Sabtu, 21 November 2015

[Fiction Story] "Stasiun Kereta"



Libur panjang telah tiba, beberapa anak sekolah pasti sudah mempersiapkan rencana liburan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Iren, murid di salah satu SMA yang kini duduk di bangku kelas 2 sudah merencanakan liburannya di jauh-jauh hari. Ia akan berlibur ke Bandung sendirian tanpa orang tua nya. Liburan ini telah lama di idam-idamkan oleh Iren tapi orang tuanya tidak pernah memberi izin, namun tahun ini Iren bersikeras agar orang tuanya memberi izin. "Ma.. Pa.. aku udah 17 Tahun.. masa Mama sama Papa belum bisa percaya sih kalau Iren bisa mandiri" itulah kata yang di ucapkan Iren kepada orang tuanya. Karena Iren terus merengek, orang tuanya pun kasihan hingga akhirnya memberi izin kepada Iren tapi dengan catatan, HP Iren harus selalu aktif. Iren pun mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa nantinya. Esok hari pun tiba, Iren sudah siap-siap untuk berangkat, tapi tiba-tiba saja Ibunya minta di antar ke pasar karena sebentar siang akan ada arisan di rumahnya. Tentu saja Iren menolak karena sebentar lagi kereta yang akan di tumpanginya akan berangkat. Tapi Ibunya mengancam jika Iren tidak mau, maka Ibunya akan melarang Iren pergi berlibur, dengan wajah yang cemberut ia pun menemani Ibunya ke pasar. Iren hampir kehilangan kesabaran menunggu Ibunya yang belanja terlalu lama. Beberapa saat kemudian Ibunya pun muncul, begitu Ibunya naik ke mobil Iren langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat hingga Ibunya protes tapi Iren tidak peduli dengan ocehan Ibunya dan akhirnya ia pun sampai di rumahnya. Dengan sangat terburu-buru ia mengambil barang-barangnya dan tak sadar ia lupa mengambil ponsel miliknya. Ia lalu ke stasiun mengendarai Taksi. Ketika sampai di stasiun, ia berlari dengan kencang, namun sialnya ia menabrak seseorang hingga barang bawaannya berhamburan. Sebelum ia selesai membereskan barang-barangnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang akan menuju Bandung telah berangkat. Iren pun hendak berlari mengejar kereta itu, namun sialnya lagi seorang pemuda menabraknya dari belakang dan membuat barang-barangnya kembali berjatuhan.
"aduh maaf mbak.. saya buru-buru.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi. Tapi Iren menarik baju pemuda itu menahannya untuk tidak pergi. "Mas bantuin saya dulu dong ! barang-barang saya jatuh gara-gara Mas nabrak saya!" kata Iren sedikit kesal.
"tapi saya lagi buru-buru mbak. Itu keretanya udah berangkat.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi, namun lagi-lagi Iren menahannya. "emang Mas doang yang ketinggalan kereta! Saya juga!" kata Iren. Akhirnya pemuda itu mau membantu Iren walaupun sedikit protes. Setelah itu Iren menuju tempat penjualan tiket, pemuda itu ikut di belakang Iren. Iren lalu bertanya kepada pemuda itu kenapa ia mengikutinya. Pemuda itu kemudian menertawakan Iren karena pemuda itu bukan mengikuti Iren melainkan ia juga ingin membeli tiket. Iren pun tampak malu dan berjalan lebih cepat mendahului pemuda itu. Masih ada satu kereta yang akan ke Bandung tapi kereta itu akan berangkat pukul 2 siang sementara sekarang masih pukul 10 pagi tapi keduanya