Libur
panjang telah tiba, beberapa anak sekolah pasti sudah mempersiapkan rencana
liburan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Iren, murid di salah satu SMA
yang kini duduk di bangku kelas 2 sudah merencanakan liburannya di jauh-jauh
hari. Ia akan berlibur ke Bandung sendirian tanpa orang tua nya. Liburan ini
telah lama di idam-idamkan oleh Iren tapi orang tuanya tidak pernah memberi
izin, namun tahun ini Iren bersikeras agar orang tuanya memberi izin.
"Ma.. Pa.. aku udah 17 Tahun.. masa Mama sama Papa belum bisa percaya sih
kalau Iren bisa mandiri" itulah kata yang di ucapkan Iren kepada orang
tuanya. Karena Iren terus merengek, orang tuanya pun kasihan hingga akhirnya
memberi izin kepada Iren tapi dengan catatan, HP Iren harus selalu aktif. Iren
pun mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa nantinya. Esok hari
pun tiba, Iren sudah siap-siap untuk berangkat, tapi tiba-tiba saja Ibunya
minta di antar ke pasar karena sebentar siang akan ada arisan di rumahnya.
Tentu saja Iren menolak karena sebentar lagi kereta yang akan di tumpanginya
akan berangkat. Tapi Ibunya mengancam jika Iren tidak mau, maka Ibunya akan melarang
Iren pergi berlibur, dengan wajah yang cemberut ia pun menemani Ibunya ke
pasar. Iren hampir kehilangan kesabaran menunggu Ibunya yang belanja terlalu
lama. Beberapa saat kemudian Ibunya pun muncul, begitu Ibunya naik ke mobil
Iren langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat hingga Ibunya protes tapi
Iren tidak peduli dengan ocehan Ibunya dan akhirnya ia pun sampai di rumahnya.
Dengan sangat terburu-buru ia mengambil barang-barangnya dan tak sadar ia lupa
mengambil ponsel miliknya. Ia lalu ke stasiun mengendarai Taksi. Ketika sampai
di stasiun, ia berlari dengan kencang, namun sialnya ia menabrak seseorang
hingga barang bawaannya berhamburan. Sebelum ia selesai membereskan
barang-barangnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang akan menuju Bandung
telah berangkat. Iren pun hendak berlari mengejar kereta itu, namun sialnya
lagi seorang pemuda menabraknya dari belakang dan membuat barang-barangnya
kembali berjatuhan.
"aduh
maaf mbak.. saya buru-buru.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi.
Tapi Iren menarik baju pemuda itu menahannya untuk tidak pergi. "Mas
bantuin saya dulu dong ! barang-barang saya jatuh gara-gara Mas nabrak
saya!" kata Iren sedikit kesal.
"tapi
saya lagi buru-buru mbak. Itu keretanya udah berangkat.." kata pemuda itu
lalu hendak berlari lagi, namun lagi-lagi Iren menahannya. "emang Mas
doang yang ketinggalan kereta! Saya juga!" kata Iren. Akhirnya pemuda itu
mau membantu Iren walaupun sedikit protes. Setelah itu Iren menuju tempat
penjualan tiket, pemuda itu ikut di belakang Iren. Iren lalu bertanya kepada
pemuda itu kenapa ia mengikutinya. Pemuda itu kemudian menertawakan Iren karena
pemuda itu bukan mengikuti Iren melainkan ia juga ingin membeli tiket. Iren pun
tampak malu dan berjalan lebih cepat mendahului pemuda itu. Masih ada satu
kereta yang akan ke Bandung tapi kereta itu akan berangkat pukul 2 siang
sementara sekarang masih pukul 10 pagi tapi keduanya tetap mengambil tiket itu
dan memutuskan untuk menunggu di stasiun itu. "mau ke Bandung juga?"
tanya pemuda itu. Iren hanya mengangguk. "sama dong.. tapi ini pertama
kali saya ke Bandung loh..." ucap pemuda itu yang tak di respon oleh Iren.
