Minggu, 29 November 2015

Kangen Masa SMA

Masih belum bisa move on dari masa SMA.. Mungkin krn terlalu banyak kenangan.. atau terlalu banyak kesalahan yg harus di perbaiki.. Entahlah, tp skrg rasanya itu cuman lagi libur dan suatu saat bakal balik skolah... Ingatan aku yg memakai seragam, berlari di koridor sekolah.. Jalan sama temen2.. Terlambat,, di hukum, kena marah, tugas gak selesai, ulangan nilainya jelek, kejar2an di lapangan skolah.. Foto2, seru2an bareng, becanda, gila2an bareng, ngerusuh.. Trus bertengkar, marahan, nangis.. Semuanya masih terasa banget... Gak pengen jadiin smw itu kenangan... Masih pengen ngelakuin kegilaan2 yg dilakuin anak SMA.. Msh pengen bolos.. Masih pengen duduk di kelas, masih pengen tiduran di kelas, masih pengen semuanyaaaa _
kangen sama ruang kelas, kangen sama ocehan guru2, kangen sama sekolah, kangen sama temen2... Kangen make seragam... kangen semuaaaanyaaaa :'(
  
Dulu pas masih sekolah, aku sering denger, sering baca kalau masa paling Indah dalam hidup itu masa-masa SMA, putih abu-abu yang gak akan pernah bisa terlupakan, dan emang bener, aku udah ngerasain sendiri hal itu. Saat itu, kita ngelakuin banyak kesalahan-kesalahan dan baru akan sadar setelah kita flashback ke masa itu. Saat itu kita ngelakuin banyak kebodohan-kebodohan dan akan sangat merindukannya ketika kita tidak bisa mengulang moment itu lagi. karena moment yang telah berlalu, meskipun diulang tidak akan pernah sama lagi. saat itu kita gak sadar kalau kita udah buat kenangan yang indah banget, kita taunya dulu tuh cuman having fun. Rasanya pen nangis pas inget semuanya, canda tawa di kelas, kita yang kadang berantem, dihukum bareng-bareng, buat guru marah, paling seneng pas guru gak masuk, tapi paling males kalau gurunya dateng on time tapi keluarnya over time. Kekompakan pas ulangan, bahkan kesannya ulangan itu bukan uji kemampuan tapi uji solidaritas. aku ingin kembali kemasa itu, memperbaiki semua kesalahan yang membuat kita saling melupakan, aku ingin mengulang semua kegilaan yang pernah kita lakukan.

Sabtu, 21 November 2015

[Fiction Story] "Stasiun Kereta"



Libur panjang telah tiba, beberapa anak sekolah pasti sudah mempersiapkan rencana liburan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Iren, murid di salah satu SMA yang kini duduk di bangku kelas 2 sudah merencanakan liburannya di jauh-jauh hari. Ia akan berlibur ke Bandung sendirian tanpa orang tua nya. Liburan ini telah lama di idam-idamkan oleh Iren tapi orang tuanya tidak pernah memberi izin, namun tahun ini Iren bersikeras agar orang tuanya memberi izin. "Ma.. Pa.. aku udah 17 Tahun.. masa Mama sama Papa belum bisa percaya sih kalau Iren bisa mandiri" itulah kata yang di ucapkan Iren kepada orang tuanya. Karena Iren terus merengek, orang tuanya pun kasihan hingga akhirnya memberi izin kepada Iren tapi dengan catatan, HP Iren harus selalu aktif. Iren pun mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa nantinya. Esok hari pun tiba, Iren sudah siap-siap untuk berangkat, tapi tiba-tiba saja Ibunya minta di antar ke pasar karena sebentar siang akan ada arisan di rumahnya. Tentu saja Iren menolak karena sebentar lagi kereta yang akan di tumpanginya akan berangkat. Tapi Ibunya mengancam jika Iren tidak mau, maka Ibunya akan melarang Iren pergi berlibur, dengan wajah yang cemberut ia pun menemani Ibunya ke pasar. Iren hampir kehilangan kesabaran menunggu Ibunya yang belanja terlalu lama. Beberapa saat kemudian Ibunya pun muncul, begitu Ibunya naik ke mobil Iren langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat hingga Ibunya protes tapi Iren tidak peduli dengan ocehan Ibunya dan akhirnya ia pun sampai di rumahnya. Dengan sangat terburu-buru ia mengambil barang-barangnya dan tak sadar ia lupa mengambil ponsel miliknya. Ia lalu ke stasiun mengendarai Taksi. Ketika sampai di stasiun, ia berlari dengan kencang, namun sialnya ia menabrak seseorang hingga barang bawaannya berhamburan. Sebelum ia selesai membereskan barang-barangnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang akan menuju Bandung telah berangkat. Iren pun hendak berlari mengejar kereta itu, namun sialnya lagi seorang pemuda menabraknya dari belakang dan membuat barang-barangnya kembali berjatuhan.
"aduh maaf mbak.. saya buru-buru.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi. Tapi Iren menarik baju pemuda itu menahannya untuk tidak pergi. "Mas bantuin saya dulu dong ! barang-barang saya jatuh gara-gara Mas nabrak saya!" kata Iren sedikit kesal.
"tapi saya lagi buru-buru mbak. Itu keretanya udah berangkat.." kata pemuda itu lalu hendak berlari lagi, namun lagi-lagi Iren menahannya. "emang Mas doang yang ketinggalan kereta! Saya juga!" kata Iren. Akhirnya pemuda itu mau membantu Iren walaupun sedikit protes. Setelah itu Iren menuju tempat penjualan tiket, pemuda itu ikut di belakang Iren. Iren lalu bertanya kepada pemuda itu kenapa ia mengikutinya. Pemuda itu kemudian menertawakan Iren karena pemuda itu bukan mengikuti Iren melainkan ia juga ingin membeli tiket. Iren pun tampak malu dan berjalan lebih cepat mendahului pemuda itu. Masih ada satu kereta yang akan ke Bandung tapi kereta itu akan berangkat pukul 2 siang sementara sekarang masih pukul 10 pagi tapi keduanya tetap mengambil tiket itu dan memutuskan untuk menunggu di stasiun itu. "mau ke Bandung juga?" tanya pemuda itu. Iren hanya mengangguk. "sama dong.. tapi ini pertama kali saya ke Bandung loh..." ucap pemuda itu yang tak di respon oleh Iren. Pemuda itu lalu tertawa garing. "gak penting ya?" tanya pemuda itu yang lagi-lagi tak di respon oleh Iren. Pemuda itu pun beranjak pergi tapi beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa makanan. Ia menawarkan makanannya untuk Iren tapi Iren menolaknya. "kamu gak lapar? Atau kamu takut saya racuni? Saya bukan orang jahat kok..  