tetap mengambil tiket itu dan memutuskan untuk menunggu di stasiun itu. "mau ke Bandung juga?" tanya pemuda itu. Iren hanya mengangguk. "sama dong.. tapi ini pertama kali saya ke Bandung loh..." ucap pemuda itu yang tak di respon oleh Iren. Pemuda itu lalu tertawa garing. "gak penting ya?" tanya pemuda itu yang lagi-lagi tak di respon oleh Iren. Pemuda itu pun beranjak pergi tapi beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa makanan. Ia menawarkan makanannya untuk Iren tapi Iren menolaknya. "kamu gak lapar? Atau kamu takut saya racuni? Saya bukan orang jahat kok..  atau jangan-jangan kamu Cuma gengsi lagi.. gengsi itu sering menghancurkan segalanya loh.." kata pemuda itu yang terus mengoceh sendiri. "Mas gak capek ngomong sendiri?" tanya Iren tiba-tiba. "nggak..." jawab pemuda itu. "kalau saya sih capek.. capek denger Mas ngoceh terus.." kata Iren yang membuat pemuda itu terdiam. Setelah beberapa lama menunggu kereta yang mereka pun datang, mereka naik bersamaan hingga sempat saling berdesakan di pintu, lalu mereka duduk bersebelahan. Iren tampak tak suka duduk disebelah pemuda itu, sementara pemuda itu terlihat biasa-biasa saja. Selama perjalanan Iren tertidur, bahkan ia tak sadar bersandar di bahu pemuda itu. Untung saja pemuda itu mau menahannya. Tapi ketika Iren terbangun, ia malah marah kepada pemuda tersebut dan menganggap pemuda itu tidak sopan padanya. Pemuda itu menjelaskan kalau ia sama sekali tidak meneyentuhnya, ia hanya kasihan melihat Iren yang terlihat lelah. Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, semua penumpang berdesakan turun dari kereta, ketika telah turun dari kereta, seseorang dengan sengaja menubruk pemuda itu dari belakang hingga pemuda itu juga menubruk Iren yang ada di depannya. Pemuda itu langsung memeluk Iren agar Iren tidak jatuh. Iren yang kaget langsung  mendorong pemuda itu dan memarahinya. Pemuda itu ingin menjelaskan tapi Iren tidak memberinya kesempatan dan langsung pergi. Tidak lama setelah itu, Iren menyadari kalau ponsel nya tidak ada, ia langsung mengira kalau pemuda itu yang mengambilnya karena sejak tadi ia hanya bersama pemuda itu. Iren langsung berlari mencari pemuda itu, tentu saja dengan susah payah karena ia berlari dengan membawa koper. Pemuda itu hendak naik ke taksi, namun tiba-tiba Iren datang dan menahannya pergi. "Mas... Mas tunggu Mas.. aduh namanya siapa lagi.. Mas jangan pergi dulu" teriak Iren sambil berlari menghampiri pemuda itu."aduh.. nama kamu siapa sih?" tanya Iren ngos-ngosan. Pemuda itu malah tertawa. "Mbak ngejar saya  cuma pengen nanya nama saya siapa? Hahaha nama saya Irul mbak.. nggak sekalian minta nomer HP?" kata pemuda itu sedikit bercanda. "nomer HP kamu gak penting, yang penting itu balikin HP saya sekarang!" kata Iren. "wah.. mbak ini lucu, kapan saya ngambil HP mbak?" kata pemuda itu masih dengan nada bercanda. "kamu fikir saya bodoh.. kamu udah 2 kali nabrak saya, pasti kamu pake kesempatan itukan untuk ngambil HP saya.." tuduh Iren. "wah.. kebanyakan nonton sinetron ni pasti.. saya ini orang baik-baik.. mbak gak bisa bedain mana tampan copet, mana tampan perampok.. eh maksudnya tampan anak soleh.." ucap pemuda yang bernama Irul itu. "mana