak nurutin kemauannya. Sebenarnya Rachel itu orang yang kuat karena masih bisa bertahan hidup dengan penyakitnya, berulang kali orang tua nya meminta Rachel untuk operasi tapi Rachel tidak mau dan selalu menganggap dirinya baik-baik saja. Rachel sering cerita ke Dia kalau mimpinya itu jadi pemain biola yang hebat, dan mungkin karena mimpinya itu yang ngasih kekuatan padanya. Terus Dia sering bercanda dengan mengatakan kalau tidurnya gak pernah nyenyak jadi gak pernah bermimpi. Tapi Dia punya keinginan, kalau Dia pengen mimpi Rachel terwujud dan menonton pertunjukan pertama Rachel kemudian jadi penonton yang bersorak paling keras atas penampilan Rachel. Dan karena kata-kata itu, Rachel jadi lebih semangat.
Memasuki tahun dimana Dia dan Rachel sebentar lagi menghadapi ujian. Banyak yang berubah dari hidup mereka. Masa-masa tersulit dimana mereka harus fokus menghadapi ujian dan juga harus menyelesaikan masalah pribadi masing-masing. Dia yang sekarang tak lagi ceria seperti dulu, bahkan terkesan pemurung, prestasinya di sekolah menurung, wajahnya yang selalu terlihat lelah dan pucat, matanya yang berkantung dan berwarna hitam, menandakan kalau dia kurang tidur karena bekerja, apalagi penyakit ortunya yang semakin parah. Waktu nya untuk Rachel juga sudah tidak ada, padahal kondisi Rachel semakin memburuk, setiap kali Rachel mengajak Dia menginap di rumahnya, Dia selalu menolak, saat Rachel ngambek Dia malah membentak Rachel dan mengatainya keras kepala. Padahal dulunya setiap kali ngambek, Dia selalu menuruti keinginan Rachel. Rachel merasa aneh dengan sikap Dia. Sore hari sepulang sekolah rachel pergi ke rumah Dia tapi kata ibunya Dia belum pulang. Rachel bingung karena tadi di sekolah Dia pulang lebih awal. Malam harinnya sekitar jam 8 malam Rachel ke rumah Dia lagi dan kali ini Dia lagi tidur di kamarnya. Rachel kasian melihat Dia yang kayaknya capek banget sampe Rachel gak tega bangunin Dia. Tapi tiba-tiba aja Dia terbangun sama suara pecahan gelas di dapur. Rachel langsung menuju ke dapur di susul oleh Dia serta ibunya yang jalan tergopoh-gopoh, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Ayah Dia jatuh tak sadarkan diri, mereka buru-buru membawanya ke rumah sakit. Rachel ingin menemani Dia menunggu ayahnya hingga sadar tapi Dia menyuruh Rachel pulang, Rachel bersikeras ingin menemani  Dia hingga Dia membentak Rachel. “kenapa sih lo gak pernah nurut sama kata-kata gue!! trus kalo penyakit lo kambuh disini gimana? Gue gak bisa ngurusin lo dengan kondisi ayah gue yang kayak gitu!!” kata-kata itu cukup membuat hati Rachel sakit, matanya berkaca-kaca. Dia yang menyadari hal itu langsung meminta maaf pada Rachel dan menyesali kata-katanya. Tanpa mengatakan apapun Rachel langsung berlari keluar rumah sakit. Dia mengejar Rachel. Di tempat parkir tiba-tiba saja Rachel merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Rachel lalu jatuh berlutut, Dia segera menghampirinya dan hendak membantunya berdiri. Tapi Rachel menepis tangan Dia. “mulai sekarang lo gak usah peduli apapun yang terjadi sama gue!!” kata Rachel sambil terus menahan sakit. “lo kok ngomong gitu sih?” tanya Dia. “bukannya lo sendiri yang bilang, gue Cuma ngerepotin lo. Gue sekarang tau kenapa sikap lo akhir-akhir ini berubah ke gue! mungkin selama ini gue Cuma jadi beban. Dan lo udah bosen temenan sama orang yang bisanya Cuma nyusahin kayak gue kan!!!” kata Rachel diiringi