Pemuda itu lalu tertawa garing. "gak penting ya?" tanya pemuda itu
yang lagi-lagi tak di respon oleh Iren. Pemuda itu pun beranjak pergi tapi
beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa makanan. Ia menawarkan makanannya
untuk Iren tapi Iren menolaknya. "kamu gak lapar? Atau kamu takut saya
racuni? Saya bukan orang jahat kok..
atau jangan-jangan kamu Cuma gengsi lagi.. gengsi itu sering
menghancurkan segalanya loh.." kata pemuda itu yang terus mengoceh
sendiri. "Mas gak capek ngomong sendiri?" tanya Iren tiba-tiba.
"nggak..." jawab pemuda itu. "kalau saya sih capek.. capek
denger Mas ngoceh terus.." kata Iren yang membuat pemuda itu terdiam. Setelah
beberapa lama menunggu kereta yang mereka pun datang, mereka naik bersamaan
hingga sempat saling berdesakan di pintu, lalu mereka duduk bersebelahan. Iren
tampak tak suka duduk disebelah pemuda itu, sementara pemuda itu terlihat
biasa-biasa saja. Selama perjalanan Iren tertidur, bahkan ia tak sadar
bersandar di bahu pemuda itu. Untung saja pemuda itu mau menahannya. Tapi
ketika Iren terbangun, ia malah marah kepada pemuda tersebut dan menganggap
pemuda itu tidak sopan padanya. Pemuda itu menjelaskan kalau ia sama sekali
tidak meneyentuhnya, ia hanya kasihan melihat Iren yang terlihat lelah.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, semua penumpang
berdesakan turun dari kereta, ketika telah turun dari kereta, seseorang dengan
sengaja menubruk pemuda itu dari belakang hingga pemuda itu juga menubruk Iren
yang ada di depannya. Pemuda itu langsung memeluk Iren agar Iren tidak jatuh.
Iren yang kaget langsung mendorong
pemuda itu dan memarahinya. Pemuda itu ingin menjelaskan tapi Iren tidak
memberinya kesempatan dan langsung pergi. Tidak lama setelah itu, Iren
menyadari kalau ponsel nya tidak ada, ia langsung mengira kalau pemuda itu yang
mengambilnya karena sejak tadi ia hanya bersama pemuda itu. Iren langsung berlari
mencari pemuda itu, tentu saja dengan susah payah karena ia berlari dengan
membawa koper. Pemuda itu hendak naik ke taksi, namun tiba-tiba Iren datang dan
menahannya pergi. "Mas... Mas tunggu Mas.. aduh namanya siapa lagi.. Mas
jangan pergi dulu" teriak Iren sambil berlari menghampiri pemuda
itu."aduh.. nama kamu siapa sih?" tanya Iren ngos-ngosan. Pemuda itu
malah tertawa. "Mbak ngejar saya cuma pengen nanya nama saya siapa? Hahaha nama
saya Irul mbak.. nggak sekalian minta nomer HP?" kata pemuda itu sedikit
bercanda. "nomer HP kamu gak penting, yang penting itu balikin HP saya
sekarang!" kata Iren. "wah.. mbak ini lucu, kapan saya ngambil HP
mbak?" kata pemuda itu masih dengan nada bercanda. "kamu fikir saya
bodoh.. kamu udah 2 kali nabrak saya, pasti kamu pake kesempatan itukan untuk
ngambil HP saya.." tuduh Iren. "wah.. kebanyakan nonton sinetron ni
pasti.. saya ini orang baik-baik.. mbak gak bisa bedain mana tampan copet, mana
tampan perampok.. eh maksudnya tampan anak soleh.." ucap pemuda yang bernama
Irul itu. "mana ada maling mau ngaku.." kata Iren yang terus mendesak
Irul. "ya emang gak ada.. kalau maling mau ngaku, semua koruptor udah
ketangkep mbak.. sejahtera deh negeri kita.. koruptor kan maling duit rakyat".