ada maling mau ngaku.." kata Iren yang terus mendesak Irul. "ya emang gak ada.. kalau maling mau ngaku, semua koruptor udah ketangkep mbak.. sejahtera deh negeri kita.. koruptor kan maling duit rakyat". "kenapa jadi bahas koruptor sih.. HP saya mana..." mereka terus berdebat hingga Irul menyadari kalau dompetnya tidak ada dalam sakunya. Irul lalu mengingat sesuatu dengan panik ia berlari kembali masuk ke stasiun, Iren menyusul Irul. Irul mengarahkan pandangannya ke segalah arah seakan mencari seseorang, ia sempat merasa legah ketika ia melihat dompetnya di dekat tempat sampah, namun ketika ia melihat isi dompetnya sudah tidak ada wajahnya berubah menjadi kesal. Saat ia menoleh ke arah Iren yang berjalan hendak menemuinya, ia melihat orang yang tadi menubruknya hendak merampok tas Iren, Irul berlari ke arah Iren tapi perampok itu lebih dulu mengambil tas Iren. Iren yang kaget tidak bisa berbuat apa-apa sementara Irul mengejar perampok itu. Irul mencoba merebut tas itu bahkan sampai saling memukul, namun sialnya teman-teman perampok itu datang dan mengeroyok Irul hingga Irul tidak bisa melawan, ia terkapar di tanah namun masih sempat melihat Iren yang hendak mendekatinya, tapi Irul memberi isyarat dengan tangannya agar Iren menjauh dan bersebunyi jangan sampai perampok itu melihatnya. Iren pun bersembunyi di balik tembok dan hanya bisa menangis melihat Irul terus di pukuli. Ia ingin membantu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Perampok itu mengambil semua uang yang ada di tas Iren lalu melemparkan tas itu di wajah Irul yang berlumuran darah lalu pergi meninggalkan Irul sambil tertawa. Setelah peampok itu jauh, Iren yang masih terus menangis langsung menghampiri Irul yang terluka parah namun masih sadarkan diri bahkan ia masih bisa tersenyum kepada Iren. Mereka kembali ke stasiun.  Iren membantu Irul mengobati lukanya sambil terus menangis ia meminta maaf pada Irul, gara-gara dialah Irul terluka apalagi sebelumnya ia sempat menuduh Irul mencuri ponselnya. "udah mbak.. jangan nangis lagi.. kalau nangis mirip anak kecil yang belum makan.. eh tapi emang belum makan kan? Abis ini kita makan yuk.." ajak Irul. "mau makan pake apa? Emang kamu masih punya uang?" tanya Iren yang masih terisak tangis. "oiya dong.. tapi gak banyak sih.. tapi cukup kok untuk kita makan malam ini" kata Irul lalu tersenyum lebar di depan Iren, hal itu membuat Iren tertawa kecil. "kenapa? Aku lucu ya mbak?" tanya Irul. "namaku Iren.. jangan panggil mbak lagi yah.. kayak tukang jamu ajah.." ungkap Iren. "Iren? Wah.. ini kebetulan atau takdir.." kata Irul yang membuat Iren tak mengerti. "aku Irul, kamu Iren.. nama kita hampir mirip, jangan-jangan kita jodoh..". Iren mengerutkan dahi mendengar ucapan Irul. Irul lalu tertawa dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Irul menyuruh Iren menunggunya sementara ia pergi membeli makanan untuk mereka berdua. Irul membeli 2 nasi bungkus yang ia bayar dengan jam tangan yang ia gunakan karena sebenarnya ia sudah tidak punya uang. Mereka pun makan bersama. Malam sudah sangat larut, Iren pun terlihat sangat lelah dan mengantuk. Ia berbaring di pangkuan Irul sementara Irul tertidur dengan posisi duduk hingga pagi.