atau jangan-jangan kamu Cuma gengsi lagi.. gengsi itu sering menghancurkan segalanya loh.." kata pemuda itu yang terus mengoceh sendiri. "Mas gak capek ngomong sendiri?" tanya Iren tiba-tiba. "nggak..." jawab pemuda itu. "kalau saya sih capek.. capek denger Mas ngoceh terus.." kata Iren yang membuat pemuda itu terdiam. Setelah beberapa lama menunggu kereta yang mereka pun datang, mereka naik bersamaan hingga sempat saling berdesakan di pintu, lalu mereka duduk bersebelahan. Iren tampak tak suka duduk disebelah pemuda itu, sementara pemuda itu terlihat biasa-biasa saja. Selama perjalanan Iren tertidur, bahkan ia tak sadar bersandar di bahu pemuda itu. Untung saja pemuda itu mau menahannya. Tapi ketika Iren terbangun, ia malah marah kepada pemuda tersebut dan menganggap pemuda itu tidak sopan padanya. Pemuda itu menjelaskan kalau ia sama sekali tidak meneyentuhnya, ia hanya kasihan melihat Iren yang terlihat lelah. Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, semua penumpang berdesakan turun dari kereta, ketika telah turun dari kereta, seseorang dengan sengaja menubruk pemuda itu dari belakang hingga pemuda itu juga menubruk Iren yang ada di depannya. Pemuda itu langsung memeluk Iren agar Iren tidak jatuh. Iren yang kaget langsung  mendorong pemuda itu dan memarahinya. Pemuda itu ingin menjelaskan tapi Iren tidak memberinya kesempatan dan langsung pergi. Tidak lama setelah itu, Iren menyadari kalau ponsel nya tidak ada, ia langsung mengira kalau pemuda itu yang mengambilnya karena sejak tadi ia hanya bersama pemuda itu. Iren langsung berlari mencari pemuda itu, tentu saja dengan susah payah karena ia berlari dengan membawa koper. Pemuda itu hendak naik ke taksi, namun tiba-tiba Iren datang dan menahannya pergi. "Mas... Mas tunggu Mas.. aduh namanya siapa lagi.. Mas jangan pergi dulu" teriak Iren sambil berlari menghampiri pemuda itu."aduh.. nama kamu siapa sih?" tanya Iren ngos-ngosan. Pemuda itu malah tertawa. "Mbak ngejar saya  cuma pengen nanya nama saya siapa? Hahaha nama saya Irul mbak.. nggak sekalian minta nomer HP?" kata pemuda itu sedikit bercanda. "nomer HP kamu gak penting, yang penting itu balikin HP saya sekarang!" kata Iren. "wah.. mbak ini lucu, kapan saya ngambil HP mbak?" kata pemuda itu masih dengan nada bercanda. "kamu fikir saya bodoh.. kamu udah 2 kali nabrak saya, pasti kamu pake kesempatan itukan untuk ngambil HP saya.." tuduh Iren. "wah.. kebanyakan nonton sinetron ni pasti.. saya ini orang baik-baik.. mbak gak bisa bedain mana tampan copet, mana tampan perampok.. eh maksudnya tampan anak soleh.." ucap pemuda yang bernama Irul itu. "mana ada maling mau ngaku.." kata Iren yang terus mendesak Irul. "ya emang gak ada.. kalau maling mau ngaku, semua koruptor udah ketangkep mbak.. sejahtera deh negeri kita.. koruptor kan maling duit rakyat". "kenapa jadi bahas koruptor sih.. HP saya mana..." mereka terus berdebat hingga Irul menyadari kalau dompetnya tidak ada dalam sakunya. Irul lalu mengingat sesuatu dengan panik ia berlari kembali masuk ke stasiun, Iren menyusul Irul. Irul mengarahkan pandangannya ke segalah arah seakan mencari seseorang, ia sempat merasa legah ketika ia melihat dompetnya di dekat tempat sampah, namun ketika ia melihat isi dompetnya sudah tidak ada wajahnya berubah menjadi kesal. Saat ia menoleh ke arah Iren yang berjalan hendak menemuinya, ia melihat orang yang tadi menubruknya hendak merampok tas Iren, Irul berlari ke arah Iren tapi perampok itu lebih dulu mengambil tas Iren. Iren yang kaget tidak bisa berbuat apa-apa sementara Irul mengejar perampok itu. Irul mencoba merebut tas itu bahkan sampai saling memukul, namun sialnya teman-teman perampok itu datang dan mengeroyok Irul hingga Irul tidak bisa melawan, ia terkapar di tanah namun masih sempat melihat Iren yang hendak mendekatinya, tapi Irul memberi isyarat dengan tangannya agar Iren menjauh dan bersebunyi jangan sampai perampok itu melihatnya. Iren pun bersembunyi di balik tembok dan hanya bisa menangis melihat Irul terus di pukuli. Ia ingin membantu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Perampok itu mengambil semua uang yang ada di tas Iren lalu melemparkan tas itu di wajah Irul yang berlumuran darah lalu pergi meninggalkan Irul sambil tertawa. Setelah peampok itu jauh, Iren yang masih terus menangis langsung menghampiri Irul yang terluka parah namun masih sadarkan diri bahkan ia masih bisa tersenyum kepada Iren. Mereka kembali ke stasiun.  Iren membantu Irul mengobati lukanya sambil terus menangis ia meminta maaf pada Irul, gara-gara dialah Irul terluka apalagi sebelumnya ia sempat menuduh Irul mencuri ponselnya. "udah mbak.. jangan nangis lagi.. kalau nangis mirip anak kecil yang belum makan.. eh tapi emang belum makan kan? Abis ini kita makan yuk.." ajak Irul. "mau makan pake apa? Emang kamu masih punya uang?" tanya Iren yang masih terisak tangis. "oiya dong.. tapi gak banyak sih.. tapi cukup kok untuk kita makan malam ini" kata Irul lalu tersenyum lebar di depan Iren, hal itu membuat Iren tertawa kecil. "kenapa? Aku lucu ya mbak?" tanya Irul. "namaku Iren.. jangan panggil mbak lagi yah.. kayak tukang jamu ajah.." ungkap Iren. "Iren? Wah.. ini kebetulan atau takdir.." kata Irul yang membuat Iren tak mengerti. "aku Irul, kamu Iren.. nama kita hampir mirip, jangan-jangan kita jodoh..". Iren mengerutkan dahi mendengar ucapan Irul. Irul lalu tertawa dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Irul menyuruh Iren menunggunya sementara ia pergi membeli makanan untuk mereka berdua. Irul membeli 2 nasi bungkus yang ia bayar dengan jam tangan yang ia gunakan karena sebenarnya ia sudah tidak punya uang. Mereka pun makan bersama. Malam sudah sangat larut, Iren pun terlihat sangat lelah dan mengantuk. Ia berbaring di pangkuan Irul sementara Irul tertidur dengan posisi duduk hingga pagi.