"kenapa jadi bahas koruptor sih.. HP saya mana..." mereka terus
berdebat hingga Irul menyadari kalau dompetnya tidak ada dalam sakunya. Irul
lalu mengingat sesuatu dengan panik ia berlari kembali masuk ke stasiun, Iren
menyusul Irul. Irul mengarahkan pandangannya ke segalah arah seakan mencari
seseorang, ia sempat merasa legah ketika ia melihat dompetnya di dekat tempat
sampah, namun ketika ia melihat isi dompetnya sudah tidak ada wajahnya berubah
menjadi kesal. Saat ia menoleh ke arah Iren yang berjalan hendak menemuinya, ia
melihat orang yang tadi menubruknya hendak merampok tas Iren, Irul berlari ke
arah Iren tapi perampok itu lebih dulu mengambil tas Iren. Iren yang kaget
tidak bisa berbuat apa-apa sementara Irul mengejar perampok itu. Irul mencoba
merebut tas itu bahkan sampai saling memukul, namun sialnya teman-teman
perampok itu datang dan mengeroyok Irul hingga Irul tidak bisa melawan, ia
terkapar di tanah namun masih sempat melihat Iren yang hendak mendekatinya,
tapi Irul memberi isyarat dengan tangannya agar Iren menjauh dan bersebunyi
jangan sampai perampok itu melihatnya. Iren pun bersembunyi di balik tembok dan
hanya bisa menangis melihat Irul terus di pukuli. Ia ingin membantu tapi ia tak
bisa berbuat apa-apa. Perampok itu mengambil semua uang yang ada di tas Iren
lalu melemparkan tas itu di wajah Irul yang berlumuran darah lalu pergi
meninggalkan Irul sambil tertawa. Setelah peampok itu jauh, Iren yang masih
terus menangis langsung menghampiri Irul yang terluka parah namun masih
sadarkan diri bahkan ia masih bisa tersenyum kepada Iren. Mereka kembali ke
stasiun. Iren membantu Irul mengobati
lukanya sambil terus menangis ia meminta maaf pada Irul, gara-gara dialah Irul
terluka apalagi sebelumnya ia sempat menuduh Irul mencuri ponselnya. "udah
mbak.. jangan nangis lagi.. kalau nangis mirip anak kecil yang belum makan.. eh
tapi emang belum makan kan? Abis ini kita makan yuk.." ajak Irul.
"mau makan pake apa? Emang kamu masih punya uang?" tanya Iren yang
masih terisak tangis. "oiya dong.. tapi gak banyak sih.. tapi cukup kok
untuk kita makan malam ini" kata Irul lalu tersenyum lebar di depan Iren,
hal itu membuat Iren tertawa kecil. "kenapa? Aku lucu ya mbak?" tanya
Irul. "namaku Iren.. jangan panggil mbak lagi yah.. kayak tukang jamu
ajah.." ungkap Iren. "Iren? Wah.. ini kebetulan atau takdir.."
kata Irul yang membuat Iren tak mengerti. "aku Irul, kamu Iren.. nama kita
hampir mirip, jangan-jangan kita jodoh..". Iren mengerutkan dahi mendengar
ucapan Irul. Irul lalu tertawa dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Irul
menyuruh Iren menunggunya sementara ia pergi membeli makanan untuk mereka
berdua. Irul membeli 2 nasi bungkus yang ia bayar dengan jam tangan yang ia
gunakan karena sebenarnya ia sudah tidak punya uang. Mereka pun makan bersama.
Malam sudah sangat larut, Iren pun terlihat sangat lelah dan mengantuk. Ia
berbaring di pangkuan Irul sementara Irul tertidur dengan posisi duduk hingga
pagi.
Esok
harinya mereka kemudian sama-sama berfikir cara agar mereka bisa mendapatkan
uang. Irul kemudian mengatakan kalau mereka bisa mengamen, tapi Iren tampaknya
enggan melakukan itu. Setelah berfikir lama namun tak menemukan solusi lain,
Iren akhirnya ikut menemani Irul mengamen. Mereka tampak kelelahan, Iren tak
berhenti mengeluh kepanasan namun Irul hanya terus tersenyum mendengarnya.
Siang hari mereka kemudian istrahat sambil
menghitung uang yang mereka dapatkan, walaupun tidak banyak tapi Iren tampak
senang. Kemudian Irul tak sengaja melihat perampok itu, ia kemudian
mengikutinya diam-diam hingga ke markas para perampok, tentu saja Iren ikut di
belakang Irul. Irul memutuskan untuk menyusup ke dalam markas tapi Iren
melarangnya, Irul tetap bersikeras hingga Iren memaksa untuk ikut dengannya.