isak tangis. “nggak Chel... nggak kayak gitu...” kata Dia yang juga menangis. Dengan susah payah Rachel berjalan menuju mobil dan nekat mengendarai mobilnya meskipun dengan kondisi yang tidak baik. Sementara Dia hanya bisa terdiam dan terus menangis. Selama beberapa hari Dia dan Rachel tidak saling bicara, hingga Niko merasa aneh dengan itu. Ketika ditanya, Dia dan Rachel mengaku tidak terjadi apa-apa. Ayah Dia masih berada di rumah sakit, dan sepertinya Dia sedang berjuang keras mengumpulkan uang. Setiap sepulang sekolah Dia mengajar sebagai guru Les dan setiap jam 9 malam Dia selalu keluar dengan pakaian yang minim karena Dia bekerja di sebuah Bar. Tapi tak ada yang tau tentang Dia yang ternyata beberapa bulan terakhir ini bekerja di Bar karena upahnya yang cukup besar. Setelah merasa uang yang dikumpulkannya sudah cukup, Dia segera membayar biaya rumah sakit, tapi kata petugas sudah ada yang membayarnya bahkan untuk beberapa hari kedepan. Bukannya bahagia tapi Dia tampak kecewa. Esok harinya di sekolah, Dia menghampiri Rachel lalu berkata dengan marah “maksud lo apa ngebayarin biaya rumah sakit ayah gue?? lo pikir gue gak mampu bayar?? Lo gak tau kan perjuangan gue untuk ngumpulin uang itu, tapi gue ngerasa perjuangan gue sia-sia karena uang itu gak ke pake!! Itu karena lo yang sok jadi pahlawan!!!”. Rachel yang syok tidak bisa mengatakan apapun. Air mata Rachel menetes dan tak menyangka Dia memperlakukannya seperti itu. Bahkan Niko yang melihatnya pun tak merasa tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. Niko segera menghampiri Rachel dan minta maaf karena ternyata ialah yang membayar biaya rumah sakit. Dia terkejut mendengarnya dan menatap Rachel yang masih terdiam. Hari- haripun berlalu, Dia dan Rachel masih tak saling bicara hingga Dia tak tau kalau ternyata Rachel akan ikut audisi. Rachel berlatih dengan keras hingga membuat kondisinya memburuk tapi Rachel tak peduli karena ini adalah kesempatannya untuk mewujudkan mimpinya. Namun usaha kerasnya masih belum terbayarkan karena ketika hari audisi itu tiba, Rachel pingsan di atas panggung ketika ia baru saja akan memainkan biolanya. Rachel dibawa ke rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Sekitar jam 3 dini hari, Rachel akhirnya siuman dan melihat ibunya yang tertidur di sampingnya. Rachel membangunkan ibunya dan menyuruhnya pulang untuk istrahat di rumah saja karena ia sudah membaik dan sudah terbiasa seperti ini. Tapi sebelum ibunya pulang ia sempat bertanya apakah tadi Dia datang menjenguknya. Ibunya mengatakan bahwa tadi Dia datang bersama Niko dan baru pulang pada jam 9 malam tadi. Setelah ibunya pulang, Rachel memejamkan matanya tapi tidak tertidur karena saat mendengar suara pintu terbuka ia langsung membuka mata dan mengira ibunya yang kembali tapi ternyata itu adalah Dia. Dia kaget karena ternyata Rachel sedang tidak tidur, Dia bermaksud untuk pergi tapi Rachel menahannya “Dia!! jangan pergi..” ucap Rachel dengan suara yang lemah. Dia pun menghampiri Rachel dan menanyakan keadaannya meskipun sedikit canggung. Sedangkan Rachel sebenarnya memiliki banyak pertanyaan ketika ia melihat cara berpakaian Dia yang berbeda dan kenapa Dia bisa menemuinya di jam saat orang-orang masih tidur, tapi Rachel memilih untuk diam. Esok harinya dokter mengatakan kepada orang tua Rachel bahwa mereka harus segera mencari donor ginjal untuk Rachel, jika tidak akibatnya