Esok harinya mereka kemudian sama-sama berfikir cara agar mereka bisa mendapatkan uang. Irul kemudian mengatakan kalau mereka bisa mengamen, tapi Iren tampaknya enggan melakukan itu. Setelah berfikir lama namun tak menemukan solusi lain, Iren akhirnya ikut menemani Irul mengamen. Mereka tampak kelelahan, Iren tak berhenti mengeluh kepanasan namun Irul hanya terus tersenyum mendengarnya. Siang hari mereka  kemudian istrahat sambil menghitung uang yang mereka dapatkan, walaupun tidak banyak tapi Iren tampak senang. Kemudian Irul tak sengaja melihat perampok itu, ia kemudian mengikutinya diam-diam hingga ke markas para perampok, tentu saja Iren ikut di belakang Irul. Irul memutuskan untuk menyusup ke dalam markas tapi Iren melarangnya, Irul tetap bersikeras hingga Iren memaksa untuk ikut dengannya. "Ren.. kamu tunggu disini aja yah.. aku  takut gak bisa lindungin kamu nanti.." kata Irul yang membuat Iren tersentuh. "tapi aku takut..." ucap Iren pelan. "kamu gak usah takut.. disini kan banyak orang.." kata Irul. "aku takut.. kamu di pukulin lagi sama mereka" kata Iren sambil menunduk. Irul terus meyakinkan Iren kalau ia akan baik-baik saja hingga Iren membiarkan Irul menyusup masuk. Irul kemudian melakukan aksinya, ia memakai topinya rapat-rapat lalu bergaya seakan ia juga seorang perampok. Ia menyusuri tiap ruangan hingga ia menemukan sebuah tas yang berisi uang. Irul hendak berjalan mengambil tas itu tapi sesoang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan menyapanya. Untung saja orang itu tak mengenali Irul. Irul kemudian beralasan bahwa ia di perintahkan untuk mengambil tas. Irul lalu mengambil tas itu dengan tenang dan berjalan keluar. Tapi semuanya tidak berjalan mulus ketika ia di halangi oleh beberapa orang di pintu depan yang mengenalnya bahwa Irul bukan bagian dari mereka. Irul lalu berbalik arah dan berlari. Orang-orang itu mengejar Irul. Irul berlari sambil melempar kursi dan sesuatu yang bisa ia lempar untuk mnghalangi orang-orang yang mengejarnya. Tapi ia terjebak dan tidak bisa menemukan pintu keluar, Irul kebingungan, kemudian ia memecahkan jendela dan melompat tapi tasnya tersangkut sementara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Dengan susah payah ia melepaskan tas itu, hingga tangannya tergores serpihan kaca. Untung saja ia bisa lolos tepat waktu dan bisa melarikan diri, tapi para perampok itu masih terus mengejarnya hingga ke lorong-lorong kecil, Irul tampak kebingungan menentukan arah jalan keluar, tiba-tiba seseorang menariknya hingga para perampok itu tidak menemukannya. Ternyata yang menarik Irul adalah Iren, tapi karena tempat itu sempit, posisi mereka sangat dekat dan keduanya merasa canggung. Setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian lalu melihat isi tas itu. Keduanya sama-sama kaget melihat uang itu yang sangat banyak. Mereka jadi pusing untuk menghabiskan uang itu, lalu Iren bercerita kalau tujuannya ke Bandung untuk liburan tapi semuanya kacau gara-gara perampok itu. Irul kemudian mengajak Iren untuk liburan bersama. Dan liburan mereka pun di mulai. Mereka pergi ke beberapa tempat wisata, dan bersenang-senang bersama selama tiga hari. Mereka tampak akrab dan menikmati kebersamaan mereka. Setelah itu mereka ke stasiun untuk segera pulang ke Jakarta. Namun sayangnya, tiket yang tersisa untuk hari ini hanya satu. Irul memberikan tiket itu untuk Iren agar Iren bisa pulang secepatnya. "terus kamu gimana?" tanya Iren khawatir. "aku kan bisa pulang besok, atau bisa pulang beberapa hari lagi.. kamu gak usah khawatir tentang aku, aku bukan anak manja yang gak bisa apa-apa kayak kamu" kata Irul meledek Iren. Iren ingin marah tapi ia sadar yang dikatakan Irul itu benar. "tapi karena anak manja ini aku bisa lolos dari kejaran para perampok" kata Irul sambil mengacak-acak rambut Iren. Iren hanya menunduk seakan tak rela berpisah dengan Irul. Kereta pun datang, Irul menyuruh Iren untuk segera naik agar tidak ketinggalan lagi seperti dulu. Iren lalu tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Irul yang sangat tidak di sengaja. Tapi Irul malah mengingat Iren yang cuek dan tidak mau mengajaknya bicara. Lalu mereka tertawa bersama. Setelah itu Iren naik ke kereta dan hanya melihat Irul yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Selama perjalanan Iren terlihat murung. Beberapa jam kemudian Iren akhirnya tiba di Jakarta. Setelah sampai Rumah ia di sambut orang tuanya dengan khawatir karena Iren lupa membawa ponsel sehingga ia tidak bisa di hubungi. Iren pun terkejut ternyata ponselnya tidak hilang tapi hanya ketinggalan di rumah. Iren menenangkan orang tuanya kalau ia tidak apa-apa dan bercerita bahwa liburannya sangat menyenangkan. Iren kemudian beristirahat di kamarnya, ia termenung sambil teringat kenangannya dengan Irul, dari pertama mereka bertemu, hingga semua kesusahan yang mereka lewati bersama dan liburannya bersama Irul yang sangat menyenangkan, ia juga teringat dengan ocehan Irul dan ketika Irul tidak sengaja memeluknya, yang terakhir ketika ia menarik Irul bersembunyi hingga posisi mereka sangat dekat, Iren senyum-senyum sendiri mengingatnya. "kok aku gak minta nomer HP nya yah.. bahkan aku belum sempat bilang terimah kasih ke dia" kata Iren penuh sesal.
Hari-hari pun berlalu, hingga tibalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.  Terlihat Iren yang sudah siap-siap di antar oleh ayahnya untuk ke Sekolah, namun sialnya di tengah jalan ban mobil Iren bocor, terpaksa Iren harus naik Bis agar tidak terlambat ke Sekolah. Bis yang di naiki Iren sudah penuh bahkan banyak yang berdiri sambil berdesak-desakan termasuk Iren. Ketika menoleh, tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal duduk di bangku paling belakang. Iren mencoba mendekat dan ternyata itu adalah Irul. Iren tak bisa menyembunyikan kebahagiannya bisa melihat Irul lagi, namun Irul sempat terbelalak melihat Iren yang memakai seragam sekolahnya. "kamu masih anak SMA?" tanya Irul tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "emang kenapa?" tanya Iren. "gak papa sih.. cuman kamu kelihatan lebih tua dari umur kamu.. aku fikir kita seumuran" kata Irul lalu tertawa. Iren cemberut mendengarnya. "emang sekarang kamu umur berapa?" tanya Iren. "23.." jawab Irul. Iren mengerutkan dahi menatap Irul. "kenapa? Aku masih kayak anak SMA yah? Gak heran sih.. banyak kok yang bilang kayak gitu.. tau gak kenapa? Itu karena aku selalu senyum sama orang.. gak kayak kamu.. judes!!" kata Irul yang semakin membuat Iren cemberut, tapi setelah itu ia tersenyum karena ia baru saja mendengar ocehan Irul yang sudah lama tidak ia dengar. "aku kangen... sama anak manja yang gak bisa apa-apa.. sama anak yang katanya capek denger aku ngoceh terus... gak nyangka aku bisa ketemu dia disini.." ungkap Irul sambil tersenyum. "kenapa? Kamu ngarep kita ketemunya di stasiun lagi?" tanya Iren. "gak juga sih.. malah aku ngarepnya kita ketemu di pelaminan.." jawab Irul dengan bercanda. "apaansih.." seru Iren yang hendak memukul Irul dengan tasnya tapi Irul dengan cepat menahan tangan Iren lalu menggenggamnya. Iren sedikit terkejut. Iren kemudian menatap Irul yang juga sedang menatapnya penuh arti. Hingga beberapa detik mereka saling bertatapan. Kemudian seluruh penumpang menyoraki mereka berdua membuat Iren tersipu malu sementara Irul hanya terus menatap Iren sambil tersenyum.
***SELESAI***
"Cinta itu gak kenal tempat, gak kenal waktu. Datang dimana saja dan kapan saja. Yang pasti cinta itu datang dengan sendirinya, gak perlu di minta dan gak bisa di paksa."