"Ren.. kamu tunggu disini aja yah.. aku
takut gak bisa lindungin kamu nanti.." kata Irul yang membuat Iren
tersentuh. "tapi aku takut..." ucap Iren pelan. "kamu gak usah
takut.. disini kan banyak orang.." kata Irul. "aku takut.. kamu di
pukulin lagi sama mereka" kata Iren sambil menunduk. Irul terus meyakinkan
Iren kalau ia akan baik-baik saja hingga Iren membiarkan Irul menyusup masuk.
Irul kemudian melakukan aksinya, ia memakai topinya rapat-rapat lalu bergaya
seakan ia juga seorang perampok. Ia menyusuri tiap ruangan hingga ia menemukan
sebuah tas yang berisi uang. Irul hendak berjalan mengambil tas itu tapi
sesoang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan menyapanya. Untung saja
orang itu tak mengenali Irul. Irul kemudian beralasan bahwa ia di perintahkan
untuk mengambil tas. Irul lalu mengambil tas itu dengan tenang dan berjalan
keluar. Tapi semuanya tidak berjalan mulus ketika ia di halangi oleh beberapa
orang di pintu depan yang mengenalnya bahwa Irul bukan bagian dari mereka. Irul
lalu berbalik arah dan berlari. Orang-orang itu mengejar Irul. Irul berlari
sambil melempar kursi dan sesuatu yang bisa ia lempar untuk mnghalangi
orang-orang yang mengejarnya. Tapi ia terjebak dan tidak bisa menemukan pintu
keluar, Irul kebingungan, kemudian ia memecahkan jendela dan melompat tapi
tasnya tersangkut sementara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Dengan
susah payah ia melepaskan tas itu, hingga tangannya tergores serpihan kaca.
Untung saja ia bisa lolos tepat waktu dan bisa melarikan diri, tapi para
perampok itu masih terus mengejarnya hingga ke lorong-lorong kecil, Irul tampak
kebingungan menentukan arah jalan keluar, tiba-tiba seseorang menariknya hingga
para perampok itu tidak menemukannya. Ternyata yang menarik Irul adalah Iren,
tapi karena tempat itu sempit, posisi mereka sangat dekat dan keduanya merasa
canggung. Setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian lalu melihat
isi tas itu. Keduanya sama-sama kaget melihat uang itu yang sangat banyak.
Mereka jadi pusing untuk menghabiskan uang itu, lalu Iren bercerita kalau
tujuannya ke Bandung untuk liburan tapi semuanya kacau gara-gara perampok itu.
Irul kemudian mengajak Iren untuk liburan bersama. Dan liburan mereka pun di
mulai. Mereka pergi ke beberapa tempat wisata, dan bersenang-senang bersama
selama tiga hari. Mereka tampak akrab dan menikmati kebersamaan mereka. Setelah
itu mereka ke stasiun untuk segera pulang ke Jakarta. Namun sayangnya, tiket
yang tersisa untuk hari ini hanya satu. Irul memberikan tiket itu untuk Iren
agar Iren bisa pulang secepatnya. "terus kamu gimana?" tanya Iren
khawatir. "aku kan bisa pulang besok, atau bisa pulang beberapa hari
lagi.. kamu gak usah khawatir tentang aku, aku bukan anak manja yang gak bisa
apa-apa kayak kamu" kata Irul meledek Iren. Iren ingin marah tapi ia sadar
yang dikatakan Irul itu benar. "tapi karena anak manja ini aku bisa lolos
dari kejaran para perampok" kata Irul sambil mengacak-acak rambut Iren.
Iren hanya menunduk seakan tak rela berpisah dengan Irul. Kereta pun datang,
Irul menyuruh Iren untuk segera naik agar tidak ketinggalan lagi seperti dulu.