Esok harinya mereka kemudian sama-sama berfikir cara agar mereka bisa mendapatkan uang. Irul kemudian mengatakan kalau mereka bisa mengamen, tapi Iren tampaknya enggan melakukan itu. Setelah berfikir lama namun tak menemukan solusi lain, Iren akhirnya ikut menemani Irul mengamen. Mereka tampak kelelahan, Iren tak berhenti mengeluh kepanasan namun Irul hanya terus tersenyum mendengarnya. Siang hari mereka  kemudian istrahat sambil menghitung uang yang mereka dapatkan, walaupun tidak banyak tapi Iren tampak senang. Kemudian Irul tak sengaja melihat perampok itu, ia kemudian mengikutinya diam-diam hingga ke markas para perampok, tentu saja Iren ikut di belakang Irul. Irul memutuskan untuk menyusup ke dalam markas tapi Iren melarangnya, Irul tetap bersikeras hingga Iren memaksa untuk ikut dengannya. "Ren.. kamu tunggu disini aja yah.. aku  takut gak bisa lindungin kamu nanti.." kata Irul yang membuat Iren tersentuh. "tapi aku takut..." ucap Iren pelan. "kamu gak usah takut.. disini kan banyak orang.." kata Irul. "aku takut.. kamu di pukulin lagi sama mereka" kata Iren sambil menunduk. Irul terus meyakinkan Iren kalau ia akan baik-baik saja hingga Iren membiarkan Irul menyusup masuk. Irul kemudian melakukan aksinya, ia memakai topinya rapat-rapat lalu bergaya seakan ia juga seorang perampok. Ia menyusuri tiap ruangan hingga ia menemukan sebuah tas yang berisi uang. Irul hendak berjalan mengambil tas itu tapi sesoang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan menyapanya. Untung saja orang itu tak mengenali Irul. Irul kemudian beralasan bahwa ia di perintahkan untuk mengambil tas. Irul lalu mengambil tas itu dengan tenang dan berjalan keluar. Tapi semuanya tidak berjalan mulus ketika ia di halangi oleh beberapa orang di pintu depan yang mengenalnya bahwa Irul bukan bagian dari mereka. Irul lalu berbalik arah dan berlari. Orang-orang itu mengejar Irul. Irul berlari sambil melempar kursi dan sesuatu yang bisa ia lempar untuk mnghalangi orang-orang yang mengejarnya. Tapi ia terjebak dan tidak bisa menemukan pintu keluar, Irul kebingungan, kemudian ia memecahkan jendela dan melompat tapi tasnya tersangkut sementara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Dengan susah payah ia melepaskan tas itu, hingga tangannya tergores serpihan kaca. Untung saja ia bisa lolos tepat waktu dan bisa melarikan diri, tapi para perampok itu masih terus mengejarnya hingga ke lorong-lorong kecil, Irul tampak kebingungan menentukan arah jalan keluar, tiba-tiba seseorang menariknya hingga para perampok itu tidak menemukannya. Ternyata yang menarik Irul adalah Iren, tapi karena tempat itu sempit, posisi mereka sangat dekat dan keduanya merasa canggung. Setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian lalu melihat isi tas itu. Keduanya sama-sama kaget melihat uang itu yang sangat banyak. Mereka jadi pusing untuk menghabiskan uang itu, lalu Iren bercerita kalau tujuannya ke Bandung untuk liburan tapi semuanya kacau gara-gara perampok itu. Irul kemudian mengajak Iren untuk liburan bersama. Dan liburan mereka pun di mulai. Mereka pergi ke beberapa tempat wisata, dan bersenang-senang bersama selama tiga hari. Mereka tampak akrab dan menikmati kebersamaan mereka. Setelah itu mereka ke stasiun untuk segera pulang ke Jakarta. Namun sayangnya, tiket yang tersisa untuk hari ini hanya satu. Irul memberikan tiket itu untuk Iren agar Iren bisa pulang secepatnya. "terus kamu gimana?" tanya Iren khawatir. "aku kan bisa pulang besok, atau bisa pulang beberapa hari lagi.. kamu gak usah khawatir tentang aku, aku bukan anak manja yang gak bisa apa-apa kayak kamu" kata Irul meledek Iren. Iren ingin marah tapi ia sadar yang dikatakan Irul itu benar. "tapi karena anak manja ini aku bisa lolos dari kejaran para perampok" kata Irul sambil mengacak-acak rambut Iren. Iren