[Fiction Story] "Gara-Gara LDR"



            Long Distance Relationship... Mungkin, gak banyak orang yang pengen ngejalanin hubungan kayak gitu, termasuk gue!! Tapi karena keadaan tertentu, orang-orang harus menjalani yang namanya LDR. Keadaan dimana pacar gue memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya diluar propinsi sementara gue tetep di kota sendiri membuat gue harus LDR-an sama pacar gue. Awalnya gue gak setuju, tapi gue berusaha ngilangin ego gue demi masa depan Dia dan akhirnya rela gak rela gue tetep biarin Dia pergi. Pasti berat ngejalaninnya, belum lagi rasa curiga gue ke Dia yang terus-terusan datang pas Dia nggak bisa dihubungi. Tapi gue tetap ngasih kepercayaan gue walaupun kepercayaan itu berakhir dengan penghianatan. Disitu kadang saya merasa jenuh dan mulai nyari kesenangan sendiri. Pas gue duduk sendirian, melamun mikirin Dia, gue kadang teringat dan ngerasa kangen di tahun 2012, awal kisah gue sama Dia dimulai.
            Nama gue Dian, yang pada tahun 2012 gue masih berstatus sebagai siswi kelas 1 disalah satu SMA Negeri. Ken... seorang cowok dari kelas lain yang saat itu berhasil nyuri hati gue. Walaupun pada saat itu bukan cuma Ken yang deketin gue, dan saat itu gue juga punya pacar walaupun komunikasi sama Dia lagi gak begitu lancar, tapi entah kenapa setelah Ken nyatain perasaannya berkali-kali ke gue, walaupun gue pernah nolak berkali-kali juga tapi pada akhirnya gue jadian juga sama Ken tepatnya pada tanggal 23 Maret. Entah dimana dan sejak kapan Ken mulai naksir gue, tapi yang gue rasa saat itu Ken bener-bener tulus deketin gue, ngasih perhatian ke gue, belum jadian aja Dia udah sering banget ngajakin gue jalan dan beliin gue ini itu. Apalagi pas udah jadian, sikapnya romantis banget sampe buat gue terhanyut-hanyut dan merasa jadi cewek yang paling istimewa di dunia. Alay sih kedengarannya, tapi emang gitu lah yang gue rasain. Bahkan gara-gara romantisnya Dia, orang-orang banyak yang ngerasa iri karena pacar mereka gak seromantis itu. Apalagi si kakak kelas yang kayaknya dendam banget sama gue karena ngira gue yang ngerusak hubungannya sama Ken. Bahkan Dia sempet nyebarin gosip kalo gue ngerebut Ken dari Dia. Emang sih sebelumnya Dia emang pacaran sama Ken, tapi pas ngedeketin gue, Ken ngakunya udah putus sama Dia, jadi gue gak peduli omongan orang-orang dan tetep lanjut sama Ken. Ken yang orangnya rada jayus tapi tetep bisa buat gue senyum-senyum sendiri dan buat gue bahagia ternyata mampu buat gue lupa kalau ternyata gue masih punya pacar yang lain. Saat itu gue takut banget ketahuan sama Ken, hingga akhirnya beberapa hari setelah gue jadian sama Ken, pacar gue yang satunya nelpon, di momen itu gue minta putus secara baik-baik tanpa tau kalo gue udah punya pacar baru. Awalnya Dia gak terima gue minta putus gitu ajah, tapi gue buat banyak alasan sampe akhirnya dia mau putus sama gue “kita kan pacarannya secara baik-baik, jadi putusnya juga harus baik-baik” kata gue waktu itu yang langsung ia jawab “kalo gitu, kita tetep bisa jadi temen kan?” gue iyain aja dan kita pun resmi putus. Ketakutan yang selama ini gue rasain akhirnya hilang karena pacar gue sekarang cuma satu yaitu Ken.
            Diawal hubungan gue sama Ken gak begitu mulus sih, bukan karena gue, bukan juga karena Ken, tapi karena gosip-gosip yang disebarin oleh orang-orang iri, tapi gue udah terlanjur nyaman sama Ken dan gue gak punya alasan untuk ninggalin Ken cuman karena gosip-gosip kayak gitu. Hari-hari pun berlalu, gak ada yang berubah dari Ken, dia tetep cowok yang romantis, so sweet, penuh perhatian walaupun kadang over protectif tapi gue percaya dia kayak gitu karena dia sayang sama gue. Pertengkaran-pertengkaran kecil kadang menghiasi hubungan kita sampai akhirnya kita ngerayaain anniversary yang pertama. Excited banget nyambutnya, walaupun perayannya biasa aja sih, kita cuma ke taman wiasata tempat kita jadian setahun yang lalu. Gue gak bisa lupa gimana dia berlutut depan gue sambil memohon supaya gue terima cinta Dia. Dia gak malu ngungkapinnya padahal saat itu orang-orang lagi liatin Dia, dan karena itu gue jadi terpesona.
            Kemudian menuju Anniversary yang ke dua, disini hubungan gue sama Ken bener-bener di uji. Banyak masalah yang datang yang gak jarang buat gue bertengkar sama Ken, hingga masalah terberat adalah ketika mantan gue pas SMP masuk dihidup gue lagi setelah sekian lama menghilang. Gue sempet bertengkar hebat sama Ken karena kecemburuannya sama mantan gue, padahal gue gak ngasih harapan apapun sama mantan gue untuk balikan lagi. Sementara mantan gue, Dia malah nyalahin Ken atas berakhirnya hubungan gue sama Dia dulu, padahal gue putus sama Dia jauh sebelum gue kenal sama Ken. Disaat yang sama juga, gue mergokin Ken lagi SMS-an sama cewek lain. Pas gue baca, emang sih bukan Ken yang godain cewek itu, malah cewek itu yang ganjen banget sama Ken tapi tetep aja gue marah karena Ken udah bales pesan cewek lain, akhirnya gue balik marah sama Ken. Gak lama kemudian gue denger kabar kalo mantan gue di jodohin dan gak lama lagi dia bakal nikah sama cewek pilihan Ayahnya. Mantan gue itu sempet ngajak gue kabur bareng ama Dia, dan janji bakal bahagiain gue, tapi gue gak terpengaruh karena gue udah cukup bahagia sama Ken. Akhirnya mantan gue nerima perjodohan itu. Hubungan gue sama Ken kembali normal, meskipun setelah menikah mantan gue kadang masih hubungin gue sekedar nanya kabar tapi itu tanpa sepengatahuan Ken. Gak lama kemudian gue kembali bertengkar hebat dengan Ken. Waktu itu sepulang sekolah dia bilang pengen langsung pulang ke rumah tapi gue malah mergokin dia lagi mabuk-mabukan sama temen-temennya padahal gue udah ngelarang dia berkali-kali untuk gak ngelakuin hal itu. Gue marah banget sama Ken, saking marahnya gue mutusin Ken di tempat itu juga lalu pergi tanpa peduli Ken yang ngejar gue untuk jelasin yang sebenarnya terjadi. Sampe rumah Ken terus-terusan nelpon gue, tapi gak pernah gue angkat sampe Ken capek sendiri. Esok harinya di Sekolah gue diem-diem nyariin Ken di kelasnya, tapi Dia gak keliatan. Gue nanya sama temennnya katanya Ken sakit. Gue khawatir sih tapi gue masih ngambek dan gak pengen hubungin Dia dulu. 3 hari Ken gak ke sekolah, kayaknya dia bener-bener sakit. Kemudian esoknya akhirnya Dia ke Sekolah, berulang kali Dia lewat depan kelas gue tapi dia gak nyapa gue bahkan gak noleh sama sekali padahal gue pengennya dia ngebujuk gue biar gak ngambek lagi. Akhirnya gue nurutin saran temen dekat gue. Gue ke kelas Ken dengan alasan nyari temen gue yang kebetulan sekelas sama ken, padahal sebenarnya gue kangen berat sama Ken, tapi selama berada di kelas itu tetep aja Ken gak nyapa gue bahkan dia bersikap seolah-olah dia gak kenal gue, padahal gue udah heboh sendiri biar dapat perhatian darinya. Gue muak dan akhirnya balik ke kelas gue. Di kelas gue lampiasin kekesalan gue ke temen-temen, untung aja mereka pengertian dan cuma senyum pas gue ngedumel sendiri. Pulang sekolah pas sampe rumah gue gak tahan lagi dan langsung nelpon Ken berkali-kali, tapi telpon gue gak diangkat. Gue sebel banget!! Abis itu gue ketiduran dan pas bangun, ngecek HP ada puluhan panggilan tak terjawab dari Ken. Greget banget!! Gue nyalahin diri gue sendiri, kenapa juga gue harus tidur. Malem nya gue nelpon Ken lagi dan kali ini di angkat, gue ngatur nafas dulu sebelum ngobrol sama Ken. Ken minta maaf karena tadi siang dia gak angkat telpon gue karena gak denger ada panggilan masuk. Gue juga minta maaf karena gak angkat telpon dia karena gue lagi tidur. Awkward banget ngobrolnya. Gue ngejelasin ke Ken kalo gue nelpon Dia karena gue mau balikin semua barang-barang yang udah Ken kasih ke Gue. “buang ajah!!” jawab Ken singkat yang membuat gue nyessek, padahal itu Cuma pancingan biar Ken bujuk gue biar mau balikan. “kok dibuang sih??” gue nanya ke Ken. Tapi Ken malah jawab “kalo gak mau dibuang, kasih aja ke orang lain”. Gue kesel karena bukan jawaban itu yang gue pangen. Gue matiin telponnya tapi Ken balik nelpon gue. Dia nanya kenapa telponnya di matiin, gue diem gak jawab apa-apa. Akhirnya Ken ngucapin kata-kata yang gue pengen “kenapa barangnya mau dibalikin sih, kenapa nggak kamu simpen ajah. Kalo pun kita gak bisa balikan, seenggaknya dengan barang itu kamu bisa ngenang aku, kalo aku juga pernah hadir di hidup kamu, aku juga pernah buat kamu bahagia. Seenggaknya barang itu bisa jadi saksi kalo kita pernah bersama dan punya cerita”. Kata-kata Ken buat aku terharu dan gak sempet ngomong apa-apa karena terisak tangis. Di telpon gue juga denger nafas Ken yang gak beraturan karena nangis. Ken nanya ke Gue “kenapa sih kamu gampang banget bilang putus, padahal aku gak pernah ngomong kayak gitu walopun aku lagi emosi banget”. Masih dengan suara yang bergetar gue jawab “karena kamu gak mau dengerin kata-kata aku. Padahal itu semua demi kebaiakan kamu”. Kita sama-sama minta maaf dan janji gak bakal ngulang kejadiaan beberapa hari ini. Gue sama Ken baikan lagi. Esoknya temen-temen nyorakin gue karena mesra lagi kayak dulu. Akhirnya anniversary yang ke dua pun tiba, tapi gak se excited yang pertama sih soalnya kita sama-sama sibuk mempersiapkan diri menghadapi UN. Kita pun bisa menyelesaikan UN tanpa hambatan. Pas UN udah selesai, rasanya beban di pundak yang selama ini di pikul tiba-tiba hilang dan rasanya legah banget. Tapi hari itu Ken ngasih tau aku kalo Dia bakal lanjutin kuliah di luar propinsi. Awalnya pas denger Ken ngomong gitu gue biasa aja, tapi pas hari itu tiba, baru terasa beratnya. beberapa hari setelah pengumuman kelulusan dia pun berangkat. Gue pengen nahan dia, tapi menurut gue itu terlalu egois. Mau gak mau gue LDR-an sama Ken. Diawal LDR-an gak ada masalah sampe akhirnya gue berada dititik jenuh hubungan Gue sama Ken. Ken mulai berubah, perhatiannya mulai berkurang, dia udah jarang nelpon gue, nomernya juga kadang gak aktif dan selalu ganti-ganti. Gue bukannya gak percaya sama Ken, tapi mau gak mau gue pasti curiga kalo sikap Ken kayak gitu. Setiap kali gue nanya kenapa sikapnya kayak gitu, pasti jawabannya selalu “aku sibuk sayang”. Gue berusaha ngerti itu. Terus kalo gue nanya kenapa nomernya selalu ganti, kalo gak kartunya yang hilang pasti HP nya yang hilang. Kan gak masuk akal. Selalu kayak gitu, hingga seminggu sebelum gue ultah gue dia gak pernah ngasih kabar, gue kira itu surprise nya dia tapi ternyata sampe ultah gue udah lewat beberapa hari, dia gak ngasih ucapan apapun. Yang ngasih surprise cuma temen-temen gue. Gue kecewa sama Ken karena udah lupa sama ultah gue, padahal pas dia ultah gue bela-belain beli kue untuk dia yang jauh disana, meskipun gue tau dia gak bakal dateng tapi gue tetep ngerayain dari sini sebagai bukti kalo gue gak pernah lupa apapun tentangnya dan meskipun dia jauh gue tetep peduli sama dia. Setelah beberapa hari berlalu barulah Ken nelpon gue dan minta maaf dan janji pada saat anniversary kita yang ke tiga dia bakal nemuin gue dan ngasih surprise.