akan sangat fatal. Meskipun Rachel sudah di perbolehkan pulang tapi ia tetap tidak boleh banyak beraktivitas. Tapi ternyata Rachel memang orang yang keras kepala karena malam harinya ia pergi mencari tau apa yang dilakukan Dia. Rachel melihat Dia keluar dari rumah tepat jam 9 malam, ia mulai mengikuti Dia namun sayangnya ia terjebak lampu merah dan kehilangan jejak Dia. Namun Rachel tidak menyerah dan terus mencari dan ia pun curiga pada salah satu Bar di tempat itu mengingat ia pernah melihat Dia berpakaian minim, dan ternyata feeling Rachel memang benar, ia melihat Dia yang sedang melayani para pengunjung. “Dia...” ucap Rachel yang terkesiap melihat Dia. Dia kaget dan bertanya kenapa Rachel ada di sini, tapi Rachel bertanya balik mengapa Dia ada di tempat seperti ini. “gue kerja disini..” jawab Dia. “pulang sekarang!!” perintah Rachel tapi Dia menolak karena ia harus bekerja tapi Rachel memaksa Dia dan menyeretnya ke mobil. Esok harinya di sekolah Dia mencoba bicara pada rachel. “Chel.. gue tau yang gue lakuin salah, tapi gue gak punya pilihan lain” kata Dia. “lo gak punya pilihan lain? Emang lo gak bisa minta tolong ke gue? trus lo nganggep gue apa? ha?!” kata Rachel dengan nada emosi. “gue Cuma gak pengen bergantung terus sama lo, gue tau yang gue lakuin salah.. asal lo tau, gue kerja disitu Cuma sebagai pelayan, gue gak pernah punya niat buat jual diri Chel.. pekerjaan gue gak sehina itu walaupun gue kerja di tempat yang menurut lo sangat hina” kata Dia yang mulai menangis. “tapi apa lo bisa mencegah kalo suatu hari ada orang yang kurang ajar dan ngancurin hidup lo?” pertanyaan itu membuat Dia terdiam menunduk seakan menyadari sesuatu. “gue kayak gini karena gue peduli sama lo, gue gak pengen lo kenapa-kenapa, jadi gue mohon berhenti kerja di tempat itu” kata Rachel yang kemudian memeluk Dia. Sore hari Niko mengajak Dia jalan-jalan dan baru pulang ketika malam hari. Tapi karena hujan turung sangat lebat Niko pun akhirnya mengajak Dia untuk mampir ke rumahnya. Belum sempat Dia masuk ke rumah, langkahnya terhenti ketika ia melihat laki-laki paruh baya yang ada di dalam rumah Niko, Dia bertanya siapa laki-laki itu, dan betapa terkejutnya Dia mendengar jawaban Niko bahwa itu adalah ayahnya. Air mata Dia mengalir dan ketakutan menatap ayah Niko lalu berlari menerobos hujan yang sangat lebat. Niko mengejarnya dan mencoba menghentikan Dia yang terus memberontak. Niko memeluk Dia untuk menenangkannya. Sambil terus menangis Dia berkata “lepasin gue.. lo gak seharusnya temenan sama orang kayak gue”. “lo kenapa sih Di.. gue emang gak pengen temenan sama lo, karena gue ngarep lebih.. gue pengen jadi pacar lo..” kata Niko dengan sungguh-sungguh. “nggak Nik.. gue gak pantes buat lo, lo pantes dapat yang lebih baik”. “lo yang terbaik buat gue Di..!!”. “tapi lo gak tau.. kalo gue...” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya. “gue tau.. gue tau semua.. gue denger pembicaraan lo sama Rachel” kata Niko yang membuat Dia sedikit kaget. Kemudian Dia berkata “tapi lo gak tau kan.. kalo gue udah hancur.. masa depan gue udah gak ada dan itu karena bokap lo yang udah ngelakuin....” lagi-lagi Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan terus menangis. Niko mengerti maksud Dia dan sangat terkejut mendengarnya. “gue gak peduli... bagaimanpun keadaan lo, gue tetep sayang sama lo Di.. gue gak mau kehilangan lo..”