hanya menunduk seakan tak rela berpisah dengan Irul. Kereta pun datang, Irul menyuruh Iren untuk segera naik agar tidak ketinggalan lagi seperti dulu. Iren lalu tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Irul yang sangat tidak di sengaja. Tapi Irul malah mengingat Iren yang cuek dan tidak mau mengajaknya bicara. Lalu mereka tertawa bersama. Setelah itu Iren naik ke kereta dan hanya melihat Irul yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Selama perjalanan Iren terlihat murung. Beberapa jam kemudian Iren akhirnya tiba di Jakarta. Setelah sampai Rumah ia di sambut orang tuanya dengan khawatir karena Iren lupa membawa ponsel sehingga ia tidak bisa di hubungi. Iren pun terkejut ternyata ponselnya tidak hilang tapi hanya ketinggalan di rumah. Iren menenangkan orang tuanya kalau ia tidak apa-apa dan bercerita bahwa liburannya sangat menyenangkan. Iren kemudian beristirahat di kamarnya, ia termenung sambil teringat kenangannya dengan Irul, dari pertama mereka bertemu, hingga semua kesusahan yang mereka lewati bersama dan liburannya bersama Irul yang sangat menyenangkan, ia juga teringat dengan ocehan Irul dan ketika Irul tidak sengaja memeluknya, yang terakhir ketika ia menarik Irul bersembunyi hingga posisi mereka sangat dekat, Iren senyum-senyum sendiri mengingatnya. "kok aku gak minta nomer HP nya yah.. bahkan aku belum sempat bilang terimah kasih ke dia" kata Iren penuh sesal.
Hari-hari pun berlalu, hingga tibalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.  Terlihat Iren yang sudah siap-siap di antar oleh ayahnya untuk ke Sekolah, namun sialnya di tengah jalan ban mobil Iren bocor, terpaksa Iren harus naik Bis agar tidak terlambat ke Sekolah. Bis yang di naiki Iren sudah penuh bahkan banyak yang berdiri sambil berdesak-desakan termasuk Iren. Ketika menoleh, tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal duduk di bangku paling belakang. Iren mencoba mendekat dan ternyata itu adalah Irul. Iren tak bisa menyembunyikan kebahagiannya bisa melihat Irul lagi, namun Irul sempat terbelalak melihat Iren yang memakai seragam sekolahnya. "kamu masih anak SMA?" tanya Irul tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "emang kenapa?" tanya Iren. "gak papa sih.. cuman kamu kelihatan lebih tua dari umur kamu.. aku fikir kita seumuran" kata Irul lalu tertawa. Iren cemberut mendengarnya. "emang sekarang kamu umur berapa?" tanya Iren. "23.." jawab Irul. Iren mengerutkan dahi menatap Irul. "kenapa? Aku masih kayak anak SMA yah? Gak heran sih.. banyak kok yang bilang kayak gitu.. tau gak kenapa? Itu karena aku selalu senyum sama orang.. gak kayak kamu.. judes!!" kata Irul yang semakin membuat Iren cemberut, tapi setelah itu ia tersenyum karena ia baru saja mendengar ocehan Irul yang sudah lama tidak ia dengar. "aku kangen... sama anak manja yang gak bisa apa-apa.. sama anak yang katanya capek denger aku ngoceh terus... gak nyangka aku bisa ketemu dia disini.." ungkap Irul sambil tersenyum. "kenapa? Kamu ngarep kita ketemunya di stasiun lagi?" tanya Iren. "gak juga sih.. malah aku ngarepnya kita ketemu di pelaminan.." jawab Irul dengan bercanda. "apaansih.." seru Iren yang hendak memukul Irul dengan tasnya tapi Irul dengan cepat menahan tangan Iren lalu menggenggamnya. Iren sedikit terkejut. Iren kemudian menatap Irul yang juga sedang menatapnya penuh arti. Hingga beberapa detik mereka saling bertatapan. Kemudian seluruh penumpang menyoraki mereka berdua membuat Iren tersipu malu sementara Irul hanya terus menatap Iren sambil tersenyum.
***SELESAI***
"Cinta itu gak kenal tempat, gak kenal waktu. Datang dimana saja dan kapan saja. Yang pasti cinta itu datang dengan sendirinya, gak perlu di minta dan gak bisa di paksa."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

di mohon untuk tidak men copy paste apapun dari blog ini.