            Dua bulan kemudian, gue udah sempet pesimis sama janji Ken tapi seminggu sebelum Anniversary, tiba-tiba Ken dateng ke rumah gue tanpa ngasih tau terlebih dulu. Berasa seperi mimpi Ken tiba-tiba muncul depan gue. Ken senyum sambil ngomong “kali ini aku nepatin janji kan”. Gue gak bisa ngomong apa-apa saking surprise nya! Pas lagi gak ada jadwal kuliah, dia ngajakin gue jalan. Kita datangin semua tempat yang pernah kita datangi pas masih SMA dulu. Pokoknya saat itu gue ngerasa “hari ini Cuma milik gue sama Ken”. Kebahagiaan gue sampe gak bisa di ungkapin dengan kata-kata. Tapi kebahagiaan gue seakan terhapus ketika melihat seorang cewek yang ngaku pacar Ken mengunggah foto mesranya bareng Ken, dan pose mereka cukup buat gue marah, cemburu, kecewa, malu, pokoknya campur aduk deh. Gue minta penjelasan sama Ken tentang apa yang baru aja gue liat. Tapi Ken mengelak dan ngaku kalo cewek itu Cuma temennya. Gue gak percaya tapi Ken bersikeras kalo Cuma gue pacarnya, Ken bahkan dateng ke rumah gue, nangis berlutut depan gue dan memohon supaya gue percaya. “kalo emang bener kamu gak ada hubungan apa-apa, jangan balik lagi ke sana!!” kataku pada Ken. “trus kuliah aku gimana??” Ken nanya. “pokoknya aku gak mau tau!!” kataku setengah berteriak pada Ken. “oke oke... aku bakal ninggalin kuliah aku disana dan mulai semuanya disini bareng kamu, kerja apapun aku mau, jadi tukang batu sekali pun aku mau!! Yang penting aku terus sama kamu”. Kata Ken sambil nangis terseduh-seduh. Gue akhirnya luluh dan maafin Ken. Gue cerita dan minta saran ke temen gue tapi temen gue Cuma bilang “kalo lo masih sayang ya lanjut aja. Sekalipun Ken punya pacar banyak kalo hatinya Cuma buat lo, yang lain pasti Cuma di anggap mainan”. Gue berusaha ngelupain semuanya dan ngerayain Anniversary yang ke tiga, gak Cuma sama Ken tapi sama temen-temen deket gue juga. Hari itu kita happy-happy seakan gak pernah ada masalah, tapi itu buat gue mikir, mempertahankan hubungan selama tiga tahun itu gak muda, bukan Cuma tawa yang terukir, bukan Cuma bahagia yang tercipta, bukan Cuma canda yang menghiasi tapi air matanya juga ada sedihnya juga ada, apalagi pertengkaran. Meskipun selama tiga tahun itu banyak duka nya, tapi sukanya lebih banyak. Itu yang membuat gue bertahan. Tapi beberapa hari kemudian gue seakan punya penyesalan mempertahankan hubungan itu, gimana nggak, malam terakhir sebelum Ken berangkat lagi dia datang ke rumah gue untuk pamitan. Gue ingetin Ken kalo dia udah janji gak bakal kesana lagi tapi lagi-lagi dia nangis dan ngomong “kalo aku gak kesana, kuliah aku gimana?? Aku gak mau kecewain ortu yang udah biayain mahal-mahal”. Karena alasan itu gue biarin Ken pergi lagi dan ngingkarin janji nya sendiri. Gue jadi mikir kalo waktu itu Ken gak serius sama janjinya, dan bener aja pas udah sampe disana nomer Ken udah gak bisa dihubungi. Gue udah punya feeling buruk tentang Ken, dan beberapa hari kemudian cewek itu nelpon gue pake nomernya Ken dan ngasih tau kalo mereka pacaran parahnya lagi cewek itu memperlihatkan fotonya dengan Ken yang jauh lebih mesra dari yang sebelumnya. Dan rasanya sakit banget terima kenyataan kalo orang yang selalu gue percaya ternyata hianatin gue, orang yang selalu gue pertahankan udah selingkuhin gue. Gue malu banget sama temen gue. Ken nelpon gue pake nomer yang berbeda, gue Cuma ngomong ke Dia “udah puas boongin gue!!” abis itu gue matiin telponnya. Setelah itu gue gak pernah peduli lagi dengan Ken yang terus-terusan nelpon gue dan nganggep gue sama Ken udah berakhir. meskipun Gue masih belum bisa percaya kalo ternyata GARA-GARA LDR hubungan yang udah gue pertahankan selama 3 tahun harus berakhir tanpa kejelasan karena sebuah penghianatan. Hubungan yang pernah buat orang iri ternyata gak ada apa-apanya ketika ‘jarak’ sudah ikut campur di dalamnya.
“Hubungan akan tetap terjaga
apabila kepercayaan dan kesetiaan
juga tetap terjaga”
~THE END~

[Fiction Story] "Tentang Dia"



Dalam hidup pilihan itu ada 3. Memilih yang benar, memilih yang salah, atau tidak memilih sama sekali juga adalah pilihan. Semua orang pasti ingin memilih yang benar, tapi karena suatu keadaan tertentu, seseorang kadang memilih pilihan yang salah. Tapi setidaknya orang yang memilih kemudian salah tidak lebih pengecut dari pada orang yang tidak memilih sama sekali.
Claudia, remaja yang akrab dipanggil dengan nama “Dia” adalah siswi kelas 1 di salah satu  SMA Negeri. Siswi yang baik, selalu ceria, cerdas dan penuh tanggung jawab ini memiliki teman dekat yang bernama Rachel. Meskipun Dia dan Rachel bersahabat tapi di sekolah mereka juga adalah rival yang selalu bersaing untuk jadi yang terbaik. Tapi bersaingnya secara sehat tentunya karena Dia punya prinsip “untuk apa menang kalo ngejatuhin teman sendiri”. Walaupun Dia lebih sering unggul dari pada Rachel, tapi Rachel tidak pernah iri, malah itu di jadikannya motivasi untuk lebih baik meskipun terkadang Rachel terkendala oleh penyakit gagal ginjalnya, hal itu tidak pernah mengurangi semangat Rachel dan juga Dia selalu menyemangati dan mendukung Rachel. Sifat Dia yang ramah membuat ia dikagumi oleh para siswa di sekolahnya, termasuk Niko sepupu Rachel. Terlihat jelas kalau Niko menyukai Dia dari caranya memandang dan memperhatikan Dia, tapi Niko tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Dia, dan sepertinya Dia juga gak pernah peka sama perlakuan Niko. Atau sengaja gak peduli. Soalnya pas Rachel nanya kenapa Dia gak pernah kepikiran untuk pacaran, si Dia cuma jawab “gue udah sibuk mikirin sekolah, belum lagi ortu gue yang sakit-sakitan, dan gue harus kerja paruh waktu untuk biayain 2 adik gue yang masih SD. Mana mungkin punya waktu mikirin pacar”. Terus Rachel nanya lagi “tapi lo gak belok kan??”. Dia menjawab sambil tertawa “ya enggak laaah...”. Rachel ikut tertawa. Emang sih di balik keceriaan Dia ternyata ia memikul beban yang sangat berat. Bisa di bilang ia berperan sabagai tulang punggung keluarganya. Sementara Rachel, gadis cantik yang berasal dari keluarga yang baik dan juga serba berkecukupan itu hidupnya nyaris sempurna jika saja ia tak punya penyakit, tapi begitulah hidup, semua orang punya masalahnya masing-masing dan karena itu jarang ada siswa yang melirik Rachel, kalau pun ada itu sebelum ia tau kalau Rachel punya penyakit, soalnya gak jarang Rachel pingsan di sekolah karena kecapean dan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi setelah tau, kebanyakan dari mereka yang pernah mendekati Rachel memilih mundur dan bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan Rachel lagi. Kasian sih, tapi Rachel tidak pernah sedih dengan hal itu karena baginya Dia saja sudah cukup untuk menemaninya. Di tambah lagi Dia yang begitu pengertian dan cenderung melindungi. Orang tua Rachel juga sangat baik pada keluarga Dia, dan sering membantu kebutuhan keluarga Dia, hanya saja Dia sering menolak pemberian dari Rachel karena merasa tidak enak dengan keluarga Rahel yang sudah terlalu sering membantu keluarga Dia. Pas lagi free Niko sering ngajak Dia jalan, pas malam minggu, Rachel sering ngajak Dia nginep di rumahnya, lebih tepatnya sih ngajak Dia ngalong bareng sambil nonton DVD sampe pagi, walaupun setelah itu Rachel kadang Drop tapi ia gak pernah kapok, malah Rachel bakal ngambek kalau Dia gak nurutin kemauannya. Sebenarnya Rachel itu orang yang kuat karena masih bisa bertahan hidup dengan penyakitnya, berulang kali orang tua nya meminta Rachel untuk operasi tapi Rachel tidak mau dan selalu menganggap dirinya baik-baik saja. Rachel sering cerita ke Dia kalau mimpinya itu jadi pemain biola yang hebat, dan mungkin karena mimpinya itu yang ngasih kekuatan padanya. Terus Dia sering bercanda dengan mengatakan kalau tidurnya gak pernah nyenyak jadi gak pernah bermimpi. Tapi Dia punya keinginan, kalau Dia pengen mimpi Rachel terwujud dan menonton pertunjukan pertama Rachel kemudian jadi penonton yang bersorak paling keras atas penampilan Rachel. Dan karena kata-kata itu, Rachel jadi lebih semangat.
Memasuki tahun dimana Dia dan Rachel sebentar lagi menghadapi ujian. Banyak yang berubah dari hidup mereka. Masa-masa tersulit dimana mereka harus fokus menghadapi ujian dan juga harus menyelesaikan masalah pribadi masing-masing. Dia yang sekarang tak lagi ceria seperti dulu, bahkan terkesan pemurung, prestasinya di sekolah menurung, wajahnya yang selalu terlihat lelah dan pucat, matanya yang berkantung dan berwarna hitam, menandakan kalau dia kurang tidur karena bekerja, apalagi penyakit ortunya yang semakin parah. Waktu nya untuk Rachel juga sudah tidak ada, padahal kondisi Rachel semakin memburuk, setiap kali Rachel mengajak Dia menginap di rumahnya, Dia selalu menolak, saat Rachel ngambek Dia malah membentak Rachel dan mengatainya keras kepala. Padahal dulunya setiap kali ngambek, Dia selalu menuruti keinginan Rachel. Rachel merasa aneh dengan sikap Dia. Sore hari sepulang sekolah rachel pergi ke rumah Dia tapi kata ibunya Dia belum pulang. Rachel bingung karena tadi di sekolah Dia pulang lebih awal. Malam harinnya sekitar jam 8 malam Rachel ke rumah Dia lagi dan kali ini Dia lagi tidur di kamarnya. Rachel kasian melihat Dia yang kayaknya capek banget sampe Rachel gak tega bangunin Dia. Tapi tiba-tiba aja Dia terbangun sama suara pecahan gelas di dapur. Rachel langsung menuju ke dapur di susul oleh Dia serta ibunya yang jalan tergopoh-gopoh, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Ayah Dia jatuh tak sadarkan diri, mereka buru-buru membawanya ke rumah sakit. Rachel ingin menemani Dia menunggu ayahnya hingga sadar tapi Dia menyuruh Rachel pulang, Rachel bersikeras ingin menemani  Dia hingga Dia membentak Rachel. “kenapa sih lo gak pernah nurut sama kata-kata gue!! trus kalo penyakit lo kambuh disini gimana? Gue gak bisa ngurusin lo dengan kondisi ayah gue yang kayak gitu!!” kata-kata itu cukup membuat hati Rachel sakit, matanya berkaca-kaca. Dia yang menyadari hal itu langsung meminta maaf pada Rachel dan menyesali kata-katanya. Tanpa mengatakan apapun Rachel langsung berlari keluar rumah sakit. Dia mengejar Rachel. Di tempat parkir tiba-tiba saja Rachel merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Rachel lalu jatuh berlutut, Dia segera menghampirinya dan hendak membantunya berdiri. Tapi Rachel menepis tangan Dia. “mulai sekarang lo gak usah peduli apapun yang terjadi sama gue!!” kata Rachel sambil terus menahan sakit. “lo kok ngomong gitu sih?” tanya Dia. “bukannya lo sendiri yang bilang, gue Cuma ngerepotin lo. Gue sekarang tau kenapa sikap lo akhir-akhir ini berubah ke gue! mungkin selama ini gue Cuma jadi beban. Dan lo udah bosen temenan sama orang yang bisanya Cuma nyusahin kayak gue kan!!!” kata Rachel diiringi isak tangis. “nggak Chel... nggak kayak gitu...” kata Dia yang juga menangis. Dengan susah payah Rachel berjalan menuju mobil dan nekat mengendarai mobilnya meskipun dengan kondisi yang tidak baik. Sementara Dia hanya bisa terdiam dan terus menangis. Selama beberapa hari Dia dan Rachel tidak saling bicara, hingga Niko merasa aneh dengan itu. Ketika ditanya, Dia dan Rachel mengaku tidak terjadi apa-apa. Ayah Dia masih berada di rumah sakit, dan sepertinya Dia sedang berjuang keras mengumpulkan uang. Setiap sepulang sekolah Dia mengajar sebagai guru Les dan setiap jam 9 malam Dia selalu keluar dengan pakaian yang minim karena Dia bekerja di sebuah Bar. Tapi tak ada yang tau tentang Dia yang ternyata beberapa bulan terakhir ini bekerja di Bar karena upahnya yang cukup besar. Setelah merasa uang yang dikumpulkannya sudah cukup, Dia segera membayar biaya rumah sakit, tapi kata petugas sudah ada yang membayarnya bahkan untuk beberapa hari kedepan. Bukannya bahagia tapi Dia tampak kecewa. Esok harinya di sekolah, Dia menghampiri Rachel lalu berkata dengan marah “maksud lo apa ngebayarin biaya rumah sakit ayah gue?? lo pikir gue gak mampu bayar?? Lo gak tau kan perjuangan gue untuk ngumpulin uang itu, tapi gue ngerasa perjuangan gue sia-sia karena uang itu gak ke pake!! Itu karena lo yang sok jadi pahlawan!!!”. Rachel yang syok tidak bisa mengatakan apapun. Air mata Rachel menetes dan tak menyangka Dia memperlakukannya seperti itu. Bahkan Niko yang melihatnya pun tak merasa tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. Niko segera menghampiri Rachel dan minta maaf karena ternyata ialah yang membayar biaya rumah sakit. Dia terkejut mendengarnya dan menatap Rachel yang masih terdiam. Hari- haripun berlalu, Dia dan Rachel masih tak saling bicara hingga Dia tak tau kalau ternyata Rachel akan ikut audisi. Rachel berlatih dengan keras hingga membuat kondisinya memburuk tapi Rachel tak peduli karena ini adalah kesempatannya untuk mewujudkan mimpinya. Namun usaha kerasnya masih belum terbayarkan karena ketika hari audisi itu tiba, Rachel pingsan di atas panggung ketika ia baru saja akan memainkan biolanya. Rachel dibawa ke rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Sekitar jam 3 dini hari, Rachel akhirnya siuman dan melihat ibunya yang tertidur di sampingnya. Rachel membangunkan ibunya dan menyuruhnya pulang untuk istrahat di rumah saja karena ia sudah membaik dan sudah terbiasa seperti ini. Tapi sebelum ibunya pulang ia sempat bertanya apakah tadi Dia datang menjenguknya. Ibunya mengatakan bahwa tadi Dia datang bersama Niko dan baru pulang pada jam 9 malam tadi. Setelah ibunya pulang, Rachel memejamkan matanya tapi tidak tertidur karena saat mendengar suara pintu terbuka ia langsung membuka mata dan mengira ibunya yang kembali tapi ternyata itu adalah Dia. Dia kaget karena ternyata Rachel sedang tidak tidur, Dia bermaksud untuk pergi tapi Rachel menahannya “Dia!! jangan pergi..” ucap Rachel dengan suara yang lemah. Dia pun menghampiri Rachel dan menanyakan keadaannya meskipun sedikit canggung. Sedangkan Rachel sebenarnya memiliki banyak pertanyaan ketika ia melihat cara berpakaian Dia yang berbeda dan kenapa Dia bisa menemuinya di jam saat orang-orang masih tidur, tapi Rachel memilih untuk diam. Esok harinya dokter mengatakan kepada orang tua Rachel bahwa mereka harus segera mencari donor ginjal untuk Rachel, jika tidak akibatnya akan sangat fatal. Meskipun Rachel sudah di perbolehkan pulang tapi ia tetap tidak boleh banyak beraktivitas. Tapi ternyata Rachel memang orang yang keras kepala karena malam harinya ia pergi mencari tau apa yang dilakukan Dia. Rachel melihat Dia keluar dari rumah tepat jam 9 malam, ia mulai mengikuti Dia namun sayangnya ia terjebak lampu merah dan kehilangan jejak Dia. Namun Rachel tidak menyerah dan terus mencari dan ia pun curiga pada salah satu Bar di tempat itu mengingat ia pernah melihat Dia berpakaian minim, dan ternyata feeling Rachel memang benar, ia melihat Dia yang sedang melayani para pengunjung. “Dia...” ucap Rachel yang terkesiap melihat Dia. Dia kaget dan bertanya kenapa Rachel ada di sini, tapi Rachel bertanya balik mengapa Dia ada di tempat seperti ini. “gue kerja disini..” jawab Dia. “pulang sekarang!!” perintah Rachel tapi Dia menolak karena ia harus bekerja tapi Rachel memaksa Dia dan menyeretnya ke mobil. Esok harinya di sekolah Dia mencoba bicara pada rachel. “Chel.. gue tau yang gue lakuin salah, tapi gue gak punya pilihan lain” kata Dia. “lo gak punya pilihan lain? Emang lo gak bisa minta tolong ke gue? trus lo nganggep gue apa? ha?!” kata Rachel dengan nada emosi. “gue Cuma gak pengen bergantung terus sama lo, gue tau yang gue lakuin salah.. asal lo tau, gue kerja disitu Cuma sebagai pelayan, gue gak pernah punya niat buat jual diri Chel.. pekerjaan gue gak sehina itu walaupun gue kerja di tempat yang menurut lo sangat hina” kata Dia yang mulai menangis. “tapi apa lo bisa mencegah kalo suatu hari ada orang yang kurang ajar dan ngancurin hidup lo?” pertanyaan itu membuat Dia terdiam menunduk seakan menyadari sesuatu. “gue kayak gini karena gue peduli sama lo, gue gak pengen lo kenapa-kenapa, jadi gue mohon berhenti kerja di tempat itu” kata Rachel yang kemudian memeluk Dia. Sore hari Niko mengajak Dia jalan-jalan dan baru pulang ketika malam hari. Tapi karena hujan turung sangat lebat Niko pun akhirnya mengajak Dia untuk mampir ke rumahnya. Belum sempat Dia masuk ke rumah, langkahnya terhenti ketika ia melihat laki-laki paruh baya yang ada di dalam rumah Niko, Dia bertanya siapa laki-laki itu, dan betapa terkejutnya Dia mendengar jawaban Niko bahwa itu adalah ayahnya. Air mata Dia mengalir dan ketakutan menatap ayah Niko lalu berlari menerobos hujan yang sangat lebat. Niko mengejarnya dan mencoba menghentikan Dia yang terus memberontak. Niko memeluk Dia untuk menenangkannya. Sambil terus menangis Dia berkata “lepasin gue.. lo gak seharusnya temenan sama orang kayak gue”. “lo kenapa sih Di.. gue emang gak pengen temenan sama lo, karena gue ngarep lebih.. gue pengen jadi pacar lo..” kata Niko dengan sungguh-sungguh. “nggak Nik.. gue gak pantes buat lo, lo pantes dapat yang lebih baik”. “lo yang terbaik buat gue Di..!!”. “tapi lo gak tau.. kalo gue...” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya. “gue tau.. gue tau semua.. gue denger pembicaraan lo sama Rachel” kata Niko yang membuat Dia sedikit kaget. Kemudian Dia berkata “tapi lo gak tau kan.. kalo gue udah hancur.. masa depan gue udah gak ada dan itu karena bokap lo yang udah ngelakuin....” lagi-lagi Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan terus menangis. Niko mengerti maksud Dia dan sangat terkejut mendengarnya. “gue gak peduli... bagaimanpun keadaan lo, gue tetep sayang sama lo Di.. gue gak mau kehilangan lo..”. mereka berpelukan dibawah derasnya hujan. Tidak lama kemudian mereka terlihat menuju rumah sakit karena mendapat telpon bahwa Rachel kritis. Rachel harus secepatnya melakukan donor ginjal tapi ayah Rachel belum dapat pendonor, akhirnya Dia yang ingin mendonorkan ginjalnya. Awalnya semua menolak karena itu akan berbahaya bagi Dia, tapi Dia meyakinkan kalau ia bisa hidup dengan satu ginjal. Operasi pun dilaksanakan tapi sebelumnya Dia berpesan bahwa Rachel tidak boleh tau. Orang tua Rachel berjanji akan menanggung biaya hidup Rachel dan keluarganya sebagai balasan atas kebaikan Dia. Beberapa hari kemudian setelah operasi Rachel pun siuman dan melihat semua orang terdekatnya ada disampingnya kecuali Dia. Rachel bertanya mengapa Dia tidak ada, kemudian Niko berbohong kalau sekarang Dia sedang mengajar. Rachel bilang bahwa ia ingin bertemu dengan orang yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya, semuanya hanya diam saling menatap. Setelah kondisi Dia baikan, ia pun menemui Rachel dan hal yang pertama ditanyakan Rachel adalah “lo gak kerja disitu lagi kan”. Dia mengiyakan dan melanjutkan percakapan mereka dengan sedikit canda tawa, tapi diluar ruangan Niko malah menangis melihatnya. Ternyata operasinya tidak berjalan lancar karena setelah operasi Dia sering mengeluh kesakitan dan sebulan kemudian Dia kritis dan dilarikan ke Rumah sakit, disitulah Rachel mengetaui bahwa Dia yang mendonorkan ginjal untuknya, Rachel sempat marah tapi Niko mengatakan semuanya sudah terjadi dan yang harus dilakukan sekarang hanya berusaha dan berdoa. Dia sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari dan tepat sebelum Rachel memulai debutnya sebagai pemain biola, Dia siuman, rachel sangat senang dan bercerita pada Dia bahwa ia akan melakukan debut, tapi kemudian Rachel memarahi Dia yang mendonorkan ginjalnya tanpa memberi taunya terlebih dulu. Dengan suara yang lemah Dia berkata “chel.. gue seneng banget mimpi lo akhirnya terwujud, tapi sorry gue gak bisa nyaksiin lo secara langsung, tapi gue bakal nonton kok”. Kata-kata itu membuat Rachel meneteskan air mata. “Jangan nangis dong Chel..  make up kamu luntur tau!”. “gue gak bisa gak nangis, gue udah  ngorbanin hidup sahabat gue demi hidup gue sendiri.. egois banget kan..” kata Rachel terus menangis. Rachel sebenarnya masih ingin di dekat Dia tapi beberapa menit lagi ia akan perform, Rachel pun harus pergi, tapi sebelum itu Dia memberi semangat pada Rachel bahwa Rachel pasti bisa melakukannya dengan baik. Rachel lalu mencium kening Dia dan berkata “lo juga pasti bisa lewatin ini, gue tau lo orang yang kuat”. Dia meneteskan air mata. Perform Rachel akhirnya dimulai, semua orang berkumpul di kamar Dia tempat ia di rawat untuk sama-sama menonton Rachel yang memainkan Biolanya dengan sangat bagus. Semua orang terpukau melihat penampilan rachel. Setelah tampil, Rachel buru-buru ke rumah sakit, tapi saat sampai disana ia mendapati semua orang menangis, suasana yang mengharu biru itu spontan membuat air mata Rachel menetes dan tangisannya langsung pecah ketika ia melihat Dia yang sudah tidak bernyawa lagi. Rachel menghambur ke arah Dia dan memeluknya sambil terus menangis histeris. Niko yang ada di tempat itu menenangkan Rachel. Air mata Rachel terus mengalir mengantarkan Dia ke peristirahatan terakhirnya.
```THE END```

di mohon untuk tidak men copy paste apapun dari blog ini.