. mereka berpelukan dibawah derasnya hujan. Tidak lama kemudian mereka terlihat menuju rumah sakit karena mendapat telpon bahwa Rachel kritis. Rachel harus secepatnya melakukan donor ginjal tapi ayah Rachel belum dapat pendonor, akhirnya Dia yang ingin mendonorkan ginjalnya. Awalnya semua menolak karena itu akan berbahaya bagi Dia, tapi Dia meyakinkan kalau ia bisa hidup dengan satu ginjal. Operasi pun dilaksanakan tapi sebelumnya Dia berpesan bahwa Rachel tidak boleh tau. Orang tua Rachel berjanji akan menanggung biaya hidup Rachel dan keluarganya sebagai balasan atas kebaikan Dia. Beberapa hari kemudian setelah operasi Rachel pun siuman dan melihat semua orang terdekatnya ada disampingnya kecuali Dia. Rachel bertanya mengapa Dia tidak ada, kemudian Niko berbohong kalau sekarang Dia sedang mengajar. Rachel bilang bahwa ia ingin bertemu dengan orang yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya, semuanya hanya diam saling menatap. Setelah kondisi Dia baikan, ia pun menemui Rachel dan hal yang pertama ditanyakan Rachel adalah “lo gak kerja disitu lagi kan”. Dia mengiyakan dan melanjutkan percakapan mereka dengan sedikit canda tawa, tapi diluar ruangan Niko malah menangis melihatnya. Ternyata operasinya tidak berjalan lancar karena setelah operasi Dia sering mengeluh kesakitan dan sebulan kemudian Dia kritis dan dilarikan ke Rumah sakit, disitulah Rachel mengetaui bahwa Dia yang mendonorkan ginjal untuknya, Rachel sempat marah tapi Niko mengatakan semuanya sudah terjadi dan yang harus dilakukan sekarang hanya berusaha dan berdoa. Dia sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari dan tepat sebelum Rachel memulai debutnya sebagai pemain biola, Dia siuman, rachel sangat senang dan bercerita pada Dia bahwa ia akan melakukan debut, tapi kemudian Rachel memarahi Dia yang mendonorkan ginjalnya tanpa memberi taunya terlebih dulu. Dengan suara yang lemah Dia berkata “chel.. gue seneng banget mimpi lo akhirnya terwujud, tapi sorry gue gak bisa nyaksiin lo secara langsung, tapi gue bakal nonton kok”. Kata-kata itu membuat Rachel meneteskan air mata. “Jangan nangis dong Chel..  make up kamu luntur tau!”. “gue gak bisa gak nangis, gue udah  ngorbanin hidup sahabat gue demi hidup gue sendiri.. egois banget kan..” kata Rachel terus menangis. Rachel sebenarnya masih ingin di dekat Dia tapi beberapa menit lagi ia akan perform, Rachel pun harus pergi, tapi sebelum itu Dia memberi semangat pada Rachel bahwa Rachel pasti bisa melakukannya dengan baik. Rachel lalu mencium kening Dia dan berkata “lo juga pasti bisa lewatin ini, gue tau lo orang yang kuat”. Dia meneteskan air mata. Perform Rachel akhirnya dimulai, semua orang berkumpul di kamar Dia tempat ia di rawat untuk sama-sama menonton Rachel yang memainkan Biolanya dengan sangat bagus. Semua orang terpukau melihat penampilan rachel. Setelah tampil, Rachel buru-buru ke rumah sakit, tapi saat sampai disana ia mendapati semua orang menangis, suasana yang mengharu biru itu spontan membuat air mata Rachel menetes dan tangisannya langsung pecah ketika ia melihat Dia yang sudah tidak bernyawa lagi. Rachel menghambur ke arah Dia dan memeluknya sambil terus menangis histeris. Niko yang ada di tempat itu menenangkan Rachel. Air mata Rachel terus mengalir mengantarkan Dia ke peristirahatan terakhirnya.
```THE END```

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

di mohon untuk tidak men copy paste apapun dari blog ini.