Iren lalu tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Irul yang sangat tidak di
sengaja. Tapi Irul malah mengingat Iren yang cuek dan tidak mau mengajaknya
bicara. Lalu mereka tertawa bersama. Setelah itu Iren naik ke kereta dan hanya
melihat Irul yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Selama perjalanan Iren
terlihat murung. Beberapa jam kemudian Iren akhirnya tiba di Jakarta. Setelah
sampai Rumah ia di sambut orang tuanya dengan khawatir karena Iren lupa membawa
ponsel sehingga ia tidak bisa di hubungi. Iren pun terkejut ternyata ponselnya
tidak hilang tapi hanya ketinggalan di rumah. Iren menenangkan orang tuanya
kalau ia tidak apa-apa dan bercerita bahwa liburannya sangat menyenangkan. Iren
kemudian beristirahat di kamarnya, ia termenung sambil teringat kenangannya
dengan Irul, dari pertama mereka bertemu, hingga semua kesusahan yang mereka
lewati bersama dan liburannya bersama Irul yang sangat menyenangkan, ia juga
teringat dengan ocehan Irul dan ketika Irul tidak sengaja memeluknya, yang
terakhir ketika ia menarik Irul bersembunyi hingga posisi mereka sangat dekat, Iren
senyum-senyum sendiri mengingatnya. "kok aku gak minta nomer HP nya yah..
bahkan aku belum sempat bilang terimah kasih ke dia" kata Iren penuh
sesal.
Hari-hari
pun berlalu, hingga tibalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Terlihat Iren yang sudah siap-siap di antar
oleh ayahnya untuk ke Sekolah, namun sialnya di tengah jalan ban mobil Iren
bocor, terpaksa Iren harus naik Bis agar tidak terlambat ke Sekolah. Bis yang
di naiki Iren sudah penuh bahkan banyak yang berdiri sambil berdesak-desakan
termasuk Iren. Ketika menoleh, tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal
duduk di bangku paling belakang. Iren mencoba mendekat dan ternyata itu adalah
Irul. Iren tak bisa menyembunyikan kebahagiannya bisa melihat Irul lagi, namun
Irul sempat terbelalak melihat Iren yang memakai seragam sekolahnya. "kamu
masih anak SMA?" tanya Irul tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"emang kenapa?" tanya Iren. "gak papa sih.. cuman kamu kelihatan
lebih tua dari umur kamu.. aku fikir kita seumuran" kata Irul lalu
tertawa. Iren cemberut mendengarnya. "emang sekarang kamu umur
berapa?" tanya Iren. "23.." jawab Irul. Iren mengerutkan dahi
menatap Irul. "kenapa? Aku masih kayak anak SMA yah? Gak heran sih..
banyak kok yang bilang kayak gitu.. tau gak kenapa? Itu karena aku selalu
senyum sama orang.. gak kayak kamu.. judes!!" kata Irul yang semakin
membuat Iren cemberut, tapi setelah itu ia tersenyum karena ia baru saja
mendengar ocehan Irul yang sudah lama tidak ia dengar. "aku kangen... sama
anak manja yang gak bisa apa-apa.. sama anak yang katanya capek denger aku
ngoceh terus... gak nyangka aku bisa ketemu dia disini.." ungkap Irul
sambil tersenyum. "kenapa? Kamu ngarep kita ketemunya di stasiun lagi?"
tanya Iren. "gak juga sih.. malah aku ngarepnya kita ketemu di
pelaminan.." jawab Irul dengan bercanda. "apaansih.." seru Iren
yang hendak memukul Irul dengan tasnya tapi Irul dengan cepat menahan tangan
Iren lalu menggenggamnya. Iren sedikit terkejut. Iren kemudian menatap Irul
yang juga sedang menatapnya penuh arti. Hingga beberapa detik mereka saling
bertatapan. Kemudian seluruh penumpang menyoraki mereka berdua membuat Iren
tersipu malu sementara Irul hanya terus menatap Iren sambil tersenyum.
***SELESAI***
"Cinta
itu gak kenal tempat, gak kenal waktu. Datang dimana saja dan kapan saja. Yang
pasti cinta itu datang dengan sendirinya, gak perlu di minta dan gak bisa di
paksa."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar